Pertemuan 11

46skripsi oh skripsi

KARYA ILMIAH, SEMI ILMIAH, DAN NONILMIAH

A. Pengertian Karya Ilmiah

Karya ilmiah menurut Dwiloka dalam Yakub Nasucha dkk. (2009: 53) adalah “Hasil pemikiran ilmiah seorang ilmuwan (berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang diperoleh melalui kepustakaan, kumpulan pengalaman, penelitian, dan pengetahuan orang lain sebelumnya”. Hal ini berarti karya ilmiah berisi argumentasi penulis yang disusun berdasarkan fakta dan data empiris. Pendapat tersebut sejalan dengan pendapat Pateda (1993: 91) bahwa karya ilmiah adalah hasil pemikiran ilmiah pada suatu disiplin ilmu tertentu yang disusun secara sistematis, ilmiah, logis, benar, bertanggung jawab, dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Karya ilmiah harus memenuhi syarat-syarat keilmiahan pada suatu disiplin ilmu tertentu yang dikuasa penulisnya. Hasil penulisannya harus bersifat sistematis, logis, dan benar. Bersifat sistematis artinya hasil penelitian disusun dalam suatu urutan yang teratur sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Hasil tulisan harus disusun pula secara logis dan benar. Oleh karena itu, untuk mencapai keilmiahan yang logis dan benar itu, seorang penulis karya ilmiah harus memiliki landasan teori yang kuat. Landasan teori yang kuat akan menyebabkan keilmiahan yang ditampilkan tidak menyimpang dari suatu disiplin ilmu tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pertanggungjawaban ilmiah tidak hanya berkaitan dengan isi karya ilmiah, tetapi juga berkaitan dengan susunan (teknis) penulisannya. Penyusunan karya ilmiah harus memnuhi kaidah antara lain: (1) penulisan sumber tulisan yang jelas. Jika penyusun karya ilmiah mengutip pendapat orang lain, maka sumber kutipan itu harus disebutkan dengan jelas dan lengkap; (2) memenuhi kaidah penulisan yang berkaitan dengan teknik kutip-mengutip, penulisan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan kaidah bahasa yang baik dan benar.

B. Ciri-ciri Karya Ilmiah

Karya ilmiah menggunakan bahasa keilmuan, yaitu mempergunakan ragam bahasa yang menggunakan istilah-istilah keilmuan yang khusus dan hanya dipahami oleh pakar pada bidang tertentu. Adapun ciri-ciri bahasa keilmuan sebagai media karya ilmiah menurut Jujun S. Suriasumantri (1999: 184), sebagai berikut:

  1. Reproduktif, artinya makna tulisan yang dipahami oleh pembaca sesuai dengan maksud penulis. Oleh karena itu, tulisan ilmiah harus mempergunakan bahasa yang bermakna denotatif agar terdapat satu pemahaman makna antara penulis dan pembaca.
  2. Tidak ambigu, artinya tidak bermakna ganda akibat penulisnya kurang menguasai materi atau kurang mampu menyusun kalimat dengan subjek dan predikat yang jelas.
  3. Tidak emotif, artinya tidak melibatkan aspek perasaan penulis. Hal-hal yang diungkapkan harus rasional, tanpa diberi tambahan pendapat subjektif dan emosional penulisnya. Oleh karena itu, tulisan ilmiah harus bersifat jelas, objektif, dan tidak berlebih-lebihan.
  4. Penggunaan bahasa baku dalam ejaan, kata, kalimat, dan paragraf.
  5. Penggunaan istilah keilmuan.
  6. Rasional, artinya penulis harus menonjolkan keruntutan pikiran yang logis, alur pemikiran yang lancar, dan kecermatan penulisan.
  7. Ada kohesi antarkalimat pada setiap paragraf dan koherensi antarparagraf dalam setiap bab.
  8. Bersifat straightforward atau langsung ke sasaran.
  9. Penggunakan kalimat efektif, artinya kalimat tersebut padat berisi, tidak bertele-tele sehingga makna yang hendak disampaikan kepada pembaca tepat mencapai sasaran.

