Pertemuan 6

buku5

PEMBENTUKAN PARAGRAF YANG PADU

A.   Pengertian Paragraf

Paragraf adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan kalimat (Finoza, 2005: 149). Penggabungan kalimat tersebut membicarakan suatu gagasan atau topik. Seluruh kalimat memperbincangkan satu masalah atau sekurang-kurangnya bertalian erat dengan masalah tersebut.

Sebuah paragraf ditandai dengan memulai kalimat pertama agak menjorok ke dalam, kira-kira dua sentimeter. Selain itu, dapat menambahkan tanda sebuah paragraf dengan memberikan jarak agak renggang dari paragraf sebelumnya. Dengan demikian, memudahkan para pembaca dalam melihat permulaan  tiap paragraf.

 B.  Struktur Sebuah Paragraf

Struktur atau rangka sebuah paragraf terdiri atas sebuah kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Kalimat  topik adalah kalimat yang berisi topik atau inti pembicaraan yang dibicarakan pengarang. Karena topik paragraf adalah pikiran utama dalam sebuah paragraf, maka kalimat topik merupakan kalimat utama dalam paragraf itu.

1.  Ciri kalimat utama, yaitu

  • Sebagai contoh “David Beckham adalah pemain sepak bola yang sukses” adalah kalimat utama yang dijelaskan lebih lanjut apa saja yang membuktikan bahwa David Beckham seorang yang sukses.
  • Kalimat yang dibuat harus mengandung permasalahan yang berpotensi untuk diperinci atau diuraikan lebih lanjut.
  • Kalimat lengkap yangd apat berdiri sendiri
  • Tanpa memerlukan kata penghubung, baik kata penghubung intrakalimat maupun kata penghubung antarkalimat.

2.  Ciri kalimat penjelas:

  • Kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri (dari segi arti);
  • Kalimat ini kadang-kadang baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain dalam satu paragraf;
  • Sering memerlukan bantuan kata penghubung;
  • Isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data tambahan lain yang bersifat mendukung kalimat topik.

 C.  Fungsi dan Syarat-syarat Pembentukan Paragraf

  1. Fungsi Paragraf : paragraf dibuuat oleh pengarang tentunya memiliki beberapa fungsi yang akan memudahkan pengaran membuat tulisan. Adapun fungsi pembentukan paragraf sebagai berikut:
  • Menandai pembukaan atau awal ide/gagasan baru;
  • Mengembangkan lebih lanjut tentang ide sebelumnya;
  • Menegaskan terhadap gagasan yang diungkapkan terlbih dahulu. (Niknik, 2010: 154)
  1. Syarat-syarat Pembentukan Paragraf : Paragraf yang baik harus memiliki lima ketentuan, yaitu kesatuan paragraf, kepaduan paragraf, keruntutan paragraf, ketuntasan paragraf, dan kesamaan sudut pandang paragraf.

a.  Kesatuan Paragraf

Dalam sebuah paragraf terdapat hanya satu pokok pikiran yang diwujudkan dalam kalimat utama. Oleh karena itu, kalimat-kalimat yang membentuk paragraf  harus ditata secara cermat agar tidak ada satu pun kalimat yang menympang dari ide pokok paragraf itu.  Kalau ada kalimat yang menyimpang dari pokok pikiran paragraf itu, paragraf menjadi tidak beertautan dan tidak utuh.

Perhatikan paragraf berikut:

Jateng sukses. Kata-kata ini meluncur gembira dari pelatih regu Jateng setelah selesai pertandingan final Kejurnas Tinju Amatir, Minggu malam, di Gedung Olahraga Jateng, Semarang. Kota Semarang terdapat di pantai utara Pulau Jawa, Ibu Kota Provinsi Jateng. Pernyataan itu dianggap wajar karena apa yang dimpi-impikan selama ini dapat terwujud, yaitu satu medali emas, satu medali perak, dan satu medali perunggu. Hal itu ditambah lagi oleh pilihan petinju terbaik yang jatuh ke tangan Jateng. Hasil yang diperoleh itu adalah prestasi paling tinggi yang pernah diraih oleh Jateng dalam arena seperti itu..

b.   Kepaduan Paragraf

Kepaduan paragraf dapat terlihat melalui penyususnan kalimat secara logis dan padu. Agar kalimat bertahan secara logis dan padu dengan menggunakan

  • kata penghubung, baik kata penghubung intrakalimat maupun kata penghubung intrakalimat.

