Pertemuan 4

BAHASA INDONESIA MILIK KITAPERKEMBANGAN EJAAN DI INDONESIA

A. Pengertian Ejaan

Yang dimaksud ejaan menurut Zaenal Arifin dan Amran Tasai (2012: 27) adalah “Keseluruhan perangkat aturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antar lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa).” Secara teknis dapat dikatakan bahwa ejaan merupakan cara untuk mengatur penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan pemakaian tanda baca. Lamuddin Finoza mengatakan ejaan adalah “ Seperangkat aturan atau kaedah pelambangan bunyi bahasa-pemisahan, penggabungan, dan penulisan-dalam suatu bahasa”.
Ejaan merupakan kaedah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa terutama dalam bahasa tulis demi keteraturan dan keseragaman bentuk. Keseragaman bentuk ini akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Jadi, ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya.

B. Fungsi EYD

Adapun fungsi ejaan sebagai berikut:
1. Sebagai landasan pembakuan tata bahasa.
2. Landasan pembakuan kosakata dan peristilahan.
3. Alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia.

C. Perkembangan Ejaan dari Ejaan Van Ophuisjen hingga EYD

Perkembangan Ejaan di Indonesia mengalami beberapa perubahan mulai dari Ejaan van Ophuijsen hingga EYD. Berikut penjelasan perubahan ejaan yang pernah berlaku di Indonesia:

1. Ejaan van Ophuijsen

Perkembangan ejaan di Indonesia di awali dengan Ejaan van Ophuijsen. Van Ophuijsen (nama seorang guru besar Belanda yang juga pemerhati bahasa) merancang ejaan itu dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim . Ejaan van Ophuijsen ditetapkan sebagai ejaan bahasa Melayu pada 1901 dengan huruf Latin oleh Pemerintah Belanda yang berkuasa di Indonesia pada masa itu. Ejaan van Ophuijsen dipakai selaama 46 tahun, lebih lama dari Ejaan Republik dan baru diganti setelah dua tahun Indonesia merdeka. Ciri khas yang meninjol dalam Ejaan van Ophuijsen sebagai berikut:

  • Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
  • Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
  • Tanda diakritik, seperti koma, ain, dan tanda trema untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, ta’, dinamai’.

2. Ejaan Soewandi

Setelah mengalami perkembangan kedudukan Ejaan van Ophuijsen tergantikan oleh Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia) ditetapkan pada 19 maret 1947. Ejaan Soewandi dipakai selama dua puluh lima tahun. Adapun Ciri yang menonjol dari Ejaan Soewandi adalah.

  • Huruf oe diganti dengan u, seperti pada penulisan kata guru, itu, umur.
  • Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada penulisan kata tak, pak, maklum, rakjat.
  • Kata ulang boleh ditulis dengan angka-2, seperti pada penulisan kata anak2, berjalan2, ke-barat2-an.
  • Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti pada penulisan kata depan dirumah, dikebun, disamakan dengan penulisan imbuhan di- pada kata ditulis dan dikarang.

3. Ejaan Pembaharuan

Ejaan Pembaharuan disusun oleh Priyono dan Katopo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan kebudayaan Nomor : 48/s, tanggal 19 Juli 1956. Hal yang menarik dalam Ejaan Pembaharuann sebagai berikut:
a. Gabungan konsonan dj diubah menjadi j
b. Gabungan konsonan tj diubah menjadits
c. Gabungan konsonan ng diubah menjadi n
d. Gabungan konsonan nj diubah menjadi ny
e. Gabungan konsonan sj diubah menjadi sy
f. Gabungan konsonan jai diubah menjadi ai
g. Gabungan konsonan au diubah menjadi aw
h. Gabungan konsonan oi diubah menjadi oy

4. Ejaan Melindo

Pada akhir 1959sidang perutusan Indonesia dan melayu (Slamet Mulyana –Indonesia dan Syeh Nasir bin Ismail – Malaysia) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo(Melayu- Indonesia). Ejaan Melindo gagal diresmikan dan diberlakukan karena pada saat itu terjadi ketegangan politik antara Indonesia dengan Malaysa.

