Pertemuan 9

ILUSTRASI-JURNALTOPIK, TEMA, DAN KERANGKA KARANGAN

A.  Topik dan Judul Karangan

  1. Pengertian Topik

Tiga istilah ini seringkli tumpang tindih. Pada dasarnya ketiga hal ini memilki konsep berbeda. Menurut Finoza (2009: 217-218) topik merupakan pokok pembicaraan, pokok pembahasan, atau masalah yang dibicarakan. Topik karangan merupakan jawaban atas pertanyaan Masalah apa yag akan ditulis? Atau Hendak menulis tentang apa?

Jika seseorang akan mengarang, ia terlebih dahulu memilih dan menetapkan topik karangan. Ciri khas topik terletak pada permasalahannya yang bersifat umum dan belum terurai, harus sesuatu yang nyata atau tidak abstrak. Adapun judul karangan adalah perincian atau penjabaran dari topik. Jika dibandingkan dengan topik, judul lebih spesifik dan sering menyiratkan permasalahan atau variabel yang akan dibahas.

Syarat-syarat memilih topik yang baik antara lain:

  • Topik yang dipilih harus berada di sekitar penulis, baik disekitar pengalaman penulis maupun disekitar pengetahuan penulis.
  • Topik yang dipilih hendaknya yang menarik perhatian penulis
  • Topik yang dipilih berpusat pada suatu segi lingkup yang sempit dan terbatas.
  • Topik yang dipilih memiliki data dan fakta yang objektif, bukan subjektif seperti angan-angan.
  • Topik yang dipilih harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya walaupun serba sedikit. Artinya, topik yang dipilih janganlah terlalu baru bagi penulis.
  • Topik yang dipilih harus memiliki acuan berupa bahan kepustakaan yang akan memberikan informasi tentang pokok persoalan yang akan ditulis.

2.  Pembatasan topik :

  • Menurut tempat

Contoh: Indonesia lebih khusus daripada dunia, pulau jawa lebih khusus daripada tanah air Indonesia, dan sebagainya.

  • Menurut waktu/ periode zaman

Contoh: “Perkembangan Islam” bisa dibatasi “ Perkembangan Islam di Masa Nabi Muhammad SAW”

  • Menurut Hubungan Kausal

Contoh: “Perkembangan Islam” dapat dikhususkan pembahasannya menjadi “Sebabnya Islam Tersiar”

  • Menurut pembagian bidang kehidupan manusia (politik, sosial, ekonomi, agama, kebudayaan, ilmu pengetahuan, kesenian)

Contoh: Topi “ Pembangunan di Indonesia” dapat dibatasi menjadi “ Pembangunan Politik Masa Orde Baru”

  • Menurut aspek umum-khusus

Contoh, Topik “ Pengaruh Kebijaksanaan 15 November 1978 Terhadap Masyarakat” dapat dikhususkan menjadi “ Pengaruh Kebijaksanaan 1978 Terhadap Usaha Kerajinan Rotan di Amuntai”

  • Menurut objek material dan objek formal

Objek material ialah bahan yang dibicarakan, sebagai objek formal ialah dari sudut mana bahan itu ditinjau.

Contoh: “Perkembangan Pers di Indonesia di Tinjau dari Segi Kebebasannya. Perkembangan Pers di Indonesia sebagai objek material, dan di Tinjau dari Segi Kebebasannya adalah objek material.

3.   Adapun sumber-sumber topik bisa melalui sumber pengalaman yaitu apa-apa yang pernah dialami seseorang; sumber pengamatan; sumber imajinasi; sumber pendapat atau hasil penalaran.

 B.  Tema

Syarat-syarat memilih tema yang baik antara lain:

  1. Tema menarik perhatian penulis: dapat membuat seorang penulis berusaha terus-menerus untuk membuat tulisan atau karangan yang berkaitan dengan tema tersebut.
  2. Tema dikenal/diketahui dengan baik : maksudnya pengetahuan umum yang berhubungan dengan tema tersebut sudah dimilki oleh penulis supaya lebih mudah dalam penulisan tulisan/karangan.
  3. Bahan-bahannya dapat diperoleh: sebuah tema yang baik harus dapat dipikirkan apakah bahannya cukup tersedia di sekitar kita atau tidak. Bila cukup tersedia, hal ini memungkinkan penulis untuk dapat memperolehnya kemudian mempelajari dan menguasai sepenuhnya.
  4. Tema dibatasi ruang lingkupnya: tema yang terlampau umum dan luas yang mungkin belum cukup kemampuannya untuk menggarapnya akan lebih bijaksana kalau dibatasi ruang lingkupnya

C.  Judul

Judul terbagi menjadi dua:

  1. Judul langsung : judul yang erat kaitannya dengan bagian utama berita, sehingga hubugannya dengan bagian utama nampak jelas.
  2. Judul tak langsung :  judul yang tidak langsung hubungannya dengan bagian utama berita tapi tetap menjiwai seluruh isi karangan atau berita.