C. Tujuan Menulis Karya Ilmiah

Adapun tujuan dari menulis karya ilmiah adalah

  1. Menyampaikan gagasan kepada masyarakat luas atau kalangan tertentu.
  2. Memenuhi tugas yang diberikan sebagai persyaratan dalam studi.
  3. Mendiskusikan gagasan dengan kalangan tertentu dalam sebuah pertemuan ilmiah. Misalnya, karya ilmiah yang disusun untuk satu seminar, symposium, diskusi panel, dan sejenisnya.
  4. Menyebarkan hasil penelitian kepada masyarakat luas atau kalangan tertentu, seperti berbagai artikel penelitian yang dimuat dalam berbagai majalah ilmiah.

D. Manfaat Menulis Karya Ilmiah

Menyusun karya ilmiah akan dapat memberi kontribusi dan memberikan manfaat besar sekali, baik bagi penulis maupun bagi masyarakat. Menurut Sikumbang dalam Rameli Agam (2009: 37) ada enam manfaat yang diperoleh dari kegiatan tersebut, diantaranya:
1. Penulis akan terlatih mengembangkan keterampilan membaca.
2. Penulis akan terlatih menggabungkan berbagai inti bacaan.
3. Penulis akan terbiasa dengan kegiatan perpustakaan.
4. Penulis dapat mengorganisasikan dan menyajikan fakta secara jelas dan sistematis.
5. Penulis akan memperoleh kepuasan intelektual.
6. Penulis turut memperluas cakrawala ilmu pengetahuan masyarakat.

F. Jenis-jenis Karya Ilmiah
Jenis-jenis karya ilmiah yang terdapat di dunia perguruan tinggi, antara lain makalah, skripsi, tesis, dan disertasi. Skripsi, tesis, dan disertasi biasanya memiliki beberapa kesamaan dalam sistematika penulisannya, baik pada penelitian kualitatif atau kuantitatif. Perbedaannya biasanya terletak pada objek dan metode penulisannya.
Skripsi adalah karya ilmiah untuk memenuhi persyaratan mengakhiri studi S-1 dan mencapai gelar sarjana. Skripsi berkaitan dengan disiplin ilmu tertentu yang ditempuh mahasiswa selama berkuliah S1. Isinya berupa penelitian lapangan atau penelitian pustaka, penelitian berbentuk kualitatif atau kuantitatif dengan sistematika ilmiah yang harus ditaati secara ketat. Tujuannya adalah melatih mahasiswa menerapkan ilmu pengetahuannya melalui pemecahan masalah yang berkenaan dengan bidang studi.
Tesis adalah karya ilmiah untuk memenuhi persyaratan mengakhiri studi S-2 dan mencapai gelar magister. Landasan teori yang lebih kuat dan pembahasan yang lebih mendalam daripada skripsi merupakan syarat mutlak dalam pembahasan tesis. Landasan teori dan pembahasan yang lebih kuat dan mendalam dalam skripsi harus dilengkapi dengan wawasan ilmiah yang diwujudkan dalam penalaran jawaban saat mahasiswa menempuh ujian tesis.
Disertasi adalah karya ilmiah untuk mencapai derajat akademis doktor (S-3). Kemandirian penulis disertasi sangat menonjol karena ujian doktor bermaksud menguji pendirian ilmiah mahasiswa terhadap sanggahan penguji atas dalil-dalil yang disampaikannya pada saat ujian doktor.

G. Tahapan Menulis Karya Ilmiah
Setelah menentukan penelitian itu skripsi, tesis, atau disertasi, maka langkah selanjutnya, menentukan penelitian kualitatif atau penelitian kuantitatif, elanjutnya adalah menyusun karya ilmiah. Tahap-tahap penyusunan karya ilmiah menempuh beberapa langkah, antara lain:
1. Tahap persiapan;
2. Tahap pengumpulan data;
3. Tahap pengorganisasian atau pengonsepan;
4. Tahap penyuntingan konsep; dan
5. Tahap penyajian (Arifin, 2003: 7)