5. Ejaan baru (Ejaan LBK)

Ejaan baru (Ejaan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan) bersama P3B (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan kebudayaan No. 062/67,19 September 1967. Perubahan yang terdapat dalam Ejaan baru (Ejaan LBK) sebagai berikut:
a. Huruf dj —- j seperti pada kata remadja —- remaja
b. Huruf tj —- c seperti pada kata batja —- baca
c. Huruf nj —- ny seperti pada kata bunji —- bunyi
d. Huruf sj —- sy seperti pada kata sjarat —- syarat
e. Huruf ch —- kh seperti pada kata machluk —- makhluk
f. Huruf e’ —- e seperti pada kata ekor —- ekor
g. Huruf j —- y seperti pada kata partjaja —- percaya

6. EYD

Pada 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian ejaan bahasa indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan sebagai patokan pemakaian ejaan.
Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubuungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan sebagai berikut:

  • Perubahan Huruf
Ejaan SoewandiEYD
dj .... djalan, djauh
j .... pajung, laju
nj .... njonja
sj .... isjarat,masjarakat
tj .... tjucup, tjutji
ch ... achir
j .... jalan, jauh
y .... payung, layu
ny .... nyonya, bunyi
sy .... syarat,masyarakat
c .... cukup, cuci
kh .... akhir
  •  Huruf-huruf di bawah ini yang sebelumnya sudah terdapat dalam Ejaan Soewandi sebagai unsur pinjaman abjad asing diresmikan pemakaiannya. Seperti huruf f (maaf, fakir), huruf v (valuta, universitas), dan huruf z (zikir, lezat)
  • Huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai. Seperti a : b = p : q, sinar-X
  • Penulisan di- atau ke- sebagai awalan dan di atau ke sebagai kata depan dibedakan, yaitu di- atau ke- sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan di atau ke sebagai kata depan ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya.
    di- (awalan) di (kata depan)
    ditulis di kampus
    dibakar di rumah
    dilempar di jalan
  • Kata ulang ditulis penuh dengan huruf, tidak boleh digunakan angka 2.
    Anak-anak, berjalan-jalan, melompat-lompat.
    Untuk lebih memahami ejaan, berikut kutipan aturan berbahasa yang terangkum dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan yang dikeluarkan ulang pada 2005 oleh Pusat Badan Departemen Pendidikan Nasional melalui penerbit Balai Pustaka. Ejaan ini berbicara tentang (1) pemakaian huruf, (2) penulisan huruf, (3) penulisan kata, (4) penulisan unsur-unsur serapan, dan (5) pemakaian tanda baca.

I. PEMAKAIAN HURUF
A. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut. Nama huruf disertakan di sebelahnya.

B.  Huruf Vokal

Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u

Huruf
Vokal

Contoh
Pemakaian dalam Kata

Di Awal

Di Tengah

Di Akhir

A

e*

 

i

o

u

api

enak

emas

itu

oleh

ulang

padi

petak

kena

simpan

kota

bumi

lusa

sore

tipe

murni

radio

ibu

  • Dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata menimbulkankeraguan. Misalnya:

Anak-anak bermain diteras(téras).

Upacara itu dihadiri pejabat terasp emerintah.

Kami menonoton film seri(séri).

Pertandingan iru berakhir seri.

C.  Huruf Konsonan

Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d,f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y,dan z

D.   Huruf diftong

Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan denganai, au,dan oi.

Huruf
Diftong

Contoh
Pemakaian dalam Kata

Di Awal

Di Tengah

Di Akhir

ai

au

oi

ain

aula

syaitan

saudara

boikot

pandai

harimau

amboi

E.   Gabungan Huruf Konsonan

Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan,yaitukh, ng, ny,dansy.Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan yaitu kh, ng, ny, dan sy.

Huruf Diftong

Contoh Penggunaan dalam
Kata

Di Awal

Di Tengah

Di Akhir

kh

khusu

akhir

tarikh

ng

ngilu

bangun

senang

ny

nyata

hanyut

sy

syarat

isyarat

F.   Pemenggalan Kata

1.    Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.

  • Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itudilakukan di antara kedua huruf vokal itu.

Misalnya:

au-la              bukan        a-u-la

sau-dara      bukan       sa-u-da-ra

am-boi        bukan         am-bo-i

  • Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan hurufkonsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukansebelum huruf konsonan.

Misalnya:

ba-pak, ba-rang, su-lit,

la-wan, de-ngan,

ke-nyang, mu-ta-khir

  •  Jikan di tengah ada dua huruf konsonan yang berurutan, pemenggalandilakukan di antara kedua huruf konsonan itu. gabungan hurufkonsonan tidak pernah diceraikan.

Misalnya:

man-di, som-bong, swas-ta, ca-plok Ap-ril, bang-sa, makh-luk

  • Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih,pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama danhuruf konsonan yang kedua.

Misalnya:

in-stru-men, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trok ikh-las

2.  Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.

Misalnya:

makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah

Catatan:

  • Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.
  • Akhiran –itidak dipenggal. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 1.)
  • Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan sebagai berikut.

            Misalnya: te-lun-juk, si-nam-bung, ge-li-gi

 3.   Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan (1) di antara unsur-unsur itu atau (2)pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah 1a, 1b, 1c dan 1d di atas.

