Pertemuan 8

diksi-pilihan-kata

A.   Pengertian Diksi

Keterbatasan kosakata yang dimiliki seseorang dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat seseorang  mengalami kesulitan mengungkapkan maksudnya kepada orang lain. Sebaliknya, jika seseorang terlalu berlebihan dalam menggunakan kosa kata, dapat mempersulit diterima dan dipahaminya maksud dari isi pesan yang hendak disampaikan. Oleh karena itu, agar tidak terjadi hal demikian, seseorang harus mengetahui dan memahami bagaimana pemakaian kata dalam komunikasi. Salah satu yang harus dikuasai adalah diksi atau pilihan kata. Menurut Enre (1988: 101) diksi atau pilihan kata adalah penggunaan kata-kata secara tepat untuk mewakili pikiran dan perasaan yang ingin dinyatakan dalam pola suatu kalimat.

Pendapat lain dikemukakan oleh Widyamartaya (1990: 45) yang menjelaskan bahwa diksi atau pilihan kata adalah kemampuan seseorang membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikannya, dan kemampuan tersebut hendaknya disesuaikan dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki sekelompok masyarakat dan pendengar atau pembaca. Diksi atau pilihan kata selalu ketepatan makna dan kesesuaian situasi dan nilai rasa yang ada pada pembaca atau pendengar.

Diksi atau pilihan kata adalah hasil upaya pemilihan kata tertentu untu digunakan dalam suatu tuturan bahasa (Finoza, 2008: 105). Pemilihan kata dilakukan apabila tersedia sejumlah kata yang artinya hampir sama atau mirip. Dari senarai kata itu dipilih satu kata yang paling tepat untuk menungkapkan suatu pengertian. Pemilihan kata tersebut harus cocok dan sesuai dengan konteks di mana kata itu berada, dan maknanya tidak bertentangan dengan nilai rasa masyarakat pemakainnya. Sebagai contoh: kata mati bersinonim dengan kata mampus, wafat, meninggal, mangkat, tewas, gugur, berpulang, kembali ke haribaan Tuhan, dan sebagainya. Kata-kata tersebut tidak dapat bebas digunakan karena ada nilai rasa dan nuansa makna yang membedakannya. Untuk mengatakan seekor kucing mati, kita tidak akan mengatakan Kucing kesayanganku wafat tadi malam. Sebaliknya, kurang tepat jika mengatakan Menteri Fulan mati tadi malam.

Pendapat lain dikemukakan oleh Keraf (1996: 24) yang menurunkan tiga kesimpulan utama mengenai diksi, antara lain sebagai berikut.

  1. Pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan gagasan, bagaimana membentuk pengelompokkan kata-kata yang tepat.
  2. Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan menemukan bentuk yang sesuai atau cocok dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
  3. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan penguasaansejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa.

 B.  Syarat Ketepatan Diksi

Kemahiran memilih kata dimungkinkan apabila sesorang menguasai kosakata yang cukup luas. Seseorang yang menguasai kosakata, selain mengetahui makna kata, ia juga harus memahami perubahan makna. Di samping itu, agar dapat menjadi pemilih kata yang akurat, seseorang harus menguasai sejumlah persyaratan. Persyaratan tersebut menurut Kerap (1994: 88) ada enam, yaitu dapat:

  1. Membedakan antara denotasi dan konotasi

Makna denotatif (makna konseptual) adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit (makna yang sesuai apa adanya). Contohnya kata makan bermakna memasukan sesuatu ke dalam mulut, dikunya, dan ditelan. Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Kata makan dalam makna konotatif dapat berarti untung atau pukul.

  1. Membedakan kata-kata yang hampir bersinonim

Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada dasarnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Lebih mudah dapat dikatakan sinonim merupakan persamaan makna kata. Sinonim ini dipergunakan untuk mengalih-alihkan pemakaian kata pada tempat tertentu sehingga kalimat itu tidak membosankan. Dalam pemakaiannya bentuk-bentuk kata yang bersinonim akan menghidupkan bahasa seseorang dan mengkonkretkan bahasa seseorang sehingga kejelasan komunkasi akan terwujud. Dalam hal ini, pemakai bahasa dapat memilih bentuk kata mana yang paling tepat untuk dipergunakannya, sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dihadapinya.Sebagai contoh kata cerdas dan cerdik. Kedua kata tersebut bersinonim, tetapi tidak persis sama benar. Kata-kata lain yang bersinonim ialah agung, besar, raya; mati mangkat, wafat, meninggal; cahaya, sinar; ilmu, pengetahuan; penelitian , penyelidikan.

