Category Archives: Uncategorized

Tugas 11

Pertanyaan :

Setelah Anda mempelajari materi pertemuan 11. Untuk menambah pemahaman, cari karya tulis (sumber, judul, bentuk bebas)

  1. Karya tulis ilmiah
  2. Karya tulis semi ilmiah
  3. Karya tulis non ilmiah.

 

Postingkan tiga tulisan tersebut di iMe.

Status :

100%

Keterangan :

Dikerjakan sesuai instruksi

Bukti :

 

1. Kaya Tulis Ilmiah

Menjaga Kesehatan Jantung

BAB I

Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah

Jantung merupakan salah satu organ yang sangat vital di dalam tubuh manusia. Karena itu banyak orang yang berusaha untuk selalu menjaga kesehatan jantung. Akan tetapi nampaknya masih banyak orang yang kurang peduli. Terbukti dari banyaknya korban jiwa akibat penyakit-penyakit yang menyerang jantungnya. Untuk itu penelitian mengenai menjaga kesehatan jantung perlu dilakukan.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana cara menjaga kesehatan jantung?

C. Tujuan Penelitian

Dapat mengetahui cara menjaga kesehatan jantung

BAB II

Pembahasan

Cara Menjaga Kesehatan Jantung

Berbagai penyakit yang menyerang jantung memang masih menjadi masalah besar bagi sebagian orang. Padahal ada banyak cara mudah untuk menjaga kesehatan jantung. Setelah melalui riset yang mendalam, peneliti menemukan beberapa di antaranya.

Menghindari stres karena dapat memicu hormon adrenalin abnormal dan menyebabkan darah tinggi.
Menjaga kebersihan, baik kebersihan diri sendiri maupun lingkungan.
Mengatur pola makan. Kurangi lemak dan junkfood serta perbanyak memakan sayur dan buah.
Olahraga teratur.

BAB III

Penutup

Kesimpulan

Menjaga kesehatan jantung memang sangat penting bagi manusia demi mendapat umur yang panjang. Dan ternyata untuk memperoleh jantung yang sehat tidak memerlukan usaha yang terlalu sulit dan bisa dilakukan sehari-hari. Dengan menjaga kesehatan jantung diharapkan semakin sedikit korban yang jatuh akibat penyakit yang menyerang jantung.

 

2. Karya Tulis Semi Ilmiah

 

Apa perbedaan antara ‘pada’ dan ‘di’? Perbedaan antara ‘bagi’ dan ‘untuk’? Kata ‘dilarang’ dan ‘jangan’? Mendengar serangkaian pertanyaan tersebut, mungkin hanya sebagian dari kita yang dapat menjawab secara jelas. Hanya orang-orang yang menguasai tata bahasa Indonesia yang dapat menjelaskannya. Kalau pun ada diantara kita yang tidak terlalu mengerti tentang tata bahasa Indonesia dapat menjawab pertanyaan tersebut, pastinya tidak sebaik dengan penjelasan orang-orang yang lebih menguasai dan mengerti bahasa Indonesia. Hal tersebut merupakan salah satu alasan mengapa bahasa Indonesia sangat penting untuk dipelajari lebih mendalam.

Akan tetapi, saya masih sering menjumpai orang-orang yang berpendapat bahwa, “Belajar bahasa Indonesia itu mudah” atau “Di era globalisasi sekarang ini, lebih baik kita mempelajari bahasa inggris daripada bahasa Indonesia”. Pernyataan-pernyataan seperti itu tidaklah benar karena sama halnya ketika kita mempelajari bahasa asing, kita harus membiasakan diri dengan pola-pola bahasa mereka yang tentunya tidaklah mudah.

Begitu juga dengan bahasa Indonesia, ketika kita tidak sering berlatih dan mempelajari bahasa Indonesia, tentu pengetahuan kita tentang bahasa Indonesia hanya sampai disitu saja dan ketika kita dihadapi dalam suatu hal yang memerlukan kemampuan lebih tentang bahasa Indonesia, tentu kita akan kebingungan dalam menghadapi hal tersebut. Oleh karena itu, diperlukan untuk belajar bahasa Indonesia lebih mendalam. Apalagi kita yang sebagai warga Negara Indonesia.

Belajar bahasa Indonesia itu sangatlah penting. Sebagai warga Negara Indonesia tidak hanya menjadikan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi semata atau bahasa pemersatu, melainkan sebagai identitas Negara yang diakui oleh undang-undang. Bahasa Indonesia mengajarkan bagaimana cara berbahasa dan bertutur kata yang baik dan benar.

Selain itu, juga dapat menumbuhkan rasa kesopan-santunan, karena bahasa Indonesia tidak hanya mengajarkan kalimat baku dan sebagainya tetapi juga mengajarkan mengenai intonasi, penekanan kalimat, dan etika berbicara kepada orang lain. Sehingga kita juga dapat mengetahui jati diri atau sifat seseorang dari cara ia dalam berbicara. Tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi secara lisan, bahasa indoneisa juga berfungsi sebagai alat komusikasi secara tulisan. Dalam pembuatan surat, proposal, laporan, makalah, esai, dan sebagainya, hal tersebut memerlukan pemahaman lebih dalam proses pembuatanya, khususnya dalam hal tata bahasa.

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat terkenal disemua negara di penjuru dunia. Bahasa Indonesia memiliki nilai dan struktur yang kesempurnaannya sudah di akui oleh beberapa negara di dunia. Sehingga di era sekarang ini, bahasa Indonesia tidak hanya digunakan oleh warga Negara  Indonesia itu sendiri melainkan banyak warga negara asing telah mempelajari bahasa Indonesia. Minat mereka yang tinggi karena ketertarikan mereka  dengan bahasa Indonesia yang memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri.

Atau sebagian dari mereka yang tertarik mempelajari bahasa Indonesia karena ingin mengetahui lebih banyak tentang budaya kita. Tentunya hal seperti ini harus disambut dengan positif dan menjadikan motivasi untuk kita agar lebih mendalam mempelajari bahasa Indonesia.

Kita tidak boleh melupakan bahasa Indonesia. Apalagi di era globalisasi sekarang ini dan ditambah dengan adanya “bahasa gaul” dikalangan masyarakat. Bahasa Indonesia merupakan warisan kebudayaan yang harus tetap kita jaga agar kelak dapat terus diwariskan ke generasi mendatang. Oleh karena itu, kita harus terus mempelajari bahasa indonesia karena masih banyak  hal-hal yang tentunya belumkita  ketahui tentang cara berbahasa Indonesia yang baik dan benar agar karya dari bangsa kita tetap bisa dikenali hingga seterusnya.

 

3. Karya Tulis Non Ilmiah

Ayo Jangan Malas Cuci Tangan

Menjaga kesehatan tubuh bisa dimulai dari hal-hal yang paling sderhana. Mencuci tangan misalnya. Mulai sekarang jadikan cuci tangan sebagai bagian dari gaya hidup Anda.

Tangan adalah organ tubuh yang paling vital untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Dari tangan inilah akan tercipta karya-karya indah. Namun, dari tangan jugalah berbagai penyakit bisa menular.

Tanpa disadari aktivitas sehari-hari membuat tangan selalu bersentuhan dengan benda-benda, mulai pulpen, keyboard computer, gagang pintu dan benda-benda lain. Semenara itu, kita tidak pernah tahu, apakah benda-benda yang kita pegang tersebut bebas kuman dan virus?

Tugas 9

RINGKASAN PERENCANAAN PENULISAN KARYA ILMIAH

Karya tulis ilmiah merupakan salah satu jenis karya tulis yang berisi berbagai informasi yang merupakan hasil pengamatan dan penelitian, seperti makalah, laporan penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.