Kata penghubung intrakalimat adalah kata yang menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat. Contohnya : karena, sehingga, tetapi, sedangkan, apabila, jika, maka, dan lain-lain.

Kata penghubung antarkalimat adalah kata yang menhubungkan kalimat yang satu dengan yang lainnya. Contohnya: oleh karena itu, jadi, kemudian, namun, selanjutnya, bahkan, dan lain-lain. Contoh paragraf yang padu.

Di Pulau Jawa, Bali, Madura, dan Lombok kelebihan tenaga kerja sedangkan di pulau lain kekurangan. Oleh sebab itu, sebagian tenaga kerja dari keempat pulau tersebut dipindahkan ke pulau-pulau lain yang kekurangan tenaga kerja. Dengan demikian, akan terjadi pemerataan tenaga kerja di Indonesia.

Contoh paragraf yang tidak padu:

Sudah tidak dipungkiri dalam kehidupan manusia, kebutuhan air minum merupakan faktor utama. Di berbagai belahan bumi peningkatan kesehatan sangatlah berhubungan  erat dengan masalah air minum. Secara ilmiah sumber air minum yang terdapat dalam belahan bumi yang beriklim empat musim dapat dikategorikan lebih baik, namun daerah yang beriklim dua musim sangat dilema, terutama di Indonesia yang sampai saat ini masih sulit mendapatkan standar kualitas air minum yang baik.

  • Kata ganti
  • Kata kunci

Contoh:

Syarat paragraf yang baik adalah adanya kesatuan. Kesatuan berarti setiap paragraf hanya mengandung satu pokok pikiran. Pokok pikiran diwujudkan dalam kalimat utama. Kalimat utama diletakan di awal paragraf (deduktif) atau di akhir paragraf (induktif).

 D.  Jenis-jenis Paragraf

  1. Menurut Posisi Kalimat Topik

Berdasarkan posisi kalimat topik, paragraf dibedakan atas empat macam, yaitu (1) paragraf deduktif, yaitu paragraf yang meletakkan kalimat topik pada awal paragraf; (2) paragraf induktif, yaitu paragraf yang meletakkan kalimat topik di akhir paragraf; (3) paragraf campuran, yaitu paragraf yang meletakkan kalimat pokok di awal dan di akhir paragraf. Kalimat pada akhir paragraf umumnya menegaskan kembali gagasan utama yang terdapat pada awal paragraf; (4) paragraf penuh kalimat topik, yaitu seluruh kalimat yang membangun paragraf sama pentingnya sehingga tidak satu pun kalimat khusus menjadi kalimat topik karena kalimat yang satu dengan yang lainnya sama penting.

  1. Menurut Sifat Isinya

Berdasarkan sifat isinya, paragraf digolongkan atas lima macam, yaitu

  • Paragraf persuatif, yaitu paragraf yang berisi mempromosikan sesuatu dengan cara mempengaruhi atau mengajak pembaca agar melakukan sesuatu.
  • Paragraf argumentati, yaitu paragraf yang mengemukakan suatu pendapat beserta alasannya.
  • Paragraf naratif, yaitu paragraf yang menceritakan atau mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa. Bentuk ini mementingkan urutan kejadian dan tokoh (Sudarno, 1997: 117)
  • Paragraf deskriptif, yaitu paragraf yang menggambarkan suatu objek sehingga pembaca seakan bisa melihat, mendengar, atau merasakan objek yang digambarkan itu. Objek yang dideskripsikan dapat berupa orang, benda, atau tempat. Cirinya ada objek yang digambarkan.
  • Paragraf eksposisi, yaitu paragraf yang menginformasikan suatu teori, teknik, kiat, atau petunjuk sehingga orang yang membacanya akan bertambah wawasannya. Cirinya ada informasi.