Seorang mahasiswa harus memiliki stok banyak tentang bentuk kebahasaan. Semakin banyak perbendaharaan kata bersinonim, akan makin mudah karya ilmiah itu dihasilkan. Kelemahan seorang dalam menulis biasanya karena stok atau persediaan kebahasaan yang dimilkinya tidak memadai. Oleh karena itu, ia mengatakan ‘menulis’ karya ilmiah itu sulit, tidak gampang, dan seterusnya.

  1. Membedakan kata-kata yang hampir mirip dalam ejaan

Contoh:

Intensif – insentif

Interferensi – inferensi

Preposisi – proposisis

  1. Memahami dengan tepat makna kata-kata abstrak

Kata yang acuannya semakin mudah diserap pancaindra disebut kata konkret, seperti meja, rumah, mobil. Jika acuan sebuah kata tidak mudah diserap pancaindra, kata itu disebut kata abstrak seperti gagasan dan perdamaian. Kata abstrak dignakan untuk mengungkapkan gagasan rumit.

  1. Memakai kata penghubung yang berpasangan dengan tepat

Beberapa contoh kata penghubung  berpasangan ialah

Pasangan yang salah

Pasangan yang benar

antara … dengan …

tidak … melainkan …

baik … ataupun …

bukan … melainkan …

antara … dan …

tidak … tetapi …

baik … maupun …

bukan … melainkan …

6.   Membedakan antara kata-kata yang umum dan kata-kata yang khusus

Kata umum adalah kata yang acuannya lebih luas, seperti kata ikan memiliki acuan yang lebih luas karena kata ikan terdiri atas beberapa macam seperti gurame, emas, nila. Kata yang acuannya lebih khusus disebut kata khusus seperti gurame, tawes, nila, dan emas.

C.   Beberapa Penerapan Diksi

Sebuah kata dikatakan baik kalau tepat arti dan tepat tempatnya, seksama dalam pengungkapan, lazim, dan sesuai dengan kaidah ejaan. Beberapa contoh pemakaian diksi:

  1. Kata masing-masing dan tiap-tiap tidak sama dalam pemakaiannya.

Kata tiap-tiapharus diikuti kata benda, sedangkan kata masing-masing tidak boleh diikuti kata benda.

Contoh yang benar:

Tiap-tiap kelompok terdiri atas lima orang. (kelompok = kata benda)

Masing-masing mengemukakan pendapatnya. (mengemukakan = kata kerja)

  1. Pemakaian kata dan lain-lain harus dipertimbangkan secara cermat. Kata dan lain-lain sama kedudukannya dengan seperti, antara lain, misalnya.

Contoh :

Bentuk yang salah

Dalam ruang itu kita dapat menemukan barang-barangseperti, meja, buku, bangku, dan lain-lain.

Bentuk yang benar

  • Dalam ruang itu kita dapat menemukan meja, buku, bangku, dan lain-lain.
  • Dalam ruang itu kita dapat menemukan barang-barang seperti, meja, buku, dan bangku.
  • Pemakaian pukul dan jam harus dilakukan secara tepat. Kata pukul menunjukkan waktu, sedangkan kata jam menunjukkan jangka waktu.

Misalnya:

Perkuliahan bahasa Indonesia berlangsung selama dua jam, yaitu dari jam 8.00 s.d. 10.00 WIB. (Salah)

Perkuliahan bahasa Indonesia berlangsung selama dua jam, yaitu dari pukul 8.00 s.d. 10.00 WIB. (Benar)

D.  Kesalahan Pembentukan dan Pemilihan Kata

Berikut kesalahan pembentukan kata yang biasa ditemukan, baik dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis.