Syarat-syarat memilih judul yang baik antara lain:

  • Harus relevan, yaitu harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut.
  • Harus provokatif, yaitu harus menarik dengan sedemikian rupa sehingga menimbulkan keinginan tahu dari tiap pembaca terhadap isi buku atau karangan.
  • Harus singkat, yaitu tidak boleh mengambil bentuk kalimat atau frasa yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat. Usahakan judul tidak lebih dari lima kata.
  • Harus asli, yaitu Jangan menggunakan judul yang sudah pernah dipakai.
  • Awal kata harus huruf kapital, kecuali preposisi dan konjungsi.
  • Tanpa tanda baca di akhir judul, menarik dan logis

D.  Perbedaan Tema, Topik, dan Judul Karangan

Tema, topik dan judul tak dapat dipisahkan. Tentu saja tema memiliki ruang lingkup lebih luas daripada topik dan ruang lingkup topik lebih luas daripada judul. Jadi tema mewadahi topik dan judul. Untuk lebih jelasnya lihat hirarki dibawah ini :

JUDUL   :   Pemeliharaan Gajah Liar di Wai Kambas (cakupannya sempit)

TOPIK    :   Pelestarian Hewan Langka (lebih luas daripada judul)

TEMA      :   Pelestarian Lingkungan (lebih luas daripada topik)

Perbedaan antara Tema, Topik, dan Judul yaitu

  1. Tema merupakan pokok pemikiran, ide atau gagasan tertentu yang akan disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Tema juga merupakan dasar cerita (yang dipercakapkan-dsb), yang dipakai sebagai dasar mengarang, mengubah sajak,dsb.
  2. Topik merupakan pokok pembicaraan dalam diskusi, ceramah, karangan, dsb. Topik juga merupakan ide sentral yang mengikat keseluruhan uraian, deskripsi, penjelasan, dan seluruh pembuktian.
  3. Judul merupakan kepala karangan (cerita, drama, dsb) atau perincian atau penjabaran dari topik dan judul dapat juga merupakan nama yang dipakai untuk buku atau bab dalam buku yang menyiratkan secara pendek isi buku atau bab.
  4. Topik masih mengandung hal umum, sedangkan tema sudah lebih spesifik dan terarah dalam membahas suatu permasalahan.

E.  Kerangka Karangan

Setelah menentukan topik serta tema yang akan dijadikan karangan, langkah selanjutnya menentukan kerangka karangan. Kerangka karangan menurut Finoza (2009: 223) adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan yang berfungsi untuk mengatur hubungan antara gagasan tersebut. kerangka karangan sangat penting bagi sebuah karangan, karena dengan adanya kerangka karangan paling tidak gagasan yang hendak disampaikan dapat terdokumentasi dengan baik sehingga ketika dalam proses penulisan,  penulis akan terus konsisten terhadap ide dasar yang telah dibuat.

Kerangka karangan berfungsi untuk menghindari suatu pembahasan yang berulang-ulang sehingga bisa saja pembahasan yang sama terulang pada halaman berikutnya. Selain itu, penulis dapat menetapkan ide secara sistematis sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca.

  1. Cara Menulis Kerangka Karangan

Adapun langkah dalam membuat kerangka karangan menurut  Danim (2010: 35)  adalah menjabarkan turunan yang relevan dengan topik yang telah dibuat. Dengan demikian, pembuatan kerangka karangan harus sesuai dengan topik yang terbentuk dari gagasan yang lebih terinci dari topik. Adapun bentuknya adalah subtopik-subtopik dari topik yang akan dibahas.

Untuk membuat kerangka karangan, ada beberapa variasi penyusunan berdasarkan penempatan subtopik. Variasi ini disebut dengan pola kerangka karangan. Dalam penentuan pola kerangka karangan, penulis dituntut cermat dalam memilih pola kerangka karangan, karena ada beberapa pola karangan yang tidak sesuai dengan topik yang telah ditentukan. misalnya topik mengenai sejarah akan lebih baik dibahas dengan pola urutan waktu, dibandingkan dengan pola pemecahan masalah.

Adapun pola kerangka karangan tersiri dari pola alamiah dan pola logis (Keraf, 1994: 136-227). Kedua pola ini terdiri dari dari beberapa subpola lain yang masing-masing memiliki kekhasan tersendiri. Pola alamiah terdiri dari pola urutan waktu dan pola ruang sedangkan pola logis terdiri dari pola sebab- akibat, umum-khusus, klimaks-antiklimaks, dan pemecahan masalah.