Misalnya:

Bio-grafi, bi-o-gra-fi

Foto-grafi, fo-to-gra-fi

Intro-speksi, in-tro-spek-si

Kilo-gram, ki-lo-gram

Pasca-panen, pas-ca-pa

Keterangan:

Nama orang, badan hukum, dan nama dari yang lain disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kecuali jika ada pertimbangan khusus.

I.  PEMAKAIAN HURUF KAPITAL DAN HURUF MIRING

A.    Huruf Kapital atau Huruf Besar

1.    Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai unsur pertama kata pada awal kalimat.

        Misalnya:

Dia mengantuk.

Apa maksudnya?

Kita harus beker keras.

2.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Misalnya:         Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”

3.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan Kitab Suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.

Misalnya:

 Allah, Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen. Tuhan akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya, Bimbinglah hamba-Mu, yaTuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.

4.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.

Misalnya:

Mahaputra Yamin, Sultan Hasanuddin, Haji Agus Salim, Imam Syafii, Nabi Ibrahim.

  • Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat, kehormatan, keturrunan, dan keagamaan  yang tidak diikuti nama orang

Misalnya:

Ia baru saja diangkat menjdi sultan.

Tahun ini dia pergi naikhaji.

5.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya:

Wakil Presiden Adam Malik, Perdana Menteri Nehru, Profesor Supomo, Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara, SekretarisJenderal Departemen Pertanian, Gubernur Irian Jaya.

  • Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidakdiikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.

Misalnya:

Siapakahgubernur yang baru dilantik itu?

Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadimayorjenderal.

6.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.

Misalnya:

AmirHamzah,Dewi Sartika, Wage Rudolf Supratman.

  • Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagainama jenis atau satuan ukuran.

Misalnya:

Mesin diesel, 10 volt, 5a mpere

7.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.

Misalnya:

Bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris

  • Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.

Misalnya:

Mengindonesiakan kata asing

Keinggris-inggrisan

8.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya,, dan peristiwa sejarah.

Misalnya:

Tahun Hijriah, Masehi, bulan Agustus, bulan Maulid, hariJumat, hari Galungan, hari Lebaran, hari Natal, Perang  Candu,Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

  • Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipkai  sebagai nama.

Misalnya:

Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya.

Perlombaan senjata membawa resiko pecahnya perang dunia.

10.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.

Misalnya:

Asia Tenggara, Banyuwangi, Bukit Barisan, Cirebon, Danau Toba, Dataran Tinggi Dieng,Gunung Semeru, Jalan Diponegoro, Jazirah Arab, Kali Brantas, Lembah Baliem, Ngarai Sianok, Pegunungan Jayawijaya, Selat Lombok, Tanjung  Harapan, Teluk Benggala, Terusan Suez.

  • Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.

Misalnya:

berlayar keteluk, mandi di kali, menyebrangi selat, pergi ke arah tenggara

  • Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama geografi yang digunakan sebagai nama jenis.

Misalnya:

Garam inggris, gula jawa, kacang bogor, pisang ambon

11.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali kata seperti dan.

Misalnya:

Republik Indonesia;

Majelis Permusyawaratan Rakyat;

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan;

Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak;

Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972.

  • Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta nama dokumen resmi.

Misalnya:

Menjadi sebuah republik, beberapa badanhukum, kerja sama antara pemerintah dan rakyat, menurut undang-undang yang berlaku.

12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.

Misalnya:

Perserikatan Bangsa-Bangsa, YayasanIlmu-Ilmu Sosial, Undang-Undang Dasar Repulik Indonesia, Rancangan Undang-Undang Kepegawaian

13.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar dan judul karangan, kecuali kata sepertidi, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.

Misalnya:

Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.

Ia menyelesaikan makalah “Asas-Asas Hukum Perdata”

14.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan.

Misalnya:

  • Dr.                    Doctor
  • M.A.                Master of arts
  • S.E.                 sarjana ekonomi
  • S.H.                sarjana hukum
  • S.S.                sarjana sastra
  • Prof.               professor
  • Tn.                 Tuan
  • Ny.                  Nyonya
  • Sdr.               saudara

15.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan pamanyang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.

Misalnya :

“Kapan Bapak berangkat?” tanya Harto

Surat Saudara sudah saya terima.

  •  Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.Misalnya:

Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.

15.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda

Misalnya:

Sudahkah Anda tahu?

B.  Huruf Miring

  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menulis nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Misalnya:
  • MajalahBahasa dan Sastra,
  • buku Negarakertagama karangan Prapanca,
  • surat kabar Suara Rakyat.
  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf,bagian kata, kata, atau kelompok kata. Misalnya:
  • Huruf pertama kataabadadalaha.
  • Dia bukamenipu, tetapiditipu.
  • Bab initidakmembicarakan penulisan huruf kapital.
  • Buatlah kalimat denganberlepas tangan.
  1. Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing,kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

Misalnya:

  • Nama ilmiah buah manggis ialahCarcinia mangostama.
  • Politikdevide et imperapernah merajalela di negeri ini.
  • Weltanschauungantara lain diterjemahkan menjadi ‘pandangan dunia’

Tetapi:

Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.