  1. Penanggalan Awalan meng-

Penanggalan awalan meng- pada judul berita dalam surat kabar diperbolehkan. Namun, dalam teks beritanya awalan meng- harus eksplisit. Di bawah ini diperlihatkan bentuk yang salah dan bentuk yang benar

Contoh:

  • Amerika Serikat luncurkan pesawat bolak-balik Columbia. (Salah)
  • Amerika Serikat meluncurkan pesawat bolak-balik Columbia. (Benar)
  1. Penggalan Awalan ber-

Kata-kata yang berawalan ber- sering menanggalkan awalan ber-. Padahal, awalan ber harus dieksplisitkan secara jelas. Di bawah ini dapat dilihat bentuk salah dan benar dalam pemakaiannya.

  • Pendapat saya beda dengan pendapatnya. (Salah)
  • Pendapat saya berbeda dengan pendapatnya. (Benar)
  • Kalau Saudara tidak keberatan, saya akan meminta saran Saudara tentang penyusunan proposal penelitian. (Salah)
  • Kalau Saudara tidak berkeberatan, saya akan meminta saran Saudara tentang penyusunan proposal penelitian. (Benar)
  1. Peluluhan bunyi /c/

Kata dasar yang diawali bunyi /c/ sering menjadi luluh apabila mendapat awalan meng-. Padahal, sesungguhnya bunyi /c/ tidak luluh apabila mendapat awalan meng-.Dibawah ini diperlihatkan bentuk salah dan bentuk benar,

  • Eka lebih menyintai Boby daripada menyintai Roy. (Salah)
  • Eka lebih mencintai Boby daripada menyintai Roy. (Benar)
  1. Penyengauan Kata Dasar

Penyengauan kata dasar ini sebenarnya adalah ragam lisan yang dipakai dalam ragam tulis. Akhirnya, pencampuradukan antara ragam lisan dan ragam tulis menimbulkan suatu bentuk kata yang salah dalam pemakaian. Kita sering menemukan penggunaan kata-kata, mandang, ngail, ngantuk, nabrak, nanam, nulis, nyubit, ngepung, nolak, nyabut, nyuap, dan nyari. Dalam bahasa Indonesia baku tulis, kita harus menggunakan kata-kata memandang, mengail, mengantuk, menabrak, menyuap, dan mencari.

  1. Bunyi /s/, /k/, /p/, dan /t/ yang Berimbuhan meng- / peng-

Kata dasar yang bunyi awalnya /s/, /k/, /p/, atau /t/ sering tidak luluh jika mendapat awalan meng- atau peng-. Padahal, menurut kaidah baku bunyi-bunyi itu harus lebur menjadi bunyi sengau. Contoh :

  • Eksistensi Indonesia sebagai Negara pensuplai minyak sebaiknya dipertahakan. (Salah)
  • Eksistensi Indonesia sebagai Negara penyuplai minyak sebaiknya dipertahakan. (Benar)
  • Semua warga negara harus mentaati peraturan yang berlaku. (Salah)
  • Semua warga negara harus menaati peraturan yang berlaku. (Benar)

Kaidah peluluhan bunyi s, k, p dan t tidak berlaku pada kata-kata yang dibentuk dengan gugus konsonan. Kata traktor apabila dineri berawalan meng-, kata ini akan menjadi mentraktor bukan menraktor.

  1. Awalan ke- yang Keliru

Pada kenyataan sehari-hari, kata-kata yang seharusnya berawalan ter- sering diberi berawalan ke-. Hal itu disebabkan oleh kekurangcermatan dalam memilih awalan yang tepat. Contoh :

  • Mengapa kamu ketawa terus? (Salah)
  • Mengapa kamu tertawa terus? (Benar)
  • Dompet saya tidak kebawa karena waktu berangkat, saya tergesa-gesa. (Salah)
  • Dompet saya tidak terbawa karena waktu berangkat, saya tergesa-gesa. (Benar)

Perlu diketahui bahwa awalan ke- hanya dapat menempel pada kata bilangan. Selain di depan kata bilangan, awalan ke- tidak dapat dipakai.

  1. Pemakaian Akhiran –ir

Pemakaian akhiran ­–ir sangat produktif dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari. Padahal, dalam bahasa Indonesia baku, untuk padanan akhiran –ir adalah –asi atau –isasi. Contoh :

  • Saya sanggup mengkoordinir kegiatan itu. (Salah)
  • Saya sanggup mengkoordinasi kegiatan itu. (Benar)
  • Soekarno-Hatta memproklamirkan Negara Republik Indonesia. (Salah)
  • Soekarno-Hatta memproklamasikan Negara Republik Indonesia. (Benar)

8.   Padanan yang Tidak Serasi

Karena pemakai bahasa kurang cermat memilih padanan kata yang serasi, yang muncul dalam pembicaraan sehari-hari adalah padanan yang tidak sepadan atau tidak serasi. Hal itu terjadi karena dua kaidah bahasa bersilang, atau bergabung dalam kalimat.