  1. Pola Alamiah

Pola ini memiliki dua pola yaitu pola waktu dan urutan ruang. Urutan waktu berarti urutan karangan yang dilandaskan pada tahapan suatu peristiwa atau kejadian. Tahapan peristiwa ini identik dengan penanggalan. Urutan waktu secara eksplisit akan terlihat dengan tahun. Namun demikian, dapat juga menggunakan kata-kata yang merujuk pada waktu dan situasi waktu. Contohnya :

Topik : Perkembangan Bahasa Indonesia

I.      Bahasa Indonesia pada Masa Penjajahan Belanda

II.     Bahasa Indonesia pada Masa Penjajahan Jepang

III.   Bahasa Indonesia pada Masa Orde Lama

IV.   Bahasa Indonesia pada Masa Orde baru

V.    Bahasa Indonesia pada Masa Kini

Pola selanjutnya adalah pola urutan waktu. Pola ini berlandaskan pada ruang. Contohny :

Topik : Sosialisasi Pemilu

I.      Informasi Pemilu di Jawa

            A.   Fakta dan Data rendahnya Sosialisasi Pemilu di Jawa Tengah

1.     Cilacap

2.     Purwokerto

3.     ……………….

           B.       Fakta dan Data Rendahnya Sosialisasi Pemilu di Jawa Barat

1.     Bandung

2.     Garut

3.     ……………

II.     Informasi Pemilu di Sumatera

III. Informasi Pemilu di kalimatan

  1. Pola Logis

Pola logis merupakan pola yang terbentuk dari pikiran pengarang dengan meletakan gagasan serta konsep berdasarkan efek yang ingin dicapainya. Efek tersebut disesuaikan dengan topik yang hendak dibahas. Dalam pola ini terdiri dari beberapa pola lain :

  • Pola sebab akibat

Merupakan pola yang mengawali pembahasannya dengan sebab kemudian disampaikan akibatnya, begitupun sebaliknya akibat terlebih dahulu kemudian disampaikan sebabnya. Contohnya:

Topik : Dampak Pemanasan Global

I.    Penebangan Liar

II.   Efek Rumah Kaca

III.  Polusi Udar

IV.  Banjir dan Longsor sebagai Efek Rumah Kaca

  • Pola klimaks dan antiklimaks

Pola ini adalah pola yang mementingkan bagian penting dari suatu karangan. Jika bagian penting itu disampaikan di akhir, maka polanya disebut  klimaks, sedangkan jika bagian penting diletakan di awal disebut antiklimaks. Contohnya:

Topik : Kemenangan Timnas Sepak Bola Indonesia atas Malaysia

I.     Timnas Sepak bola Kalah dengan Bangga

II.    Timnas Sepak Bola Kalah pada Laga Tandang

III.  Timnas Sepak Bola menang pada Laga kandang

  • Pola Umum khusus

Merupkan pola yang meletakkan topik yang lebih besar untuk kemudian menyampaikan topik yang lebih kecil dan berlaku sebaliknya. Contohnya:

Topik : Menulis

I.           Pengertian Menulis

II.         Fungsi Menulis

III.    Jenis Menulis

IV.    Jenis Menulis

A.      Fiksi

1.      Cerpen

2.      Puisi

3.      Novel

4.      Drama

B.     Non Fiksi

1.      Artikel

2.      Berita

3.      Opini

C.     Karya Ilmiah

V.    Teknik Menulis

  • Pola pemecahan masalah

Pola ini dimulai dengan masalahkemudian disampaikan pemecahannya. Pola ini sering digunakan pada penulisan skripsi yang pada strukturnya berupa pemecahan masalah.

Topik : Polemik Bahasa Alay

           1.    Bahasa Alay Merajalela

1.1   Bahasa dalam Pesan Singkat

1.2   Bahasa dalam Jejaring Sosial

1.2.1   Bahasa Alay di Twitter

1.2.2   Bahasa Alay di Facebook

1.3   Bahasa dalam Tindak Tutur

           2.    Bahasa Alay Merusak Bahasa Indonesia

           3.    Mengembalikan Bahasa Indonesia yang Baik

3.1   Melakukan Penyuluhan

3.1.1  Bahasa Alay hanya untuk Pergaulan

3.1.2  Bahasa Alay tidak Digunakan dalam Forum Resmi

3.2 Mencontohkan bahasa Indonesia yang Baik

           4.    Bahasa Indonesia dan Bahasa Alay Bergandengan

Leave a Reply