Ciri-ciri khusus karya ilmiah sebagai berikut :

  1. Logis, yaitu segala keterangan yang disajikan dapat diterima akal sehat.
  2. Sistematis, yaitu segala yang dikemukakan disusun dalam urutan yang berkesinambungan.
  3. Objektif, yaitu disajikan apa adanya.
  4. Tuntas, yaitu semua masalah dikupas secara terperinci dan lengkap.
  5. Kebenaranya dapat diuji.
  6. Berlaku umum bagi semua populasi.
  7. Memakai bahasa yang baku sesuai kaidah bahasa.

 

Untuk menghasilkan sebuah karya ilmiah yang bagus, seorang penulis harus terlebih dahulu merencanakannya dengan matang, berikut ini beberapa langkah dalam perencanaan penulisan ilmiah :

 

A. Pemilihan Topik
Pemilihan topik merupakan hal terpenting dalam penulisan ilmiah, karena pemilihan topik menentukan batasan-batasan isi atau permasalahan yang akan dibahas selanjutnya. Dalam memilih topik karya ilmiah, terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan :

  • Topik sebaiknya dicari yang sesuai dengan bidang karena masalah itu yang paling dikuasai.
  • Cermati bagaimana isi dari tulisan-tulisan itu: gagasan, pengembangan dan pengorganisasian gagasan dan bahasa.
  • Topik sebaiknya dicari yang sesuai dengan bidang karena masalah itu yang paling dikuasai.
  • Topik yang dipilih hendaknya menarik untuk dikaji.
  • Topik jangan terlalu luas dan terlalu sempit.
  • Topik yang dikaji hendaknya ada manfaatnya untuk menambah ilmu pengetahuan atau berkaitan.

 

B. Pembatasan Topik
Bagi penulis harus bisa membatasi topik yang akan dibuatnya. karena harus betul-betul yakin bahwa jenis topik yang dipilihnya cukup dan terbatas sebab ketika membuat jenis topik yang akan dibuatnya apakah sudah ada atau belum sehingga topik yang dibuatnya dapat terfokus.

 

C. Pemilihan Judul
Dimana akan menggambarkan tingkat kedalaman dan cakupan dari sebuag penelitian yang akan dibahas. Bagi pembaca, judul akan dianggap memiliki bobot dari sebuah hasil penelitian yang ditulis, tidak sembarang menggunakan nama judul penelitian bahkan merupakan gambaran jenis mutu tulisan yang akan dikerjakannya.

 

D. Menentukan Tujuan Penulisan
Istilah menetapkan tujuan penulisan yaitu menyampaikan maksud dari gagasan penulisan atau penelitian yang akan di buat, sehingga pembaca dapat mengetahui manfaat yang diperoleh dari isi tersebut. sering kali penulis memberikan tujuan yang sangat luas sedangkan dalam pembuatan ada batasan jadi topik yang dibahas akan keluar dari apa yang sudah dibataskan.

 

E. Menentukan Kerangka Karangan
Penulisan akan lebih terarah dan sesuai dengan tujuan dibuatnya karangan ilmiah tersebut, Kerangka akan membuat supaya tidak melenceng terlalu jauh lagi sehingga kerangka merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu tulisan. Disusun dengan cara sistematis, logis, jelas, terstruktur dan teratur.
fungsi dari kerangka karangan itu:

  1. Untuk menjamin penulisan bersifat konseptual, menyeluruh, dan terarah.
  2. Kerangka karangan membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan tulisan dalam sekilas pandang.
  3. Memudahkan penulis menciptakan puncak klimaks yang berbeda-beda.
  4. Menghindari penggarapan topik dua kali atau lebih.
  5. Dengan mempergunakan rincian-rincian dalam kerangka karangkan, penulis lebih mudah untuk mengembangkan apa yang ingin dijabarkan.

 

F. Langkah-Langkah Penulisan Ilmiah
Metode penelitian dan pengembangan menulis karya ilmiah merupakan suatu cara dengan pelaksanaan secara sistematis dan objektif yang mengikuti aturan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Melakukan observasi dan menetapkan masalah dan tujuan.
“Langkah awal dalam penulisan ilmiah yaitu melakukan pengamatan atas objek yang diteliti dan menetapkan masalah dan tujuan yang akan diteliti.”

2. Menyusun hipotesis.
“Dugaan-dugaan yang menjadi penyebab dari objek penelitian.”

3. Menyusun rancangan penelitian.

4. Melaksanakan percobaab berdasarkan metode yang direncanakan.
Kegiatan nyata dari proses penelitian dalam bentuk uji percobaan terkait penelitian yang dilakukan.”

5. Melaksanakan pengamatan dan pengumpulan data.

6. Menganalisis dan menginterprestasikan data.
“Menjelaskan segala kondisi yang terjadi pada saat pengamatan atau penelitian.”

7. Merumuskan kesimpulan.
“Menarik kesimpulan dari semua proses percobaan, pengamatan, penganalisaan dan penginterprestasian terhadap objek penelitian.”

8. Melaporkan hasil penelitian.
“Merupakan proses yang telah menyusun sebuah karya tulis ilmiah yang akan memberikan manfaat bagi pembaca.”

 

Sumber : http://holongmarinacom.blogspot.com/2016/12/perencanaan-penulisan-karya-ilmiah.html

Tugas 10

Instructions

Untuk pengayaan materi silakan buka link berikut. I N I

Tugas Anda selanjutnya carilah artikel (bentuk dan sumber bebas) yang membahas mengenai mengapa diperlukan nalar/penalaran/logika dalam rangka menyusun karya tulis baik ilmiah maupun non ilmiah.

Postingkan seperti biasa jawabannya di iMe.

 

Status :

100%

 

Keterangan :

Dikerjakan sesuai instruksi

 

Jawab :

 

Aspek Penalaran dalam Karya Ilmiah

Suatu karangan sesederhana apapun akan mencerminkan kualitas penalaran seseorang. Penalaran itu akan tampak dalam pola pikir penyusuan karangan itu sendiri. Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5 aspek. Kelima aspek tersebut adalah :

  • Aspek Keterkaitan
    Aspek keterkaitan adalah hubungan antar bagian yang satu dengan yang lain dalam suatu karangan. Artinya, bagian-bagian dalam karangan ilmiah harus berkaitan satu sama lain. Pada pendahuluan misalnya, antara latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan  dan manfaat harus berkaitan. Rumusan masalah juga harus berkaitan dengan bagian landasan teori, pembahasan, dan harus berkaitan juga dengan kesimpulan.

 

  • Aspek Urutan
    Aspek urutan adalah pola urutan tentang suatu yang harus didahulukan atau ditampilkan kemudian (dari hal yang paling mendasar ke hal yang bersifat pengembangan). Suatu karangan ilmiah harus mengikuti urutan pola pikir tertentu. Pada bagian Pendahuluan, dipaparkan dasar-dasar berpikir secara umum. Landasan teori merupakan paparan kerangka analisis yang akan dipakai untuk membahas. Baru setelah itu persoalan dibahas secara detail dan lengkap. Di akhir pembahasan disajikan kesimpulan atas pembahasan sekaligus sebagai penutup karangan ilmiah.

 

  • Aspek Argumentasi
    Yaitu bagaimana hubungan bagian yang menyatakan fakta, analisis terhadap fakta, pembuktian suatu pernyataan, dan kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan. Hampir sebagian besar isi karangan ilmiah menyajikan argumen-argumen mengapa masalah tersebut perlu dibahas (pendahuluan), pendapat-pendapat atau temuan-temuan dalam analisis harus memuat argumen-argumen yang lengkap dan mendalam.

 

  • Aspek Teknik Penyusunan
    Yaitu bagaimana pola penyusunan yang dipakai, apakah digunakan secara konsisten. Karangan ilmiah harus disusun dengan pola penyusunan tertentu, dan teknik ini bersifat baku dan universal. Untuk itu pemahaman terhadap teknik penyusunan karangan ilmiah merupakan syarat multak yang harus dipenuhi jika orang akan menyusun karangan ilmiah.