II.   PENULISAN KATA

A.   Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Misalnya

  • Ibu percaya bahwa engkau tahu.
  • Kantor pajak penuh sesak.
  • Buku itu sangat tebal.

B.  Kata Turunan

  1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.  Misalnya:
  • Bergetar                     dikelola                        penetapan,
  • Menengok                mpermainkan.
  1. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.). Misalnya:
  • bertepuk tangan, garis bawahi
  • menganak sungai,  sebar luaskan
  1. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulus serangkai. (Lihat juga keterangan tentang tanda hubung,Bab V, Pasal E, Ayat 5.) Misalnya:
  • menggarisbawahi,menyebarluaskan
  • dilipatgandakan penghancurleburan
  1. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ituditulis serangkai. Misalnya:
  • adipati, aerodinamika, antarkota, anumerta, audiogram, awahama, bikarbonat, biokimia, caturtunggal, dasawarsa, dekameter, demoralisasi, dwiwarna, ekawarna, ekstrakurikuler, elektroteknik, infrastruktur, inkonvensional, introspeksi, kolonialisme, kosponsor, mahasiswa,  mancanegara, multilateral, narapidana, nonkolaborasi, Pancasila, panteisme, paripurna, poligami, pramuniaga, prasangka, purnawirawan, reinkarnasi, saptakrida, semiprofessional, subseksi, swadaya, telepon, transmigrasi, tritunggal, ultramodern

catatan:

  • Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital, diantara kedua unsur itu harus dituliskan tanda hubung (-).

Misalnya: non-Indonesia,pan-Afrikanisme

  • Jika kata maha sebagai unsur gabungan diikuti kata esa dan kata yang bukan katadasar, gabungan itu ditulis terpisah.

Misalnya:

  • Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
  • Marilah kita beersyukur kepada TuhanY ang Maha Pengasih.

C. Kata Ulang

Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.

Misalnya:

anak-anak, buku-buku, kuda-kuda, mata-mata, hati-hati, undang-undang, biri-biri, kupu-kupu, kura-kura, laba-laba, sia-sia, gerak-gerik hura-hura, lauk-pauk, mondar-mandir, ramah-tamah, sayur-mayur, centang-perenang, porak-poranda, tunggang-langgang, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, menulis-nulis, terus-menerus, tukar-menukar, hulubalang-hulubalang,  bumiputra-bumip

D.  Gabungan Kata

  1. Gabungan kata yang lazim disebuta kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah. Misalnya:
  • duta besar, kambing hitam, kereta api cepat luar biasa, mata pelajaran, meja tulis, model linier, orang tua, persegi panjang, rumah sakit umum, simpang empat.
  1. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan. Misalnya:
  • Alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, watt-jam, orang-tua muda.
  1. Gabungan kata berikut ditulis serangkai. Misalnya:
  • Adakalanya, akhirulkalam, Alhamdulillah, astaghfirullah, bagaimana, barangkali, bilamana, bismillah, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, darmawisata, dukacita, halalbihalal, hulubalang, kacamata, kasatmata, kepada, karatabaasa, kilometer, manakala, manasuka, mangkubumi, matahari, olahraga, padahal, paramasastra, peribahasa, puspawarna, radioaktif, saptamarga, saputangan, saripati, sebagaimana, sediakala, segitiga, sekalipun, silaturrahmin, sukacita, sukarela, sukaria, syahbandar, titimangsa, wasalam

E.   Kata Ganti-ku-, kau-, -mu,dan-nya

Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya; -ku-, -mu, dan –nyaditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya:

  • Apa yangkumiliki bolehkauambil.
  • Bukuku, bukumu, dan bukunyatersimpan di perpustakaan.

F.   Kata Depan di, ke,dan dari

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.(Lihat juga Bab III, Pasal D, Ayat 3.) Misalnya:

  • Kain itu terletakdidalam lemari.
  • Bermalam sajalahdisini.
  • Dimana Siti sekarang?
  • Mereka adadirumah.
  • Ia ikut terjunditengah kancah perjuangan.
  • Kemana saja ia selama ini?
  • Kita perlu berpikir sepuluh tahun

Catatan:

Kata-kata yang dicetak miring di bawah ini dtulis serangkai.

Si Amin lebih tuadari padasi Ahmad.

Kami percaya sepenuhnya kepadanya.

Kesampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.