Contoh :

  • Karena modal di bank terbatas sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit. (Salah)
  • Karena modal di bank terbatas, tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit. (Benar)
  • Modal di bank terbatas sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit. (Benar)
  • Apabila pada hari itu saya berhalangan hadir, maka rapat akan dipimpin oleh Sdr. Daud. (Salah)
  • Apabila pada hari itu saya berhalangan hadir, rapat akan dipimpin oleh Sdr. Daud. (Benar)
  • Pada hari itu saya berhalangan hadir, maka rapat akan dipimpin oleh Sdr. Daud. (Benar)
  1. Pemakaian Akronim (Singkatan)

Yang dimaksud dengan bentuk singkat ialah kontraksi bentuk kata sebagaimana dipakai dalam ucapan cepat, seperti lab (laboratorium), memo (memorandum), demo (demonstrasi), dan lain-lain. Pemakaian akronim dan singkatan dalam Bahasa Indonesia terkadang tidak teratur. Singkatan IBF mempunyai dua makna, yaitu Internasional Boxing Federation dan Internasional Badminton Federation.Oleh karena itu, agar tidak terjadi kekeliruan bila hendak dipergunakan bentuk akronim atau singkatan dalam suatu akronim atau singkatan dalam suatu artikel serta sejenis itu, akronim atau singkatan lebih baik didahului oleh bentuk lengkapnya.

  1. Penggunaan Kesimpulan, Keputusan, Penalaran, dan Pemukiman

 Kata-kata kesimpulan bersaing pemakaiannya dengan kata simpulan; kata keputusan bersaing pemakaiannya dengan kata putusan; kata pemukiman bersaing dengan kata permukiman; kata penalaran bersaing dengan kata pernalaran. Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia sebenarnya mengikuti pola yang rapi dan konsisten. Jika diperhatikan bentukan-bentukan kata itu memiliki hubungan atau korelasi antara yang satu dan yang lain. Perhatikan, misalnya verba (kata dasa) yang berawalan meng- dapat dibentuk menjadi nomina yang bermakna ‘proses’ yang berimbuhan peng-an, dan dapat dibentuk menjadi nomina yang bermakna ‘hasil’ yang berimbuhan –an. Perhatikan keteraturan pembentukan kata berikut:

Verba Dasar

Verba Aktif

Pelaku

Proses

Hasil/yang di

Tulis

Pilih

Bawa

Pukul

Putus

Simpul

Ringkas

Menulis

Memilih

Membawa

Memukul

Memutuskan

Menyimpulkan

Meringkas

Penulis

Pemilih

Pembawa

Pemukul

Pemutus

Penyimpul

Peringkas

Penulisan

Pemilihan

Pembawaan

Pemukulan

Pemutusan

Penyimpulan

Peringkasan

Tulisan

Pilihan

Bawaan

Pukulan

Putusan

Simpulan

ringkasan

11.  Penggunaan Kata yang Hemat

Salah satu cirri pemakaian bahasa yang efektif adalah pemakaian bahasa yang hemat kata, tetapi padat isi. Namun dalam komunikasi sehari-hari sering dijumpai pemakaian kata yang tidak hemat (boros). Berikut daftar kata yang sering digunakan tidak hemat.

Boros

Hemat

1.     Sejak dari

2.     Agar supaya

3.     Demi untuk

4.     Adalah merupakan

5.     Seperti … dan sebagainya

6.     Misalnya … dan lain-lain

7.     Antara lain … dan seterusnya

8.     Daftar nama-nama peserta

9.     Dalam rangka untk mencapai tujuan

1.     Sejak atau dari

2.     Agar atau supaya

3.     Demi atau untuk

4.     Adalah atau merupakan

5.     Seperti atau dan sebagainya

6.     Misalnya atau dan seterusnya

7.     Antara lain atau dan seterusnya

8.     Daftar nama peserta

9.     Untuk mencapai tujuan

Leave a Reply