 

  • Aspek Bahasa
    Yaitu bagaimana penggunaan bahasa dalam karangan tersebut? baik dan benar? Baku? Karangan ilmiah disusun dengan bahasa yang baik, benar dan ilmiah. Penggunaan bahasa yang tidak tepat justru akan mengurangi kadar keilmiahan suatu karya sastra lebih-lebih untuk karangan ilmiah akademis.

 

Penalaran Deduktif dan Induktif

Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif dapat diartikan sebagai suatu proses berpikir di mana orang memulai dari pernyataan yang umum menuju pernyataan yang khusus (spesifik) dengan menggunakan aturan-aturan logika yang dapat diterima. Contoh :

  1. Semua manusia pasti mati (premis mayor)
  2. Scorates adalah seorang manusia (premis minor)
  3. Scorates pasti mati (kesimpulan)

Penarikan kesimpulan dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Dikatakan penarikan kesimpulan secara langsung bila ditarik dari satu premis, sedangkan bila ditarik dari dua premis disebut secara tidak langsung.
Menarik Kesimpulan secara Langsung

Konversi

Konversi merupakan penarikan kesimpulan secara langsung dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  • Subjek premis menjadi predikat kesimpulan.
  • Predikat premis menjadi subjek kesimpulan.
  • Kualitas premis sama dengan kualitas kesimpulan.
  • Term yang tidak tersebar dalam premis juga tidak tersebar dalam kesimpulan.
  • Pada proposisi universal afirmatif, polanya adalah semua S adalah P (premis) dan sebagian P adalah S (kesimpulan).

Contoh:

  • Semua kursi untuk tempat duduk. (premis)
  • Sebagian tempat duduk adalah kursi. (kesimpulan)
  • Pada proposisi universal negatif, polanya adalah tak satupun S adalah P (premis) dan tak satupun P adalah S (kesimpulan).

Oversi

Oversi merupakan cara penarikan kesimpulan secara langsung dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  • Subjek premis sama dengan subjek kesimpulan.
  • Predikat kesimpulan kontradiktori dengan predikat premis.
  • Kualitas kesimpulan kebalikan dari kualitas premis.
  • Kuantitas kesimpulan sama dengan kuantitas premis.
  • Pada proposisi universal afirmatif, polanya adalah semua S adalah P (premis) dan tidak satupun S adalah tak P (kesimpulan).

Contoh:

  • Semua rudal adalah senjata berbahaya.
  • Tak satupun rudal yang bukan senjata berbahaya.
  • Pada proposisi universal negatif, polanya adalah tidak satupun S adalah P (premis) dan semua S adalah tak P (kesimpulan).

Kontraporsisi

Kontraporsisi merupakan jenis pengambilan kesimpulan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  • Subjek kesimpulan adalah kontradiktori predikat premis.
  • Predikat kesimpulan adalah subjek premis.
  • Kualitas kesimpulan tidak sama dengan kualitas premis.
    Tidak ada term yang tersebar.

Pada proposisi universal afirmatif, polanya adalah semua S adalah P (premis), tidak satupun S adalah tak P (kesimpulan) dan tidak satupun tak P adalah S (kesimpulan).

Contoh:

  • Semua gajah adalah berbelalai.
  • Tidak satupun gajah adalah tak berbelalai.
  • Tidak satupun (yang) tak berbelalai adalah gajah.
  • Pada proposisi universal negatif, polanya adalah tidak satupun S adalah P (premis), semua S adalah tak P (kesimpulan) dan sebagian tak P adalah S (kesimpulan).

Silogisme Kategorial

Silogisme kategorial terdiri atas dua proposisi sebagai premis dan satu proposisi sebagai kesimpulan. Premis yang bersifat umum disebut premis mayor, sedangkan yang bersifat khusus disebut premis minor. Adapun dalam kesimpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek kesimpulan disebut term minor, sedangkan predikat kesimpulan disebut term mayor.

Contoh:

  • Semua binatang berjenis jantan dan betina (premis mayor)
  • Sapi adalah binatang (premis minor)
  • Jadi, sapi berjenis jantan dan betina (kesimpulan)

Silogisme Hipotesis

Silogisme hipotesis merupakan bentuk silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis. Pada silogisme hipotesis ini, bila premis mayornya membenarkan anteseden, maka kesimpulannya akan membenarkan konsekuen. Bila premis minornya menolak anteseden, maka kesimpulannya akan menolak konsekuen.

Contoh:

  • Jika kertas dibakar, kertas akan hangus.
  • Kertas dibakar.
  • Jadi, kertas hangus.
  • Jika kertas dibakar, kertas akan hangus.
  • Kertas tidak dibakar.
  • Jadi, kertas tidak akan hangus.

Silogisme Alternatif

Silogisme alternatif ditandai dengan premis mayor alternatif. Jika premis minornya membenarkan salah satu alternatif, kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.

Contoh:

  • Dia seorang guru atau pengusaha
  • Dia seorang guru.
  • Jadi, dia bukan seorang pengusaha.
  • Dia seorang guru atau pengusaha.
  • Dia bukan seorang guru.
  • Jadi, dia seorang pengusaha.

Entimen

Biasanya, silogisme jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya, dalam penarikan kesimpulan tidak mengeksplisitkan premis mayor. Hal ini dikarenakan oleh telah diketahuinya sifat dalam premis mayor tersebut. Dengan demikian, yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan.

Contoh:

  • Semua peserta upacara ikut berbaris.
  • Raehani adalah peserta upacara.
  • Jadi, Raehani ikut berbaris.
  • Dalam berkomunikasi sehari-hari, contoh silogisme di atas lebih banyak diungkapkan dalam entimen demikian: “Raehani ikut berbaris karena peserta upacara.” atau “Karena sebagai peserta upacara, Raehani ikut berbaris.”

Penalaran Induktif

Penalaran induktif merupakan penalaran yang bertolak dari pernyataan-pernyataan khusus (premis) untuk menghasilkan kesimpulan yang umum. Beberapa bentuk penalaran induktif adalah sebagai berikut:

Generalisasi
Generalisasi merupakan proses penalaran yang betumpu pada beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk menghasilkan kesimpulan umum.

Contoh:

  • Jika dipanaskan, kawat memuai.
  • Jika dipanaskan, tembaga memuai.
  • Jika dipanaskan, besi memuai.
  • Jadi, jika dipanaskan, benda logam memuai.

Analogi

Analogi merupakan proses penalaran dengan cara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama atau yang memiliki kemiripan dalam hal-hal tertentu. Apa yang berlaku pada hal yang satu akan berlaku juga pada hal yang lain karena dua hal tersebut memiliki kemiripan.

Hubungan Kausal

Hubungan kausal adalah bentuk penalaran dengan cara mengaitkan gejala-gejala yang saling berhubungan dalam hukum kausalitas. Penalaran dalam bentuk hubungan kausal ini dapat bertolak dari sebab ke akibat atau dari akibat ke sebab.
Misalnya, bila kita bakar kayu tentu akan muncul asap (sebab-akibat). Bila dari kejauhan kita tahu ada asap membumbung ke angkasa, maka kita bisa menyimpulkan bahwa di bawahnya terdapat api (akibat-sebab)

Inti/isi karangan Ilmiah

Bagian isi ialah bagian inti dalam karya ilmiah yang meliputi bab pendahuluan, bab landasan teoretis, bab objek lokasi penelitian (khusus praktik kerja), bab pembahasan (analisis data), dan bab penutup. Dengan kata lain, bagian isi merupakan penelitian si penulis. Bab pendahuluan memuat penjelasan atau pengantar tentang isi karangan ilmiah. Bab ini juga memuat landasan kerja dan arahan dalam penyusunan karangan ilmiah. Pada bagian ini, diuraikan (a) masalah yang akan diteliti, (b) contoh masalah, (c) penjelasan tentang dipilihnya masalah ini bagi penulis atau pun bagi orang lain, dan (d) argumentasi yang logis antara data (realitas) dan teori (harapan). Tujuan penelitian merupakan sasaran yang akan dicapai atau dihasilkan dalam penelitian ini(harus sejalan dengan identifikasi masalah), sedangkan kegunaan penelitian merupakan penegasan tentang manfaat yang akan dicapai baik secara teoretis maupun secara praktis. Kerangka teori berisikan prinsip-prinsip teori (dari para ahli) yang dijadikan dasar untuk menganalisis data.