G.   KataSidanSang

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya:

  • Harimau itu marah sekali kepadasangKancil.
  • Surat itu dikirimkan kembali kepadasipengirim.

H.   Partikel

  1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya:
  • Bacalahbuku itu baik-baik.
  • Apakahyang tersirat dalam dalam surat itu?
  • Jakarta adalahibukota Republik Indonesia.
  • Siapakahgerangan dia?
  • Apatahgunanya bersedih hati?
  1. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Misalnya:
  • Apapunyang dimakannya, ia tetap kurus.
  • Hendak pulangpunsudah tak ada kendaraan.
  • Jangankan dua kali, satu kalipunengkau belum pernah datang ke rumahku.

Catatan:

Kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun,  walaupun ditulis serangkai.

Misalnya:

  • Adapunsebab-sebabnya belum diketahui.
  • Bagaimanapunjuga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
  • Baik mahasiswamaupunmahasiswi ikut berdemonstrasi.
  • Sekalipunbelum memuaskan, hasil pekerjaannya dapat dijadikan pegangan.
  • Walaupunmiskin, ia selalu gembira.
  1. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimatyang mendahului atau mengikutinya. Misalnya:
  • Pegawai negeri mendapat kenaikan gajiper1 April.
  • Mereka masuk ke dalam ruangan satupersatu.
  • Harga kain itu Rp 2.000,00perhelai.

I.   Singkatan dan Akronim

  1. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
  • Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tandatitik.

Misalnya:

A.SKramawijaya

Muh.YaminSuman

Hs.Sukanto

S.A.

M.B.A                            Master of Business Administration

M.Sc.                              Master of Science

S.E.                                 Sarjana Ekonomi

S.Kar.                             Sarjana Karawitan

S.K.M                             Sarjana Kesehatan Masyarakat

Bpk.                               Bapak

Sdr.                                 Saudara

Kol.                                 Kolonel

  • Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atauorganisasi, serta nama dokumentasi resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulisdengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:

DPR                                Dewan Perwakilan Rakyat

PGRI                              Persatuan Guru Republik Indonesia

GBHN                            Garis-Garis Besar Haluan Negara

SMTP                             Sekolah Menengah Tingkat Pertama

PT                                   Perseroan Terbatas

KTP                                Kartu Tanda Penduduk

  • Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.

Misalnya:

dll.                    dan lain-lain

dsb.                 dan sebagainya

dst.                  dan seterusnya

hlm.                halaman

sda.                 sama dengan atas

Yth.                  Yang terhormat (Sdr. Moh. Hasan)

Tetapi:

a.n.                    atas nama

d.a.                    dengan alamat

u.b.                    untuk beliau

u.p.                    untuk perhatian

  • ambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidakdiikuti tanda titik.

Misalnya:

Cu                                   cuprum

TNT                                trinitrotulen

Cm                                 sentimeter

kVA                                kilovolt-ampere

l                                       liter

kg                                    kilogram

Rp (5.000,00)            (lima ribu) rupiah

  1. Akronim kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikutitanda titik.
  • Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis selurhnyadengan huruf capital.

Misalnya:

ABRI                              Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

LAN                               Lembaga Administrasi Negara

PASI                               Persatuan Atletik Seluruh Indonesia

IKIP                               Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan

SIM                               surat izin mengemudi

  • Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan sukukata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kaptal.

Misalnya:

Akabri                             Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

Bappenas                      Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Iwapi                               Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia

Kowani                          Kongres Wanita Indonesia

Sespa                             Sekolah Staf Pimpinan Administrasi

  • Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupungabungan huruf dan kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.

Misalnya:

Pemilu                            pemilihan umum

Radar                              radio detecting and ranging

Rapim                             rapat pimpinan

Rudal                              peluru kendali

Tilang                              bukti pelanggaran

catatan:

jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat-syaratberikut. (1) Jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yanglazim pada kata Indonesia. (2) Akronim dibentuk dengan mengindahkankeserasian kombinasi vocal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesiayang lazim.

J.   Angka dan Lambang

  1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
  • Angka Arab: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
  • Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M(1000), V (5.000), M (1.000.000)
  • Pemakaiannya diatur leih lanjut dalam pasal-pasal yang berikut ini.
  1. Angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjagng, berat, luas, dan isi, (ii) satuanwaktu, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas. Misalnya:
  • 0,5 sentimeter              1 jam 20 menit
  • 5 kilogram                       pukul 15.00
  • 4 meter persegi             tahun 1928
  • 10 liter                               17 Agustus 1945
  • Rp5.000,00                      50 dolar Amerika
  • US$3.50*                         10 paun Inggris
  • $5.10*                                100 yen
  • Y100                                    10 persen
  • 2.000 rupiah                   27 orang
  • * Tanda titik di sini merupakan tanda decimal.
  1. Angka lazim dipakai untuk melambangka nomor jalan, rumah, apartemen, atau kamar pada alamat. Misalnya:
  • Jalan Tanah Abang I No. 15
  • Hotel Indonesia, Kamar 169
  1. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci. Misalnya:
  • Bab X, Pasal 5, halaman 252
  • Surah Yasin: 9
  1. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
  • Bilangan utuh