Berikut uraian mengenai tahap-tahap penyusunan karya ilmiah:
1. Tahap persiapan
Tahap pertama penulis harus mempersiapkan topik (apa yang akan dibahas dalam tulisan). Misalnya mengenai persoalan manajemen sumber daya manusia, hukum. Dalam memili topik perlu diperhatikan beberapa hal (Akhadiah, 1999: 7-8) antara lain:

  • Topik itu ada manfaat dan layak untuk dibahas. Ada manfaat maksudnya bahwa bahasan topik tersebut akan memberikan sumbangan bagi ilmu yang ditekuni atau bagi perkembangan ilmu. Layak dibahas, maksudnya topik itu layak dibahas dan sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuni oleh penulis;
  • Topik itu menarik, terutama bagi penulis;
  • Topik dikenal dengan baik oleh penulis; dan
  • Topik tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.

Tahap kedua, menentukan judul. Misalnya : Pengaruh Motivasi dan kepemimpinan terhadap Kepuasan Kerja Karyawan PT Angin Mamiri Jakarta. Bagian akhir dari tahap persiapan adalah pembuatan kerangka karangan. Dari contoh judul di atas, kita dapat membuat kerangka karangan yang berkaitan dengan pembahasan “manajemen sumber daya manusia”. “motivasi”, “kepemimpinan”, dan “kepuasan kerja”. Hal tersebut dapat dijadikan empat judul bab analisis. Bab-bab tersebut dapat dirinci lagi dengan memecah menjadi beberapa bagian. Misalnya, “motivasi” dapat dipecah lagi menjadi “pengertian motivasi”, “teori motivasi”, dan “motivasi dan perilaku”. Begitu pun dengan bab-bab lainnya. Kerangka karangan dibuat untuk mengarahkan penulis agar fokus dalam analisisnya.

JUDUL :   Pengaruh Motivasi dan Kepemimpinan terhadap Kepuasan Kerja Karyawan PT Angin

                 Mamiri Jakarta Tahun 2013

                 I.       Manajemen Sumber Daya Manusia

                 II.    Motivasi

                             A.   Pengertian Motivasi

                             B.   Teori Motivasi

                             C.    Motivasi dan Perilaku

                       III. Kepemimpinan

                             A.   Pengertian Kepemimpinan

                             B.  Teori Kepemimpinan

                             C.  Tipe kepemimpinan

                             D.   Fungsi Kepemimpinan

                 IV. Kepuasan Kerja

                             A.  Pengertian Kepuasan Kerja

                             B.   Teori kepuasan Kerja

                             C.  Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan kerja

2. Tahap pengumpulan data
Pengumpulan data mencari informasi dari perpustakaan (buku, surat kabar, majalah, dll.) selain itu, pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan peristiwa, mencari informasi melalui wawncara, melakukan eksperimen di laboratorium, melakukan rekaman audio visual atau rekaman audio, dan catatan lapangan yang lengkap yang diperlukan dalam tahap-tahap penelitian lanjut.

3. Tahap pengorganisasian atau pengonsepan
Jika data sudah terkumpul, peneliti menyeleksi data tersebut. peneliti menggolong-golongkan data berdasarkan sifat, jenis, atau bentuk. Peneliti menentukanndata yang akan digunakan dalam penelitian selanjutnya dan menyimpan data lain yang mungkin diperlukan dalam tahap penelitian berikutnya. Setelah tahap reduksi data dirasa cukup, maka peneliti melakukan analisis data sesuai permasalahan penelitian.

4. Tahap penyuntingan konsep
Sebelum mengetik konsep, peneliti harus memeriksa data yang sudah dianalisis tersebut. hal-hal yang tidak koheren atau penjelasan yang berulang-ulang dapat diedit. Pada tahap ini, kalau peneliti merasa ada bagian kurang, maka bagian itu dapat diperbaiki dengan tambahan-tambahan informasi yang diperlukan. Tahap ini juga termasuk perbaikan segi kebahasaan penelitian tersebut.

5. Tahap penyajian
Dalam tahap penyajian, peneliti siap menyusun karya ilmiah tersebut untuk dibaca orang lain. Oleh karena itu, penataan segi teknis dan materi harus diperhatikan dengan cermat oleh peneliti karya.

Leave a Reply