1) Klasifikasi
Membuat klasifikasi mengenai sejumlah fakta, berarti memasukkan atau menempatkan fakta-fakta ke dalam suatu hubungan logis berdasarkan suatu sistem. Suatu klasifikasi akan berhenti, tidak dapat diteruskan lagi jika sudah sampai kepada individu yang tidak dapat merupakan spesies atau dengan kata lain jenis individu tidak dapat diklasifikasikan lebih lanjut meskipun dapat dimasukkan ke dalam suatu spesies. Contohnya, “Dani adalah manusia”, tetapi tidak “Manusia adalah Dani” karena Dani adalah individu dan bersifat unik.

2) Jenis Klasifikasi
Klasifikasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
Klasifikasi sederhana, suatu kelas hanya mempunyai dua kelas bawahan yang berciri positif dan negatif. Klasifikasi seperti itu disebut juga klasifikasi dikotomis (dichotomous classification dichotomy). Klasifikasi kompleks, suatu kelas mencakup lebih dari dua kelas bawahan. Dalam klasifikasi ini tidak boleh ada ciri negatif; artinya, suatu kelas tidak dikelompokkan berdasarkan ada tidaknya suatu ciri.

3) Persyaratan Klasifikasi
Klasifikasi harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa persyaratan:

  • Prinsipnya harus jelas. Prinsip ini merupakan dasar atau patokan untuk membuat klasifikasi, berupa ciri yang menonjol yang dapat mencakup semua fakta atau benda (gejala) yang diklasifikasikan.
  • Klasifikasi harus logic dan ajek (konsisten). Artinya, prinsip-prinsip itu harus diterapkan secara menyeluruh kepada kelas bawahannya.
  • Klasifikasi harus bersikap lengkap, menyeluruh. Artinya, dasar pengelompokkan yang dipergunakan harus dikenakan kepada semua anggota kelompok tanpa kecuali.

Salah Nalar

Kesalahan yang berhubungan dengan proses penalaran disebut sebagai salah nalar. Ada dua jenis kesalahan menurut penyebabnya, yaitu kesalahan karena bahasa yang merupakan kesalahan informal dan kesalahan karena materi dan proses penalarannya yang merupakan kesalahan formal.

a). Kesalahan Informal
Kesalahan informal biasanya dikelompokkan sebagai kesalahan relevansi. Kesalahan ini terjadi apabila premis-premis tidak mempunyai hubungan logis dengan kesimpulan. Yang termasuk ke dalam jenis kesalahan ini adalah:

Argumentum ad Hominem, kesalahan itu berarti “argumentasi ditujukan kepada diri orang”. Artinya, kesalahan itu terjadi bila seseorang mengambil keputusan atau kesimpulan tidak berdasarkan penalaran melainkan untuk kepentingan dirinya, dengan mengemukakan alasan yang tidak logis.

Argumentum ad Baculum, kesalahan yang terjadi apabila suatu keputusan diterima atau ditolak karena adanya ancaman hukuman atau tindak kekerasan.

Argumentum ad Verucundiam atau Argumentum Adictoritatis, kesalahan yang terjadi apabila seseorang menerima pendapat atau keputusan dengan alasan penalaran melainkan karena yang menyatukan pendapat atau keputusan itu adalah yang memiliki kekuasaan.

Argumentum ad Populum, kesalahan itu berarti “argumentasi ditujukan kepada rakyat”. Artinya, argumentasi yang dikemukakan tidak mementingkan kelogisan; yang penting agar orang banyak tergugah. Hal ini sering dilakukan dalam propaganda.
Argumentum ad Misericordiam, argumentasi dikemukakan untuk membangkitkan belas kasihan.

Kesalahan Non-Causa Pro-Causa, kesalahan ini terjadi jika seseorang mengemukakan suatu sebab yang sebenarnya merupakan sebab atau bukan sebab yang lengkap.
Kesalahan Aksidensi, kesalahan terjadi akibat penerapan prinsip umum terhadap keadaan yang bersifat aksidental, yaitu suatu keadaan atau kondisi kebetulan, yang tidak seharusnya, atau mutlak yang tidak cocok.

Petitio Principii, kesalahan ini terjadi jika argumen yang diberikan telah tercantum di dalam premisnya. Kadang-kadang petitio principii ini berwujud sebagai argumentasi berlingkar: A disebabkan B, B disebabkan C, C disebabkan D, D dan D disebabkan A.
Kesalahan Komposisi dan Divisi, kesalahan komposisi terjadi jika menerapkan predikat individu kepada kelompoknya sementara kesalahan divisi terjadi jika predikat yang benar bagi kelompok dikenakan kepada individu anggotanya.

Kesalahan karena Pertanyaan yang Kompleks, pertanyaan yang dimaksud ini bukan dinyatakan dengan kalimat kompleks saja, namun yang dapat menimbulkan banyak jawaban.

Non Secuitur (Kesalahan Konsekuen), kesalahan ini terjadi jika dalam suatu proposisi kondisional terjadi pertukaran anteseden dan konsekuen.

Ignoratio Elenchi, kesalahan ini sama atau sejenis dengan argumentum ad Hominem, ad Verucundiam, ad Baculum, dan ad Populum yaitu tidak ada relevansi antara premis dan kesimpulannya.

b). Kesalahan Formal

Kesalahan ini berhubungan erat dengan materi dan proses penarikan kesimpulan baik deduktif maupun induktif.

1). Kesalahan Induktif
Kesalahan induktif terjadi sehubungan dengan proses induktif. Kesalahan ini terjadi karena:

  • Generalisasi yang terlalu luas.
  • Hubungan sebab akibat yang tidak memadai.
  • Kesalahan analogi. Kesalahan ini terjadi bila dasar analogi induktif yang dipakai tidak merupakan ciri esensial kesimpulan yang ditarik.

2). Kesalahan DeduktifDalam cara berpikir deduktif kesalahan yang biasa terjadi adalah kesalahan premis mayor yang tidak dibatasi. Kesalahan term keempat. Dalam hal ini term tengah dalam premis minor tidak merupakan bagian dari term mayor pada premis mayor atau memang tidak ada hubungan antara kedua pernyataan. Kesimpulan terlalu luas atau kesimpulan lebih luas dari pada premisnya. Kesalahan kesimpulan dari premis-premis negatif.

Penyusunan sintesis

Sintesis

Sintesis diartikan sebagai komposisi atau kombinasi bagian-bagian atau elemen-elemen yang membentuk satu kesatuan. Selain itu, sintesis juga diartikan sebagai kombinasi konsep yang berlainan menjadi satu secara koheren, dan penalaran induktif atau kombinasi dialektika dari tesis dan antitesis untuk memperoleh kebenaran yang lebih tinggi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003) sintesis diartikan sebagai “paduan berbagai pengertian atau hal sehingga merupakan kesatuan yang selaras atau penentuan hukum yang umum berdasarkan hukum yang khusus.” Pengertian ini sejalan dengan pendapat Kattsoff (1986) yang menyatakan bahwa maksud sintesis yang utama adalah mengumpulkan semua pengetahuan yang dapat diperoleh untuk menyusun suatu pandangan dunia. Dalam perspektif lain “sintesis” merupakan kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatakan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh. Kata kerja operasional yang dapat digunakan adalah mengategorikan, mengombinasikan, menyusun, mengarang, menciptakan, mendesain, menjelaskan, mengubah, mengorganisasi, merencanakan, menyusun kembali, menghubungkan, merevisi, menyimpulkan, menceritakan, menuliskan, mengatur.. Metode Sintesis Melakukan penggabungan semua pengetahuan yang diperoleh untuk menyusun satu pandangan dunia.