Misalnya:

Dua belas                                              12

Dua puluh dua                                     22

Dua ratus dua puluh dua                   222

  • Bilangan pecahan

Misalnya:

Setengah                                               ½

Tiga perempat                                      ¾

Seperenam belas                                 1/16

Tiga dua pertiga                                   32/3

  1. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut. Misalnya:
  • Paku Buwono X; pada awal abad XX; dalam kehidupan abad ke-20 ini; lihan Bab II; Pasal 5; dalam bab ke-2 buku itu; di daerah tingkat II itu; di tingkat kedu agedung itu; di tingkatke-2 itu; kantor di tingkat II itu.
  1. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti cara yang berikut.(Lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat 5.) Misalnya:
  • tahun ’50-anatau tahun lima puluhan
  • uang 5000-anatau uang lima ribuan
  • lima uang 1.000-anatau lima uang seribuan
  1. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan. Misalnya:
  • Amir menonton drama itu sampaitigakali.
  • Ayah memesantiga ratusekor ayam.
  • Di antara 72 anggota yang hadir, 52orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blangko.
  • Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus,100 helicak, 100 bemo.
  1. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidakterdapat pada awal kalimat. Misalnya:
  • Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
  • Pak Darmo mengundang 250 orang  tamu

Bukan:

  • 15 orang tews dalam kecelakaan itu.
  • Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
  1. Angka yang menunjukkan bilangan utuh secara besar dapat dieja. Misalnya:
  • Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman250juta rupiah.
  • Penduduk Indonesia brjumlah lebi dari200juta orang.
  1. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks, kecuali didalamdokumen resmi seperti akta dan kuitansi.

Misalnya:

Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai.

Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.

Bukan:

Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai

Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.

  1. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.

Misalnya:

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan dan tujh puluh lima perseratus rupiah).

Bukan:

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan dan tujuh puluh lima per seratus) rupiah.

III.  PENULISAN UNSUR SERAPAN

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa lain, baik daribahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, atauInggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsure pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama, unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, l’axplanation de l’homme.

Unsur-unsur yangdipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasaIndonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

IV.   PEMAKAIAN TANDA BACA

A.   Tanda Titik (.)

  1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.  Misalnya:
  • Ayahku tinggal di Solo.
  • Biarlah mereka duduk di sana.
  • Dia menanyakan siapa yang akan datang.
  • Hari ini tanggal 6 April 1973.
  1. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar. Misalnya:

III.  Departemen Dalam Negeri

  1. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
  2. Direktorat Jenderal Agraria

I.  Patokan Umum

1.1  Isi Karangan

1.2  Ilustrasi

1.2.1 Gambar Tangan

1.2.2 Tabel

1.2.3 Grafik

  1. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu. Misalnya: Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit  20 detik)
  1. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkanjangka waktu. Misalnya:
  • 1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
  • 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
  • 0.0.30 jam (30 detik)

5.  Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul tulisan yang tidakberakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.

Misalnya:

Siregar, Merari. 1920.

Azab dan Sengsara.

Weltevreden: Balai Poestaka.

  • Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.

Misalnya:

Desa itu berpenduduk 24.200 orang.

Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa.

  • Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidakmenunjukkan jumlah.

Misalnya:

Ia lahir pada tahun 1956 di Bandung.

Lihat halaman 2345 seterusnya.

Nomor gironya 5645678.

6.  Tanda titiktidakdipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.

Misalnya:

Acara kunjungan Adam Malik

Bentuk dan Kedaulatan (Bab 1 UUD ’45)

Salah Asuhan

7.  Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal suat atau (2) nama dan alamat surat.

Misalnya:

Jalan Diponegoro 82 (tanpa titik)

Jakarta (tanpa titik)

1 April 1985 (tanpa titik)

Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)

Jalan Arif 43 (tanpa titik)

Palembang (tanpa titik)

Atau:

Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik)

Jalan Cikini 71 (tanpa titik)

Jakarta (tanpa titik)

B.   Tanda Koma (,)

  1. Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.

Misalnya:

Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

Surat biasa, surat kilat, maupun surat khusus memerlukan prangko.

Satu, dua, … tiga!

  1. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setaraberikutnya yang didahului oleh kata sepertitetapi,ataumelainkan.

Misalnya:

Saya ingin datang,tetapihari hujan.

Didi bukan anak saya,melainkananak Pak Kasim.

