Pertemuan 10

  gambar-animasi-kartun-orang-berpikir

PENALARAN

 A. Pengertian Penalaran
Secara sederhana, penalaran diartikan sebagai suatu cara menggunakan nalar (KBBI: 2008), sedangkan, menurut Zainal Arifin dan Amran Tasai, (2006: 152) penalaran adalah “Suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan”. Fakta adalah kenyataan yang dapat diukur dan dikenali. Fakta dapat dikenali melalui pengamatan, yaitu kegiatan yang menggunakan panca indera, melihat, mendengar, membaui, meraba, dan merasa. Dengan mengamati fakta, kita dapat menghitung, mengukur, menaksir, memberikan ciri-ciri, mengklasifikasikan, dan menghubung-hubungkan.
Selain itu, Widjono (2007) penalaran dimaknai sebagai berikut:
  1. Proses berpikir logis, sistematis, dan erorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan simpulan.
  2. Menghubung-hubungkan fakta atau data sampai dengan suatu simpulan.
  3. Proses menganalisis suatu topik sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian baru,
  4. Mengkaji, membahas, atau menganalisis dengan menghubung-hubungkan variabel yang dikaji sampai menghasilkan suatu derajat hubungan dan simpulan.
  5. Pembahasan suatu masalah sampai menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan atau pengertian baru.
    Berdasarkan pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa proses penalaran menjadi suatu tahap yang penting dalam proses penulisan paragraf. Ibarat sebuah bangunan, harus disusun dengan menggabungkan berbagai unsur, yakni bahan-bahan material, perencanaan, arsitektur sampai pada tenaga pembangun.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penalaran merupakan proses berpikir secara logis dengan merangkaikan data-data serta menganalisis variabel-variabel yang ada untuk menghasilkan suatu simpulan berupa baru.

B.  Beberapa Pengertian

1.  Proposisi dan Term
Untuk memahami silogisme perlu kita ketahui dahulu beberapa istilah yang digunakan. Proposisi ialah kalimat logika yang merupakan pernyataan tentang hubungan antara dua atau beberapa hal yang dapat dinilai benar atau salah. Premis ialah pernyataan yang digunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan.merupakan kesimpulan yang ditarik berdasarkan premis mayor dan premis minor. Subjek pada kesimpulan itu merupakanterm minor. Term menengahmenghubungkan term mayor dengan term minor dan tidak boleh terdapat pada kesimpulan. Perlu diketahui, term ialah suatu kata atau kelompok kata yang menempati fungsi subjek (S) atau predikat (P).
Contoh:
a.  Semua cendekiawan adalah manusia pemikir.
b.  Semua ahli filsafat adalah cendekiawan.
c.  Semua ahli filsafat adalah manusia pemikir.

Bentuk di atas merupakan bentuk standar silogisme. Di dalamnya terdapat3 term (hanya 3 term), yaitu term mayor, minor, dan tengah. Term-term itutercantum dalam kalimat yang disebut propos isi. Proposisi (a),dan (b) merupakanpremisyaitu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan pada proposisi nomor(c). Proposisi (a) merupakan premis mayor yaitu premis yang merupakanpernyataan dasar umum yang dianggap benar untuk suatu kelas tertentu. Didalamnya terdapat term mayor(manusia pemikir) yang muncul dalamkesimpulan sebagai predikat.

Proposisi (b) merupakan premis minor yang mengemukakan pernyataantentang peristiwa atau gejala khusus yang merupakan bagian atau anggota kelaspremis mayor. Di dalamnya terdapat term minor (ahli filsafat) yang menjadisubjek dalam kesimpulan. Term mayor itu dihubungkan oleh term tengah(cendekiawan) yang tidak boleh diulang di dalam kesimpulan. Term tengah inilahyang memungkinkan kita menarik kesimpulan.