Beberapa contoh dari pernyataan Sintetik adalah :

1.      Langit itu biru.
2.      Budi adalah pria yang menyebalkan
3.      Anjing itu galak
4.      Jerapah memiliki empat kaki

Sintesis Menggabungkan atau mengkompromikan dari pernyataan satu kepada pernyataan lain untuk memperoleh kesimpulan yang komprehensif.

Contoh :
1.      Ilmu adalah aktifitas
2.      Ilmu adalah metode
3.      Ilmu adalah produk

Kesimpulanya Ilmu adalah aktifitas, metode dan produk edangkan sintesis dalam penulisan karya ilmiah pada dasarnya sintesis adalah merangkum intisari bacaan yang berasal dari beberapa sumber. Kegiatan ini harus memperhatikan data publikasi atas sumber-sumber yang digunakan. Dalam tulisan laras ilmiah, data publikasi atas sumber-sumber tadi kemudian dimasukan dalam daftar pustaka. Ada sejumlah syarat yang harus diperhatikan oleh penulis dalam membuat sintesis, di antaranya (Utorodewo dkk, 2004: 97): (1) penulis harus bersikap objektif dan kritis atas teks yang digunakannya, (2) bersikap kritis atas sumber yang dibacanya, (3) sudut pandang penulis harus tajam, (4) penulis harus dapat mencari kaitan antara satu sumber dengan sumber lainnya, dan (5) penulis harus menekankan pada bagian sumber yang diperlukannya.
karangan ilmiah

Skripsi
Skripsi adalah karrya tulis ilmiah resmi akhir seorang mahasiswa dalam menyelesaikan Program Sarjana (S1). Skripsi merupakan bukti kemampuan akademik mahasiswa dalam penelitian yang berhubungan dengan masalah yang dibahas.

Tesis
Tesis merupakan karya ilmiah yang mengungkapkan pengetahuan baru dengan melakukan pengujian tehadap suatu hipotesa. jadi misal ada suatu hipotesa atau atau sesuatu yang masih praduga atau butuh diuji kebenarannya maka dilakukanlah pengujian terhadap praduga tersebut. tesis sifatnya lebih mendalam daripada skripsi. tesis ditulis untuk meraih gelar magister (S2).

Diseratsi
Pencapaian gelar akademik tertinggi adalah predikat Doktor. Gelar Doktor (Ph.D) dimungkinkan manakala mahasiswa (S3) telah mempertahankan disertasi  dihadapan Dewan Penguji Disertasi yang terdiri dari profesor atau Doktor dibidang masing-masing. Disertasi ditulis berdasarkan penemuan (keilmuan) orisinil dimana penulis mengemukan dalil yang dibuktikan berdasarkan data dan fakta valid dengan analisis terinci.
Disertasi atau Ph.D Thesis ditulis berdasarkan metodolologi penelitian yang mengandung filosofi keilmuan yang tinggi. Mahahisiswa (S3) harus mampu (tanpa bimbingan) menentukan masalah, berkemampuan berpikikir abstrak serta menyelesaikan masalah praktis. Disertasi memuat penemuan-penemuan baru, pandangan baru yang filosofis, tehnik atau metode baru tentang sesuatu sebagai cerminan pengembangan ilmu yang dikaji dalam taraf yang tinggi.

Tugas Akhir (TA)
Tugas Akhir (TA) adalah hasil tertulis dari pelaksanaan suatu penelitian, yang dibuat untuk pemecahan masalah tertentu dengan menggunkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bidang ilmu tersebut.

Perbedaan Skripsi, Tesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Perbedaan dari ketiga jenis karya ilmiah itu  secara umum adalah perbedaan dalam mendapatkan gelar. pada skripsi gelar yang akan di dapat adalah sarjana (S1), pada tesis gelar yang dapat diperoleh adalah magister (S2), dan pada disertasi gelar yang didapat adalah doktor (S3). Selain perbedaan gelar yang didapat ketiga karya ilmiah tersebut memilik perbedaan lainnya.disertasi bobot akademisnya lebih besar daripada tesis, dan tesis bobot akademisnya lebih besar dari skripsi. selain itu permasalahan yang dibahas dalam ketiga karya ilmiah itu berbeda. pada disertasi permasalahan yang dibahas lebih luas dan mendalam daripada kedua karya ilmiah lainnya karena hasil dari disertasi merupakan teori baru atau sesuatu yang baru dan asli diciptakan. pada tesis permasalahan yang dibahas lebih mendalam daripada skripsi. TA dan Skripsi mempunyai kedudukan yang sama dengan mata kuliah yang lain, tetapi berbeda bentuk, proses belajar mengajar dan cara penilaiannya. Bobot TA dan Skripsi ditentuka 4 SKS yang setara dengan kegiatan akademik setiap minggu 16-20 jam selama satu semester atau setara dengan kegiatan 400-500 jam. TA dan Skripsi merupakan tugas akhir (final assigment) dengan mempertimbangkan keterbatasan kemampuan mahasiswa dalam melakukan penelitian. Penelitian yang mendasari penulisan TA dan Skripsi ini dapat berupa penelitian dasar (basic research) atau penelitian terapan (applied research) yang didasari oleh minat intlektual mahasiswa.

Karangan Populer
Karya tulis ilmiah populer merupakan karya ilmiah yang bentuk, isi, dan bahasanya menggunakan kaidah-kaidah keilmuan, serta disajikan dalam bahasa yang santai dan mudah dipahami oleh masyarakat awam. Slamet Suseno (dalam Dalman, 2012: 156) mengemukakan bahwa karya tulis ilmiah populer lebih banyak diciptakan dengan jalan menyadur tulisan orang lain daripada dengan jalan menulis gagasan, pendapat, dan pernyataannya sendiri. Karya ilmiah populer adalah karangan ilmiah yang berisi pembicaraan tentang ilmu pengetahuan dengan teknik penyajian yang sederhana mengenai hal-hal kehidupan sehari-hari.

Tiga Masalah Pokok Dalam Menulis Karya Ilmiah :

Masalah Empirisme
Masalah empirisme yang dimaksudkan dalam persoalan menulis yang disebabkan oleh pengalaman di lapangan. Ada tiga pokok yang menyebabkan orang sulit membuat tulisan, yaitu keterbatasan penulis mengembangkan ide, pola tulisan kurang standar, dan kurang berbobot substansi tulisan.