3a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anakkalimat itu mendahului indukn kalimatnya.

Misalnya:

Kalau hari hujan, saya tida datang.

Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

3b. Tanda komatidakdipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anakkalimat itu mengiringi induk kalimatnya.

Misalnya:

Saya tidak akan datang kalau hari hujan.

Dia lupa akan janjinya karena sibuk.

Dia tahu bahwa soal itu penting.

  1. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan teta

Misalnya:

….Oleh karena itu,kita harus berhati-hati.

….Jadi,soalnya tidak semudah itu.

5.   Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti, ya, wah, aduh, kasihan dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat.

Misalnya:

O,begitu?

Wah,bukan main!

Hati-hati,ya,nanti jatuh.

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.(Lihat juga pemakaian tanda petik, Bab V, Pasal L dan M.)

Misalnya:

Kata ibu “Saya gembira sekali.”

“Saya gembira sekali,” kata ibu, “karena kamu lulus.”

7.  Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempatdan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya:

Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, UniversitasIndonesia, Jalan raya Salemba 6, Jakarta.

Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor.

Kuala Lumpur, Malaysia.

8.   Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalamdaftar pustaka.

Misalnya:

Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949.

Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.

Jilid 1 dan2. Djakarta: Pustaka Rakjat.

9.  Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.

Misalnya:

W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang  (Jogjakarta:UP Indonesia, 1967), hlm. 4.

10.   Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya utnukmembedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Misalnya:

Ratulangi, S.E.

Ny. Khadijah, M.A.

11.   Tanda koma dipakai di muka angka persepuluh atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

Misalnya:

12,5 m

Rp12,50

12.   Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. (Lihat juga pemakaian tanda pisah, Bab V, Pasal F.)

Misalnya:

Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali.

Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang aki-laki yang makan sirih.

Semua siswa, baik yang laki-laki maupun perempuan, mengikuti latihan paduansuara.

Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma:

Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.

13.  Tanda koma dapat dipakai―untuk menghindari salah baca-di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.

Misalnya:

Dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yangsungguh-sungguh.

Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih.

Bandingkan dengan:

Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam upaya pembinaan danpengembanagan bahasa.

Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus.

14.  Tanda komatidakdipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yangmengiringinya dalam kalimat jika petikan langung itu berakhir dengan tanda tanya atauseru.

Misalnya:

“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.

“Berdiri lurus-lurus!” perintahnya.

C.   Tanda Titik Koma (;)

  1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenisdan setara. Misalnya:
  • Malam akan larut; pekerjaan belum selesai juga
  1. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk. Misalnya:
  • Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghafal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran“Pilihan Pendengar”.

D.   Tanda Dua Titik (:)

1a. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaianatau pemerian.

Misalnya:

Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.

Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati.

1b. Tanda titk dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengkahiri pernyataan.

Misalnya:

Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.

Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan EkonomiPerusahaan.

  1. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian. Misalnya:

Ketua                                          : Ahmad Wijaya

Sekretaris                                : S. Handayani

Bendahara                             : B. Hartawan

Tempat Sidang                    : Ruang 104

Pengantar Acara                  : Bambang S.

Hari                                              : Senin

Waktu                                         : 09.30

  1. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Misalnya:

Ibu                  : (meletakkan beberapa kopor) “Bawa kopor ini, Mir!”

Amir               : “Baik, Bu.” (mengangkat kopor dan masuk)

Ibu                  : “Jangan lupa. Letakkan baik-baik!” (duduk di kursi besar)

  1. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan , serta (iv) diantara nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.

Misalnya:

Tempo, I (34), 1971: 7

Surah Yasin: Karangan Ali Hakim,Pedidikan Seumur Hidup: sebuah Studi,sudah terbit.

Tjokronegoro, Sutomo,Tjukuplah Saudara Membina Bahasa Persatuan Kita?Djakarta: Eresco, 1968.

E.   Tanda Hubung (-)

  1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.

Misalnya:

Di samping cara-cara lama itu ju-ga cara yang barusuku kata yang berupa satu vocal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris.

Misalnya:

Beberapa pendapat mengenai masalahitutelah disam-

paikan ….

Walaupun sakit, mereka tetap tidakmauberanjak ….

Bukan:

Beberapa pendapat mengenai masalahi-

tu telah disamapaikan ….

Walaupun sakit, mereka tetap tidak ma-

u beranjak ….

  1. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhirandengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.

Misalnya:

Kini ada acara baru untuk meng-

ukur panas.

Kukuran baru ini memudahkan kita me-

ngukur kelapa.

Senjata merupakan alat pertahan-

kan yang canggih.

Akhiran –itidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris.

  1. Tanda hubung meyambung unsur-unsur kata ulang.

Misalnya:

Anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan

Angka2sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidakdipakai pada teks karangan.