B.  Jenis-jenis Proposisi

Menurut Zainal Arifin dan Amran Tasai (2006: 155), proposisi dapat dipandang dari empat kriteria, yaitu berdasarkan

a.   Bentuk
Dapat dibagi atas:

  • Proposisi tunggal
    Adalah proposisi yang hanya mengandung satu pernyataan. Contoh : semua petani harus bekerja keras, setiap pemuda adalah calon pemimpin.
  • Proposisi majemuk
    Adalah proposisi yang mengandung lebih dari satu pernyataan. Contoh : semua petani harus bekerja keras dan hemat (semua petani harus bekerja keras dan semua petani harus hemat)

b. Sifat
Dapat dibedakan atas:

  • Proposisi kategorial
    Hubungan antara subjek dan predikat terjadi tanpa syarat. Contoh : Semua bemo beroda tiga, sebagian binatang tidak berekor.
  • Proposisi kondisional
    Hubungan antara subjek dan predikat terjadi dengan suatu syarat tertentu. Contoh : jika air tidak ada, manusia akan kehausan.Proposisi : jika air tidak ada, manusia akan kehausan, terdiri atas dua bagian yaitu bagian sebab (antiseden) dan akibat (konsekuen).
    Jika air tidak ada, manusia akan kehausan.
    Sebab/antiseden akibat/konsekuen
    Antiseden sebuah proposisi harus selalu mendahului konsekuen. Kalau urutannya dibalik, kalimat itu bukanlah proposisi. Proposisi kondisional seperti di atas disebut proposisi kondisional hipotesis. Selain itu, ada pula proposisi kondisional disjungtif (mengemukakan suatu alternatif atau pilihan). Contoh: Hamka adalah seorang sastrawan atau pahlawan.

c.  Kualitas
Dapat dibedakan atas:

  • Proposisi positif (afirmatif)
    Adalah proposisi yang membenarkan adanya persesuaian hubungan antara subjek dan predikat. Contoh:
    Semua dokter adalah orang pintar.
    Sebagian manusia adalah bersifat sosial.
  • Proposisi negatif
    Adalah proposisi yang menyatakan bahwa antara subjk dan predikat tidak memiliki hubungan.
    Contoh: semua harimau bukanlah singa
    Sebagian orang jompo tidaklah pelupa.

d. Kuantitas
Dapat dibagi menjadi:

  • Proposisi universal (umum)
    Predikat proposisi membenarkan atau mengingkari seluruh subjeknya.contoh:
    Semua dokter adalah orang pintar. (Predikat membenarkan seluruh subjek)
    S P
    Tidak seorang dokter pun adalah orang yang takpintar. (predikat mengingkari seluruh subjek)
    S P
    Kata-kata yang dapat membantu menciptakan proposisi universal ini ialah
    Universal afirmatif : semua, setiap, tiap, masing-masing, apapun.
    Universal negatif : tidak satu pun, takseorang pun.
  • Proposisi khusus
    Predikat proposisi hanya membenarkan atau mengingkari sebagian subjeknya. Contoh:
    Sebagian mahasiswagemar olahraga.
    S P
    Tidak semua mahasiswapandai bernyanyi
    S P
    Sebagian Pulau jawa adalah Jawa barat.
    Tidak semua Pulau Jawa adalah Jawa Barat.Kata-kata yang dapat membantu menciptakan proposisi khusus ialah kata sebagian, sebahagian, banyak, beberapa, sering, kadang-kadang, dalam keadaan tertentu.

 C. Tujuan Penalaran

Bernalar akan membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktifitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip penalaran. Bernalar mengarah pada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang, karena penalaran mendidik manusi bersikap objektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala kondisi.

D. Jenis Penalaran

1. Deduktif
Penalaran deduktif bertolak dari sebuah konklusi atau simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Proposisi tempat menarik simpulan disebut premis. Penarikan simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tak langsung.

a.  Menarik Simpulan secara Langsung

Simpulan (konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis. Misalnya:

1) Semua S adalah P. (premis)
Sebagian P adalah S (simpulan/konklusi)
Contoh :
Semua ikanberdarah dingin. (premis)
S P
Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. (simpulan)

2) Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Tidak satu pun P adalah S. (simpulan)
Contoh :
Tidak seekor nyamuk pun adalah lalat. (premis)
Tidak seekor lalat pun adalah nyamuk. (simpulan)

3) Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P (simpulan)
Contoh :
Semua rudal adalag senjata berbahaya. (premis)
Tidak satu pun rudal adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)
4) Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh :
Tidak seekor pun harimau adalah singa. (premis)
Semua harimau adalah bukan singa. (simpulan)
5) Semua S adalah P. (premis0
Tidak satu pun S adalah tak-P (simpulan)
Tidak satu pun P adalah tak-S (simpulan)
Contoh:
Semua gajah adalah berbelalai. (premis)
Tidak satu pun gajah adalah takberbelalai. (simpulan)
Tidak satu pun yang takberbelalai adalah gajah. (simpulan)

b. Menarik Simpulan secara Tidak Langsung

Simpulan ditarik dari dua premis sebagai data. Dari dua premis ini akan dihasilkan sebuah simpulan. Premis pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis kedua bersifat khusus. Untuk menarik simpulan ini memerlukan suatu premis (pernyataan dasar) yang bersifat pengetahuan yang semua orang sudah tahu seperti setiap manusia akan mati, semua sarjana adalah lulusan perguruan tinggi, atau semua pohon kelapa berakar serabut.
Beberapa jenis penalaran deduktif dengan penarikan secara tidak langsung sebagai berikut:
1) Silogisme Kategorial

Adalah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi merupakan premis (premis mayor bersifat umum dan premis minor bersifat khusus) dan satu proposisi merupakan simpulan (terdapat subjek dan predikat). Subjek simpulan disebut term minor dan predikat simpulan term mayor. Contoh:
Semua atlet harus giat berlatih. (premis mayor)
S P
Jono adalah seorang atlet. (premis minor)
S P (term penengah)
Jadi, Jono harus giat berlatih. (simpulan)
S (term minor) P (term minor)

Untuk menghasilkan simpulan harus ada term penengah sebagai penghubung antara premis mayor dan premis minor. Term penengah hanya terdapat pada premis, tidak terdapat pada simpulan. Kalau term penengah tidak ada, simpulan tidak dapat diambil.
Contoh :
Semua manusia tidak bijaksana.
Semua kera bukan manusia.
Jadi, (tidak ada kesimpulan)
2) Silogisme Hipotesis
Adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berpropsisi kondisional hipotesis (bersyarat). Jika premis minornya membenarkan anteseden (sebab), simpulannya membenarkan konsekuen (akibat). Jika premis minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
Contoh:
Premis mayor : Jika besi dipanaskan, besi akan memuai.
Premis minor : Besi dipanaskan
Simpulan : Jadi, besi memuai
Premis mayor : Jika besi dipanaskan, besi akan memuai.
Premis minor : Besi tidak dipanaskan
Simpulan : Jadi, besi tidak akan memuai

3) Silogisme Alternatif
Adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif . jika premis minornya membenarkan salah satu alternatif, simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh :
Premis mayor : Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Premis minor : Dia seorang kiai
Simpulan : Jadi, dia bukan seorang profesor.
Premis mayor : Dia adalah seorang kiai atau profesor.
Premis minor : Dia bukan seorang kiai
Simpulan : Jadi, dia seorang profesor.

4) Entinem
Adalah silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayo tersebut sudah dikenaal secara umum, yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
Premis mayor : semua sarjana adalah orang cerdas.
Premis minor : Ali adalah seorang sarjana.
Simpulan : Jadi, Ali adalah orang cerdas.
Dari silogisme ini dapat ditarik satu entinem yaitu “Ali adalah orang cerdas karena dia adalah seorang sarjana”.
Contoh lain :
Menipu adalah dosa karena merugikan orang lain.
Kalimat di atas dapatdipenggal menjadi dua:
o Premis mayor : menipu adalah dosa
o Premis minor : vkarena (menipu) merugikan orang lain
Kalimat a merupakan kesimpulan sedangkan kalimat b adalah premis minor(karena bersifat khusus). Makasilogisme dapat disusun:
Premis Mayor :
Premis Minor : menipu merugikan orang lain
Kesimpulan : menipu adalah dosa.

Dalam kalimat di atas, premis yang dihilangkan adalah premis mayor. Untukmelengkapinya kita harus ingat bahwa premis mayor selalu bersifat lebih umum,jadi tidak mungkin subjeknva “menipu”. Kita dapat menalar kembali danmenemukan premis mavornva: Perbuatan yang merugikan orang lain adalah dosa.Untuk mengubah entimem menjadi silogisme, mula-mula kita cari dulu kesimpulannya. Kata-kata yang menandakan kesimpulan ialah kata-kata seperti jadi,maka, karena itu, dengan demikian, dan sebagainya. Kalau sudah, kitatemukan apa premis yang dihilangkan.
Contoh lain:
Pada malam hari tidak ada matahari, jadi tidak mungkin terjadi proses fotosintesis.Bagaimana bentuk silogismenya?
Mayor : Proses fotosintesismemerlukan sinar matahari
Minor : Pada malam hari tidak ada matahari
Kesimpulan : Pada malam hari tidak mungkin ada fotosintesis.
Sebaiknya, kita juga dapat mengubahsilogisme ke dalam entimem, yaitudengan menghilangkan salah satu premisnya.
Contoh:
Mayor :Anak-anak yang berumur di atas sebelas tahun telah mampu berpikirformal.
Minor : Siswa kelas VI di Indonesia telah berumur lebih dari sebelas tahun
Kesimpulan : Siswa kelas VI di Indonesia telah mampu berfikir formal