Masalah  Retorika
Retorika maksudnya adalah cara mengungkapan ide. Retorika melalui tulisan tertuang dalam bentuk kelancaran ide, linier tidaknya administrasi, pola penyajian data pendukung, dan pola membuat kesimpulan dari suatu argumentasi. Dalam karya ilmiah, retorika yang dianggap memiliki bobot ilmiah ialah tulisan dengan retorika linear. Dalam bentuk tulisan, retorika ini mengacu pada jenis wacana. Setiap jenis wacana mempengaruhi secara jelas bentuk retorika, pilihan kata (diksi), dan tata bahasa yang digunakan penulis. Dalam aspek ini dikenal dengan jenis wacana yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.Perbedaan mendasar antara masing-masing jenis wacana tersebut meliputi empat hal yaitu teknik penyajian alasan (reasoning), teknik memilih urutan penyajian, teknik penggunaan diksi, dan teknik menerapkan gaya tulisan.
Masalah Linguistik. Masalah linguistik berarti masalah penguasaan bahasa. Dalam aspek ini ada empat hal yang dijadikan acuan yaitu sintaksis, gramatika, diksi dan kosa kata dan mekanik.Aspek sintaksis ialah kemampuan penulis dalam menyajikan ide dalam bentuk kalmat sederhana, kalimat majemuk, kalimat kompleks, dan kalimat majemuk-kompleks. Penulis harus menunjukkan penguasaan gramatika secara baik, benar dan standar. Kekeliruan menggunakan gramatika ini sangat mengganggu dan menghilangkan ide. Dari aspek pilihan kata, kekeliruan terjadi misalnya dalam penggunaan kata asing. Contoh karangan ilmiah popular , kita mempunyai keahlian membuat kue dan ingin mengajarkannya kepada orang lain. Kita tulis bahan-bahannya, cara membuat adonan, cara mencetak, cara memanggang, dan cara menyajikannya secara berurutan kemudian dimuat di suatu majalah, jadilah sebuah karya ilmiah populer. Karya ilmiah populer paling sederhana bisa dilihat di majalah-majalah dinding baik di sekolah maupun di rumah sakit. Di rumah sakit biasa ada tulisan-tulisan cara merawat bayi, cara mengatasi demam berdarah, cara mengatasi muntaber, dan lain-lain. Artikel-artikel tersebut termasuk karya ilmiah populer meskipun ditulis dengan bahasa sederhana dan ringkas, tetapi pada dasarnya ditujukan untuk menyampaikan ilmu pengetahuan.

Jurnal ilmiah
Jurnal merupakan suatu kutipan dari laporan di dalam jurnal terdapat point-point penting dari laporan tersebut.
Terdapat berbagai jurnal ilmiah yang mencakup semua bidang ilmu, juga ilmu sosial dan humaniora. Penerbitan dalam bentuk artikel ilmiah biasanya lebih penting untuk bidang ilmu pengetahuan alam maupun kedokteran dibandingkan dengan bidang akademik lain.
Di bawah ini adalah contoh jurnal ilmiah : Bidang IPA:

•    Astrophysical Journal – astronomi
•    Nature – IPA secara umum
•    Oikos – ekologi
•    Organic Letters – kimia organik
•    Science – IPA secara umum

Indonesia juga banyak memiliki jurnal ilmiah, di bidang Kedokteran dan Kesehatan di antaranya : Medical Journal of Indonesia (MJI) Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia (JIMKI) Majalah Kedokteran Indonesia Jurnal Kesehatan Andalas. Ciri-ciri Karya Ilmiah Karya ilmiah menggunakan bahasa keilmuan, yaitu ragam bahasa yang menggunakan istilah-istilah keilmuan yang khusus dan hanya dapat dipahami oleh pakar pada bidang tertentu. Oleh karena itu penulis karya ilmiah hendaknya mengambil topic permasalahan karya ilmiah nya sesuai bidang yang ditekuni agar hasil karya-karya ilmiahnya dapat lebih terperinci dan mendalam. Ciri-ciri bahasa keilmuan sebagai media karya ilmiah antara lain :

1. Reproduktif, artinya bahwa maksud yang ditulis oleh penulisnya diterima dengan makna yang sama oleh pembaca.

2. Tidak ambigu, artinya tidak bermakna ganda akibat penulisnya kurang menguasai materi atau kurang mampu menyusun kalimat dengan subjek dan predikat yang jelas.

3. Tidak Emotif, artinya tidak melibatkan aspek perasaan penulis. Hal-hal yang diungkapkan harus rasional, tanpa diberi tambahan pada subjektifitas penulisnya.

4. Penggunaan bahasa baku dalam ejaa, kata, kalimat dan paragraf. Penulis harus menggunakan bahasa mengikuti kaidah tatabahasa agar tulisannya tidak mengandung salah tafsir bagi pembaca.

5. Penggunaan istilah keilmuan, artinya penulis karya ilmiah harus mempergunakan istilah-istilah keilmuan bidang tertentu sebagai bukti penguasaan penulis terhadap ilmu yang tidak dikuasai oleh penulis pada bidang yang lain.

6. Bersifat dekoratif, artinya penulis dalam karya ilmiah harus menggunakan istilah atau kata yang hanaya memiliki satu makna.

7. Rasional, artinya penulis harus menonjolkan keruntutan pikiran yang logis, alur pemikiran yang lancer, dan kecermatan penulisan.

8. Ada kohesi antarkalimat pada setiap paragraf dalam setiap bab.

9. Bersifat straightforward atau langsung ke sasaran. Tulisan ilmiha hendaknya tidak berbelit-belit, tetapi langsung ke penjelasan atau paparan yang hendak disampaikan kepada pembaca.

10. Penggunaaan alimat efektif, artinya kalimat itu padat berisi, tidak berkepanjangan (bertele-tele), sehingga makna yang hendak disampaikan kepada pembaca tepat mencapai sasaran (Rahayu, 207 : 50).

Persyaratan Penulis Laporan Ilmiah
Dari persyaratan pembuat laporan seperti yang dikemukakan di atas dapat dikemukakan dalam rumusan lain bahwa penulis laporan ilmiah haruslah memenuhi kriteria berikut.

1. Kesesuaian bidang ilmu penulis laporan atau salah satu anggota tim penulis dengan laporan ilmiah yang ditulisnya. Hal ini berkaitan dengan karakter metode ilmiah yang digunakan dalam laporan ilmiah tersebut.

2. Bagi penulis laporan ilmiah pemula, dapat melihat contoh-contoh laporan ilmiah lain yang memiliki banyak kesamaan kebutuhan dari isi laporannya, atau memastikan apakah dari pemberi perintah memberi suatu pagu sistematika tersendiri.

3. Kesediaan intelektualnya untuk selalu membuka pikiran terhadap hal-hal yang baru, dan memungkinkan untuk mengubah keyakinan intelektualnya.

 

Persyaratan bagi Pembuat Laporan,menurut Mukayat Brotowidjojo :
•    memiliki pengetahuan tangan pertama;
•    memiliki sifat tekun dan teliti;
•    bersifat objektif;
•    kemampuan untuk menganalisis dan menyamaratakan;
•    kemampuan mengatur fakta secara sistematis;
•    pengertian akan kebutuhan pembaca.

Ciri-Ciri Laporan menurut Mukayat Brotowidjojo
•    pembacanya tertentu;
•    berupa laporan panjang;
•    sangat objektif;
•    bahasa dan nada formal;
•    perencanaan mantik dalam rumusan lain:
•    ditujukan kepada pembaca tertentu;
•    sistematika laporan disesuaikan dengan pemberi perintah;
•    bahasanya formal,
•    memerhatikan kaidah-kaidah ilmiah;
•    objektif.

Tugas 8

Pertanyaan :

Pelajari bahan ajar 8 dengan topik bahasan mengenai DIKSI

Tugas Anda adalah sbb :

  1. Berikan penjelasan apa yang dimaksud dengan Ameliorasi berikan contohnya
  2. Berikan penjelasan apa yang dimaksud dengan Homonim berikan contohnya
  3. Berikan penjelasan apa yang dimaksud dengan Sinonim berikan contohnya
  4. Berikan penjelasan apa yang dimaksud dengan Antonim berikan contohnya
  5. Berikan penjelasan apa yang dimaksud dengan Sinestesia berikan contohnya

Jawaban bisa Anda cari dari berbagai sumber (inet, literatur dsb)

Postingkan jawaban Anda di iMe dan jawaban sesuai standar iDu

Status :

100&

Keterangan:

Dikerjakan sesuai instruksi

Jawab :

 

1. Ameliorasi adalah perubahan makna suatu kata yang membuat kata tersebut menjadi lebih sopan, lebih halus dari kata yang digunakan sebelumnya.