  1. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.

Misalnya:

p-a-n-i-t-i-a

8-4-1973

  1. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagian kata atauungkapan, dan (ii) penghilangan baian kelompok kata.

Misalnya:

ber-evolusi,

dua puluh lima-ribuan (20 x 5.000),

tanggung jawab-dan

kesetiakawanan-sosial

Bandingkan dengan:

Be-revolusi,

dua-puluh-lima-ribuan (1 x 25.000), tanggung jawab dan

kesetia kawanan sosial

  1. Tanda hubung dipakai untuk merangkai (i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan -an, (iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (v) nama jabatan rangkap.

Misalnya:

se-Indonesia, se-Jawa Barat, hadiah ke-2, tahun 50-an, mem-PHK-kan, hari-H,sinar-X; Menteri Sekretaris Negara.

  1. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.

Misalnya:   di-smash,  pen-tackle-an

F.  Tanda Pisah (―)

  1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.

Misalnya:

Kemerdekaan bangsa itu―saya yakin akan tercapai―diperjuangkanoleh bangsa itu sendiri.

  1. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan oposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

Misalnya:

Rangkaian temuan ini―evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom-telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.

  1. Tanda pisah dipakai di antara dua dilangan atau tanggal dengan arti ‘sampai dengan’ atau‘sampai ke’.

Misalnya:

1910―1945

Tanggal 5―10 April 1970

Jakarta―Bandung

Catatan:

Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpas pasi sebelum dan sesudahnya.

G.   Tanda Elipsis (…)

  1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.

Misalnya:

Kalau begitu … ya, marilah kita bergerak.

  1. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam satu kalimat atau naskah ada bagian yangdihilangkan.

Misalnya:

Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.

Catatan:

Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empatbuah titik; tiga buah titik untuk menandai penghilangan teks dan atu untukmenandai akhir kalimat.

Misalnya:

Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati….

H.   Tanda Tanya (?)

  1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Misalnya:

Kapan ia berangkat?

Saudara tahu, bukan?

  1. Tanda taya dipakai dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yangdisangsikan atau yang kurang dapat membuktikan kebenarannya.

Misalnya:

Ia dilahirkan pada tahun 1983 (?).

Uangnya sebanyak 10 jta rupiah (?) hilang.

I.   Tanda Seru (!)

Tanda seru dipakai sesuda ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.

Misalnya:

Alangkah seramnya peristiwa itu!

Bersihkan kamar itu sekarang juga!

Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak-istrinya.

Merdeka!

J.  Tanda Kurung ((…))

  1. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.

Misalnya:

Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantoritu.

  1. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.

Misalnya:

Sajak Tranggono yang berjudul “Ubud” (nama yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.

Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalampasaran dalam negeri.

  1. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapatdihilangkan.

Misalnya:

Katacocainediserap ke dalam bahasa Indonesia menjadikokain (a).

Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.

  1. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.

Misalnya:

Factor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.

K.  Tanda Kurung Siku ([…])

  1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atautambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakanbahwa kesalahan atau ekurangan itu memang terdapat di naskah asli.

Misalnya:

Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

  1. Tanda kurung siku menapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertandahkurung.

Misalnya:

Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihathalaman 35-38] perlu dibentangkan.

L.  Tanda Petik (“…”)

  1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan daan nskah ataubahan tertulis lain.

Misalnya:

“Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”

Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”

  1. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:

Bacalah “Bola Lampu” dalam bukuDari Suatu Masa dari Suatu Tempat.

Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi diSMA” dimuat dalam majalahTempo.

Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.

  1. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai artikhusus.

Misalnya:

Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.

Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.

  1. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengahkiri petikan langsung.

Misalnya:

Kata Tono, “Saya juga minta satu.”

  1. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petikyang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimatatau bagian kalimat.

Misalnya:

Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.

Bang Komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tahu sebabnya.

Catatan:

Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu

ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

M.  Tanda Petik Tunggal (‘…’)

  1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.

Misalnya:

Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”

“Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang’, danrasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.

  1. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapanasing. (Lihat pemakaian tanda kurung, Bab V, Pasal J.)

Misalnya:

feed-back‘balikan’

N.  Tanda Garis Miring (/)

  1. Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat dan nomormpada alamat dan penandaanmasa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.

Misalnya:

No. 7/PK/1973

Jalan Kramat III/10

tahun anggaran 1985/1986

  1. Tanda gris miring dipakai sebagai pengganti kataatau, tiap.

Misalnya:

harganya Rp25,00/lembar

‘harganya Rp25,00 tiap lembar’

O.   Tanda Penyingkat atau Apostrof

Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.

Misalnya:

Ali ‘kan kusurati. (‘kan = akan)

Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)

1 Januari ’88. (’88 = 198

Leave a Reply