Kalau dihilangkan premis mayornya entimemnya akan berbunyi “siswa kelas VIdi Indonesia telah berumur lebih dari sebelas tahun, jadi mereka mampu berpikirformal”. Atau dapat juga “Anak-anak kelas VI di Indonesia telah mampu berpikirformal karena mereka telah berumur lebih dari sebelas tahun”. Kalau dihilangkanpremis minornya menjadi “Anak-anak yang berumur di atassebelas tahun telahmampu berpikir formal; karena itu siswakelas VI telah mampu berpikir formal.

2. Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah penalaran yang bertolak dari pernyatan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Beberapa bentuk penalaran induktif adalah sebagai berikut.
a. Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang menghandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. Sahih atau tidaknya simpulan tergantung dari generalisasi itu dapat dilihat dari hal-hal berikut:
1) Jumlah data harus memadai. Makin banyak data yang dipaparkan, makin sahih simpulan yang diperoleh.
2) Data tersebut harus mewakili keseluruhan.
3) Pengecualin perlu diperhitungkan karena data-data yang mempunyai sifat khusus tidak dapat dijadikan data.
Contoh :
Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai
Jika dipanaskan, emas memuai
Jadi, Jika dipanaskan, logam memuai.

b. Analogi
Analogi adalah cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama atau kemiripan dalam hal-hal tertentu. Dapat dikatakan bahwa sesuatu yang berlaku pada satu hal akan berlaku juga pada hal lain karena keduanya memiliki kemiripan. Contoh :

c. Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Misalnya tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi. Hujan turun jalan-jalan becek. Ia kena penyakit kanker dan meninggal dunia.

Contoh paragraf induktif :
Suatu lembaga kanker di Amerika melakukan studi tentanghubungan antara kebiasaan merokokdengan kematian. Antara tanggal 1Januari dan 31 Mei 1952 terdaftar 187.783 laki-laki yang berumur antara50 sampai 69 tahun. Kepada mereka dikemukakan pertanyaan-pertanyaantentang kebiasaan merokok mereka padamasa lalu dan masa sekarang.Selanjutnya keadaan mereka diikuti terus-menerus selama 44 bulan.Berdasarkan surat kematian dan keterangan medis tentang penyebabkematiannya, diperoleh data bahwa di antara 11.870 kematian yangdilaporkan 2.249 disebabkan kanker.Dari seluruh jumlah kematianyang terjadi (baik pada yangmerokok maupun yang tidak) ternyata angka kematian di kalanganpengisap rokok tetap jauh lebih tinggidaripada yang tidak pernahmerokok, sedangkan jumlah kematian pengisap pipa dan cerutu tidakbanyak berbeda dengan jumlah kernatian yang tidak pernah merokok.Selanjutnya, dari data yang terkumpul itu terlihat adanya korelasipositif antara angka kematian dan jumlah rokok yang diisap setiap hari
………………………………………………….
Dari bukti-bukti yang terkumpul dapatlah dikemukakan bahwaasap tembakau memberikan pengaruh yang buruk dan memperpendekumur manusia. Cara yang paling sederhana untuk menghindarikemungkinan itu ialah dengan tidak merokok sama sekali.
(Disarikan dari tulisan RogerW. Holmes dalam Me Crimmon).
Tulisan di atas memaparkan hubungan sebab akibat antara merokok dankematian. Dari paparan itu dapat dilihat bagaimana proses bernalar itu terjadi.Mula-mula mereka mengurnpulkan data darisejumlah orang laki-laki. Mereka itudikelompokkan menurut kebiasaan merokoknya, mulai dari yang tidak pernahmerokok sampai pada perokok berat. Selanjutnya perokok itujuga dibedakanantara yang menghisap rokok putih (sigaret) dan yang menghisap cerutu dan pipa.Dalam waktu yang cukup panjang merekadiarnati. Kematian dan penyebabnyadicatat dan dianalisis. Dari bukti-bukti yang terkumpul ditariklah kesimpulan-kesimpulan sehubungan dengan rnasalahnya.
Secara ringkas paparan di atas menggambarkan proses penalaran induktif.Proses itu dilakukan langkah demi langkah sehingga sampai pada kesimpulan.