3.   Menurut Fungsinya dalam Karangan

Berdasarkan fungsinya dalam karangan, paragrraf dibedakan atas tiga macam, yaitu

  • Paragraf Pengembang.  Paragraf pengembang bertujuan untuk mengembangkan pokok pembicaraan suatu karangan yang sebelumnya telah dirumuskan di paragraf pembuka. Isi dari paragraf pengembang diantaranya, contoh-contoh dan ilustrasi, inti permasalahan, dan uraian pembahasan. Paragraf pengembang di dalam karangan berfungsi untuk:  1) Mengemukakan inti persoalan; 2) Memberi ilustrasi dan contoh; 3) Menjelaskan hal yang akan diuraikn pada paragraf berikutnya; 4) Meringkas paragraf sebelumnya; 5) Mempersiapkan dasar atau landasan bagi simpulan.
  • Paragraf Pembuka : Isi paragraf pembuka bertujuan mengutarakan suatu aspek pokok pembicaraan dalam karanagan. Paragraf pembuka berfungsi untuk 1) menghantar pokok pembicaraan; 2) menarik miat dan perhatian pembaca; 3) menyiapkan atau menata pikiran pembaca untuk mengetahui isi seluruh karangan.
  • Paragraf Penutup :  Paragraf penutup berisi simpulan bagian karangan (subbab, bab) atau simpulan seluruh karangan. Paragraf ini merupakan ernyataan kembali maksud penulis agar lebih jelas.

E.   Pengembangan Paragraf

Paragraf dapat dikembangkan dengan cara pertentangan, perbandingan, analogi, contoh, sebab akibat, definisi, dan klasifikasi. Dalam praktik mengarang, ketuju cara tersebut dapat digunakan silih berganti sesuai keperluan penulisnya. Jika hendak membuat definisi pakailah cara definisi; jika akan menerangkan proses, pakailah cara proses; jika akan menganalisis, pakailah cara sebab akibat; dan seterusnya.

1.  Cara pertentangan

Pengembangan paragraf dengan cara pertentangan biasanya menggunakan ungkapan-ungkapan seperti berbeda dengan, bertentangan dengan, sedangkan, lain halnya dengan, akan tetapi.

2.  Cara perbandingan

Pengembangan paragraf dengan cara perbandingan biasanya menggunakan ungkapan-ungkapan seperti serupa dengan, seperti halnya, demikian juga, sama dengan, sejalan dengan, akan tetapi, sedangkan, dan sementara itu.

3.  Cara analogi

Analogi adalah bentuk pengungkapan suatu objek yang dijelaskan dengan objek lain yang memiliki kesamaan atau kemiripan. Biasanya dialakukan dengan bantuan kiasan. Kata-kata yang digunakan yaitu ibaratnya, seperti, dan bagaikan.

4.  Cara contoh

Kata seperti, misalnya, contohnya, dan lain-lain adalah ungkapan-ungkapan dalam pengembangan paragraf dengan contoh.

5.  Cara sebab akibat

Pengembangan paragraf dengan cara sebab akibat dilakukan jika menerangkan suatu kejadian, baik dari segi penyebab maupun dari segi akibat. Ungkapan yang digunakan yaitu padahal, akibatnya, oleh karena itu, dan karena.

6.  Cara definisi

Yang dimaksud dengan definisi adalah usaha penulis untuk menerangkan pengertian atau konsep istilah tertentu.Adalah, yaitu, ialah merupakan kata-kata yang digunakan dalam mengembangkan paragraf dengan cara definis. Kata adalah biasanya digunakan jika sesuatu yang akan didefinisikan diawali dengan kata benda, yaitu digunakan jika sesuatu yang akan didefinisikan diawali dengan kata kerja atau sifat. Jika akan menjelaskan sinonim suatu hal, kata ialah digunakan dan jika akan mendefinisikan pengertian rupa atau wujud, kata merupakan yang dipakai.

Contoh:

Apakah psikologi itu? R.S. Woodwort berpendapat, “ Psikologi ialah ilmu jiwa,” sedangkan menurut Crow dan Crow “Psikologi adalah kejiwaan manusia dalm berinteraki dengan dunia sekitar”. Sementara itu, Santian mengemukakan bahwa psikologi merupakan perwujudan tingkah laku manusia.

7.  Cara klasifikasi

Cara klasifikasi adalah pengembangan paragraf melalui pengelompokan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Kata-kata atau ungkapan yang lazim digunakan yaitu dibagi menjadi, digolongkan menjadi, terbagi menjadi.

 

Leave a Reply