Contoh Kata dan Kalimatnya :

  • buta – tuna netra (Kata tuna netra menjadi lebih sopan diucapkan dibandingkan kata buta)
    • Nenek menjadi seorang yang buta sejak ia menginjak usia 60 tahun.
    • Nenek menjadi seorang tuna netra sejak ia menginjak usia 60 tahun.
  • bui, penjara – lembaga pemasyarakatan
    • Beberapa bulan yang lalu sempat dilaporkan bahwa terdapat beberapa narapidana Penjara Nusa Kambangan yang kabur.
    • Beberapa bulan yang lalu sempat dilaporkan bahwa terdapat beberapa narapidana Lembaga Pemasyarakatan Nusa Kambangan yang kabur.
  • bini – istri
    • Salah seorang da’i kondangan yang punya banyak penggemar itu sempat diberitakan memiliki bini lebih dari satu.
    • Salah seorang da’i kondangan yang punya banyak penggemar itu sempat diberitakan memiliki istri lebih dari satu.

 

 

2. Homonim merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani yakni homo dan onoma. Homo memiliki arti sama dan onoma memiliki arti nama. Sehingga jika digabungkan, homonim memiliki arti relasi makna antar kata yang ditulis sama atau dilafalkan sama namun memiliki arti yang berbeda. Apabila dilihat dari proses pembentukan, homonim sendiri bisa dijadikan 4 jenis yang berbeda-beda, yakni:

a. Homonim Dari 2 Bahasa Atau Dialek. Jenis homonim pertama terbentuk dari 2 buah kata yang berasal dari bahasa atau dialek berbeda, seperti contohnya pada kata kali. Kali memiliki arti kelipatan atau sungai. Kata kali yang memiliki arti kelipatan berasal dari bahasa Melayu, sementara kali yang memiliki arti sungai berasal dari bahasa Jawa.

b. Homonim Dari Proses Afiksasi. Afiksasi merupakan proses penambahan afiks di dasar, akar atau alas. Pasangan homonim bisa terjadi karena tambahan imbuhan di kata dasar seperti contohnya kata “merapatkan”. Pada kata merapatkan yang berasal dari kata rapat ini mendapat imbuhan me- dan juga -kan. Kata merapatkan dapat berarti mempererat atau menjadikannya rapat, atau mengajak untuk melakukan rapat sebagai cara untuk membicarakan sesuatu atau berunding.

c. Homonim Dari Penyingkatan. Homonim juga bisa terbentuk dari penyingkatan sebuah kata seperti contohnya pada singkatan PBB. Singkatan PBB dapat berarti Perserikatan Bangsa Bangsa, juga dapat berarti Pajak Bumi dan Bangunan atau juga dapat memiliki arti Peraturan Baris Berbaris.

d. Homonim Dari Gejala Bahasa. Pembentukan kata homonim dapat terjadi karena penambahan fonem dan juga penghilangan fonem. Contoh kata “gajih”. Kata gajih bisa merupakan lemak dan bisa merupakan upah kerja. Pada kata gajih “lemak” mendapat penambahan fonem “h” di belakang kata.

Contoh Kata dan Kalimatnya :

  • Hak
    • Marta membeli sepatu hak tinggi baru untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatnya.
    • Semua warga Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam segi hukum yang berlaku di Indonesia.
  • Gelar
    • Setelah 10 tahun menempuh pendidikan di Universitas tersebut, akhirnya Santo berhasil mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran dengan nilai yang sangat memuaskan.
    • Ibu menggelar banyak tikar yang akan digunakan sebagai tempat duduk para tamu yang akan datang dalam acara arisan sore nanti.

 

 

3. Sinonim merupakan sebuah kata yang memiliki bentuk berbeda akan tetapi mempunyai arti atau pengertian yang mirip atau serupa atau setidaknya hampir sama. Sinonim biasanya disebut juga dengan persamaan atau padanan kata.

Kata sinonim yang berasal dari bahasa Yunani Kuno ini diambil dari kata syn yang memiliki arti “dengan” dan kata “onomo” yang memiliki arti nama. Sehingga, jika diartikan, kata sinonim berarti persamaan arti atau makna diantara dua kata atau lebih.

Definisi Sinonim

Cara untuk mendefinisikan sinonim terdapat 3 batasan yang bisa diungkapkan yaitu:

  • Kata-kata dengan mengacu pada ekstralinguistik yang sama seperti mampus dan mati
  • Kata-kata dengan arti atau makna yang sama seperti mengatakan dan mengucapkan
  • Kata-kata yang bisa di subsitusi dengan konteks sama seperti “Kamu akan berusaha belajar dengan giat” dan “kami akan berupaya belajar dengan giat”. Kata berusaha bersinonim dengan kata berupaya.

Pengelompokkan Sinonim

  • Sinonim Absolut. Relasi arti dari dua kata atau lebih yang sama pada semua konteks. Di dalam sebuah bahasa, kata yang bersinonim absolut umumnya jarang ditemukan.
  • Sinonim proporsional. Relasi arti dari 2 kata atau lebih yang bisa bersubditusi dengan beberapa ekspresi tanpa menimbulkan perbedaan arti. Dalam sinonim proporsional ini, perbedaan ada pada tingkat makna ekspresif, stilistik dan juga medan pembicaraan seperti suami dan laki, kamu dan anda, buat dan bikin.
  • Sinonim dekat. Relasi arti antara 2 kata atau lebih yang sebagian kata memiliki arti sama seperti besar dan luar biasa, cantik dan ayu, buta dan rabun.

Perbedaan sinonim bisa terjadi karena beberapa penyebab seperti :

  1. Adanya Beda Kebiasaan atau Dialek – Perbedaan kebiasaan atau dialek orang setempat bisa membuat perbedaan pada sinonim, seperti jika dalam dialek Jakarta ada kata gue, dialek Ambon ada kata beta, dialek bahasa Indonesia ada kata aku dan saya. Kata aku dan saya sendiri juga merupakan dua kata yang sinonim, namun aku hanya dipakai untuk orang sebaya saja dan tidak digunakan untuk orang yang lebih tua.
  2. Perbedaan Penggunaan – Perbedaan pada sinonim juga bisa terjadi karena adanya perbedaan dalam penggunaan kata tersebut, seperti meninggal dan mati. Pada kata meninggal umumnya digunakan untuk manusia, contohnya seorang kakek di desaku baru saja meninggal dunia tadi malam. Sedangkan untuk kata mati, umumnya digunakan untuk tumbuhan dan hewan seperti kucing saya baru saja mati kemarin karena sakit.
  3. Perbedaan Hiponim – Perbedaan yang terjadi dalam sinonim juga bisa terjadi karena adanya perbedaan dalam hiponim. Seperti pada kata kambing yang merupakan hiponim dari binatang.
  4. Perbedaan Nilai Kata – Terakhir, perbedaan sinonim bisa terjadi karena adanya perbedaan dari nilai kata seperti contohnya kata menyantap lebih halus jika dibandingkan dengan makan, kata memohon lebih halus dibandingkan dengan meminta.

Contoh Kata Sinonim dan Kalimatnya

  • Perspektif = Sudut Pandang
    • Jika dilihat dari segi perspektif hukum, semua yang ia lakukan terbukti melanggar hukum.
    • Petinju itu memiliki potensi yang sangat luar biasa berdasarkan sudut pandang pelatihnya.
  • Bohong = Dusta
    • Semua yang Andi katakan kepadamu adalah cerita bohong.
    • Aku berharap, tidak akan pernah ada dusta diantara hubungan kita berdua.

 

 

4.  Antonim biasa disebut dengan lawan kata, yaitu kata yang memiliki makna yang berlawanan dengan kata lain. Penggunaan kata yang berlawanan biasa digunakan dalam pepatah. Contoh dari kata antonim yaitu gelap-terang, kaya-miskin, tinggi-pendek.