E. Salah Nalar

Dalam ucapan atau tulisan kerap kali kita dapati pernyataan yangmengandung kesalahan. Ada kesalahan yang terjadi secara tak sadar karenakelelahan atau kondisi mental yang kurang menyenangkan, seperti salah ucap atausalah tulis misalnya. Ada pula kesalahan yang terjadi karena ketidaktahuan,disamping kesalahan yang sengajadibuat untuk tujuan tertentu.Kesalahan yang kita persoalkandi sini adalah kesalahan yangberhubungan dengan proses penalaran yang kitasebut salah nalar.

1. Generalisasi Terlalu Luas
Kesalahan ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang dengan generalisasi itu sehingga simpulan yang diambil menjadi salah.
Contoh:
Wanita kurang mampu dalam matematika dibandingkan denganpria. Kesimpulan itu ditarik dari pengamatan sebagai berikut. Di dalamkelas yang terdiri dari dua puluhlima wanita dan dua puluh pria,ternyata lima nilai tertinggi dicapai oleh mahasiswa pria sedangkanlima nilai terendah diperoleh oleh mahasiswa wanita.Apakah kelas yang diteliti cukup mewakili pria dan wanita secara umum?Apakah lima nilai terendah itu saja cukup kuat untuk menarik kesimpulan bahwawanita kurang dibandingkan pria? Bahkan untuk menarik kesimpulan tentangkemampuan kelas itu saja, data itu tidak memadai. Barangkali masih lebih baikjika kesimpulan diambil berdasarkan perbandingan nilai rata-rata mereka.

2. Hubungan Sebab Akibat yang Tidak Memadai
Dalam pemakaian bahasa kerap kali dijumpai hubungan sebab akibatyang tidak tepat atau salah. Hal ini mungkin terjadi karena suatu akibatdihubungkan dengan penyebab berdasarkan kepercayaan atau takhayulatau karena penulis atau pembaca menganggap suatu kontributori sebagaipenyebab utamanya.Contoh:
a. Saya tidak dapat berenang. Hampir semua anggota keluarga saya tidak dapat berenang.
b. Saya tidak lulus karena dosen saya tidak suka pada saya.
c. Sebagian besar siswa mendapat nilai buruk karena pada waktu ulangan ada kucing hitam yang melintas di halaman.

3. Kesalahan Analogi
Kesalahan ini terjadibila dasar analogi induktif yang dipakai tidak merupakan ciri esensialkesimpulan yang ditarik. Pernyataanbahwa anak kera dan anak manusiadapat dididik menjadi sarjana biologi berdasarkan persamaan sistempencernaannya, merupakan contoh kesalahan analogi. Dasar analoginya(sistem pencernaan) tidak merupakan ciriesensial dari kesimpulan (dapatdididik menjadi sarjana).
Contoh lain:
Toni bersekolah di SMA I. Ia pasti akan menjadi tokoh politik.
Tokoh politik terkenal berasal dari sekolah itu.

4. Kesalahan Deduktif
Disebabkan oleh deduksi yang salah merupakan salah nalar yang amat sering dilakukan orang. Hal ini terjadi karena orang salah mengambil simpulan dari suatu silogisme dengan diawali oleh premis yang salah atau tidak memenuhi syarat. Beberapa salah nalar jenis ini disebabkan :

a. Dalam cara berpikir deduktif kesalahan yang biasa terjadi ialah kesalahanpremis mayor yang tidak dibatasi.

Contoh:
• Semua pelaku kejahatan adalah korban rumah tangga yang berantakan.
• Kalau hakim masuk desa, di desa tidak ada lagi ketidakadilan.
Kalau bentuk entinem di atas dikembalikan ke dalam bentuksilogisme, kita akan melihat bahwakesalahannya terletak pada premismayor yang tidak dibatasi, yaitu:
My : Penyebab kejahatan ialah rumah tangga berantakan.
Mn : Hakim memberantas ketidakadilan

b. Kesalahan deduktiflainnya ialah kesalahanterm keempat.Dalam hal initerm tengah dalam premis minor tidak merupakan bagian dari termmayor pada premis mayor ataumemang tidak ada hubungan antarakedua pernyataan.
My : Semua mahasiswa FKIP akan menjadi guru.
Mn : Dani siswa SMPP.
Dari kedua premis itu tidak dapat ditarik kesimpulan apa-apa. Padasilogisme itu terdapat empat term. Dengan perkataan lain, tidak ada termtengah yang menghubungkan kedua premis sehingga keduanya tidakberhubungan.

c. Kerap kali pula terjadi kesalahan berupakesimpulan terlaluluas/kesimpulan lebih luas daripada premisnya. Premis mayor partikulardan kesimpulan merupakan universal.
Contoh:
My : Sebagian orang Asia hidup makmur.
Mn : Orang Indonesia adalah orang Asia.
K : Orang Indonesia hidup makmur.
Dari premis mayor partikular positif dan premis minor universalpositif tidak dapat ditarik kesimpulan.
(4) Kesalahan deduktif berikut ialah kesalahan kesimpulandari premis-premis negatif.
Contoh:
My : Semua pohon kelapa tidak bercabang.
Mn : Tiang listrik tidak bercabang.
K : Tiang listrik ialah pohon kelapa.

F. Keterkaitan Penalaran dalam Proses Penulisan Ilmiah

Suatu karangan sesederhana apapun akan mencerminkan kualitas penalaran seseorang. Penalaran itu akan tampak dalam pola pikir penyusuan karangan itu sendiri. Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup lima aspek. Kelima aspek tersebut adalah
1. Aspek Keterkaitan
Aspek keterkaitan adalah hubungan antar bagian yang satu dengan yang lain dalam suatu karangan. Artinya, bagian-bagian dalam karangan ilmiah harus berkaitan satu sama lain. Pada pendahuluan misalnya, antara latar belakang masalah – rumusan masalah – tujuan – dan manfaat harus berkaitan. Rumusan masalah juga harus berkaitan dengan bagian landasan teori, harus berkaitan dengan pembahasan, dan harus berkaitan juga dengan kesimpulan.
2. Aspek Urutan
Aspek urutan adalah pola urutan tentang suatru yang harus didahulukan atau ditampilkan kemudian (dari hal yang paling mendasar ke hal yang bersifat pengembangan). Suatu karangan ilmiah harus mengikuti urutan pola pikir tertentu. Pada bagian Pendahuluan, dipaparkan dasar-dasar berpikir secara umum. Landasan teori merupakan paparan kerangka analisis yang akan dipakai untuk membahas. Baru setelah itu persoalan dibahas secara detail dan lengkap. Di akhir pembahasan disajikan kesimpulan atas pembahasan sekaligus sebagai penutup karangan ilmiah.
3. Aspek Argumentasi
Yaitu bagaimana hubungan bagian yang menyatakan fakta, analisis terhadap fakta, pembuktian suatu pernyataan, dan kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan. Hampir sebagian besar isi karangan ilmiah menyajikan argumen-argumen mengapa masalah tersebut perlu dibahas (pendahuluan), pendapat-pendapat atau temuan-temuan dalam analisis harus memuat argumen-argumen yang lengkap dan mendalam.
4. Aspek Teknik Penyusunan
Yaitu bagaimana pola penyusunan yang dipakai, apakah digunakan secara konsisten. Karangan ilmiah harus disusun dengan pola penyusunan tertentu, dan teknik ini bersifat baku dan universal. Untuk itu pemahaman terhadap teknik penyusunan karangan ilmiah merupakan syarat multak yang harus dipenuhi jika orang akan menyusun karangan ilmiah.
5. Aspek Bahasa
Yaitu bagaimana penggunaan bahasa dalam karangan tersebut? baik dan benar? Baku? Karangan ilmiah disusun dengan bahasa yang baik, benar dan ilmiah. Penggunaan bahasa yang tidak tepat justru akan mengurangi kadar keilmiahan suatu karya sastra lebih-lebih untuk karangan ilmiah akademis.

Leave a Reply