Contoh Kata dalam Kalimat :

  • Asli >< Palsu
    • Gado-gado merupakan makanan khas betawi dan asli dari Indonesia.
    • Polisi menemukan produksi uang palsu di sebuah rumah kontrakan di kota Bekasi.
  • Amatir >< Ahli
    • Detik-detik tsunami Aceh terekam video amatir oleh warga setempat.
    • Para ahli sedang melakukan penelitian terhadap temuan yang dianggap fosil manusia purba.

 

 

5.  Sinestesia adalah perubahan makna pada suatu kata yang mengalami pertukaran makna, dimana makna yang mengalami pertukaran terjadi karena tanggapan dari dua hal yang dihubungkan dengan panca indera.

Contoh Kata dalam Kalimat :

  • dingin
    • Pantas saja saat bangun tadi pagi terasa dingin sekali, ternyata turun hujan deras. (dingin dalam kalimat ini makna yang sesungguhnya yang dirasakan oleh kulit/tubuh)
    • Sikapnya padaku berubah jadi dingin sejak aku tidak menghadiri acara ulang tahunnya minggu lalu. (dingin dalam kalimat ini merupakan makna sinestesia karena bukan dirasakan dengan kulit atau tubuh, tetapi dilihat oleh panca indera penglihatan)
  • manis
    • Aku suka bubur kacang hijau buatan kakak karena rasa manisnya pas di lidahku.
    • Gadis kecil itu manis sekali jika rambutnya dikepang dua saat memakai seragam sekolah. (manis, seharusnya dirasakan oleh lidah, namun dalam kalimat ini manis dilihat oleh panca indera penglihatan)
  • tajam
    • Sebelum mulai berjualan penjual daging itu mengasah pisaunya sampai tajam agar ia mudah memotong daging nantinya.
    • Dia memberikan pandangan yang sangat tajam untuk mengekspresikan rasa marahnya. (tajam seharusnya dirasakan oleh kulit, namun dalam kalimat ini di rasakan oleh mata)

Kalimat Efektif

Pengertian Kalimat Efektif

Kalimat efektif merupakan kalimat yang tersusun atas kaidah yang berlaku, seperti unsur penting yang harus dimiliki setiap kalimat (subjek dan predikat), memperhatikan ejaan yang disempurnakan dan juga cara memilih kata (diksi) yang tepat dalam kalimat.

Kalimat yang sesuai kaidah tersebut jelas akan lebih mudah dipahami oleh pembaca atau pendengar. Menurut para ahli menyatakan pendapatnya tentang kalimat efektif, antara lain:

Menurut JS. Badudu, kalimat efektif yaitu kalimat yang baik karena apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh si pembaca (si penulis dalam bahasa tulis) dapat diterami dan dipahami oleh pendengar (pembaca dalam bahasa tulis) sama benar dengan apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh si penutur atau si penulis.

Definisi lain dari kalimat efektif merupakan jenis kalimat yang bisa memberikan efek tertentu dalam komunikasi. Efek yang ditujukan disini adalah kejelasan informasi.

Ciri-Ciri Kalimat Efektif

Terdapat ciri-ciri kalimat efektif dan contohnya antara lain yakni:

Kesepadanan

Kesepadanan merupakan keseimbangan antara gagasan dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat bisa terlihat dari kesatuan pokok pikiran suatu kalimat yang kompak dan kesepadanan pikiran yang baik.

Ciri-ciri kesepadanan struktur suatu kalimat, antara lain:

  • Kalimat tersebut harus mempunyai subjek dan predikat yang jelas
  • Tidak ada subjek yang ganda
  • Kalimat konjungsi intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal
  • Predikat kalimat tidak didahului kata penghubung.

Dibawah ini adalah contoh kalimat efektif yang sepadan, antara lain adalah:

  • Dalam rapat itu bisa diambil tiga keputusan (salah)
    Rapat itu mengambil tiga keputusan (benar)
  • Di sekolah kami mengadakan lomba menulis (salah)
    Sekolah kami mengadakan lomba puisi (benar)

Kesajajaran

Kesejajaran merupakan kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang dipakai dalam kalimat. Apabila bentuk pertama memakai verba, yang kedua juga harus memakai verba dan jika kalimat pertama memakai kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat selanjutnya juga harus memakai kata kerja berimbuhan me-. Dibawah ini adalah contoh kalimat efektif yang sejajar, antara lain:

  • Dani menolong orang itu dengan digotongnya ke pinggir jalan (Salah)
  • Dani menolong orang itu dengan menggotongnya ke pinggir jalan (Benar)
Baca Juga:  √ Jenis-jenis Novel dan Contohnya (Pembahasan Terlengkap)

Ketegasan Makna

Ketegasan yaitu perlakuan, penekanan atau penonjolan kepada sebuah ide pokok dari suatu kalimat. Terdapat beberapa cara yang harus dijalankan untuk membuat penekanan dalam sebuah kalimat antara lain:

1. Meletakkan ide pokok di depan kalimat, contohnya seperti:

  • Harapan kami ialah supaya persoalan ini bisa kita bicarakan pada kesempatan lain (salah)
  • Pada kesempatan lain, kami berharap kita bisa membicarakan lagi soal ini (benar)

2. Membuat rangkaian kata yang bertahap, contohnya seperti:

  • Tidak seribu, sejuta, atau seratus tapi berjuta-juta rupiah sudah disumbangkan kepada anak yatim (salah)
  • Tidak seratus, seribu, atau sejuta tapi berjuta-juta rupiah telah disumbangkan kepada anak yatim (benar)

3. Melakukan pengulangan kata (repetisi). Misalnya seperti: Cerita ini benar-benar menarik, cerita ini sangat menyedihkan.

4. Memakai partikal penegasan, misalnya partikel -lah, -pun, dan -kah. Misalnya seperti dapatkah mereka mengerti maksud pembicaraanku?

Kecermatan

Kecermatan merupakan tidak memakai kata yang mempunyai banyak arti atau tafsiran ganda, dan tepat dalam pilihan kata. Misalnya seperti:

  • Siswa kelas XI yang terkenal itu mendapatkan hadiah (salah)
  • Siswa yang terkenal di kelas XI itu mendapatkan hadiah (benar)

Kehematan

Kehematan ialah memakai kata, frasa atau bentuk lain dengan wajar dan seperlunya saja. Tetapi perlu diingat bahwa tidak menyalahi dengan kaidah tata bahasa. Pemakaian kata yang berlebih akan merusak maksud kalimat. Terdapat beberapa hal yang harus dicermati dalam penghematan kata, antara lain:

  • Menghilangkan pengulangan subjek
  • Menghindari pemakaian kata yang menggambarkan nama taksonomi dan anggotanya.
  • Menghindari sinonim dalam sebuah kalimat
  • Tidak menjamakkan kata yang berupa jamak

Contohnya adalah:

  • Doni memakai sepatu warna putih (salah)
  • Doni memakai sepatu putih (benar)

Kepaduan

Kepaduan merupakan penggunaan gabungan kata supaya informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah dan dapat dipahami. Terdapat beberapa hal yang harus dicermati dalam kepaduan kalimat, antara lain:

  • Kalimat tidak berkepanjangan dan tidak mencerminkan cara berpikir yang bukan sistematis.
  • Kalimat memakai bentuk aspek, agen, verbal secara tertib dalam kalimat yang berpredikat pasif pesona
  • Kalimat tidak harus menyelipkan kata seperti dibanding atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.

Contohnya adalah:

  • Laporan ini mengulas tentang desain interior pada rumah modern (salah)
  • Laporan ini mengulas desain interior pada rumah modern (benar)

Kelogisan

Makna kelogisan dalam kalimat efektif adalah kalimat tersebut bisa dengan mudah dipahami dan penulisannya sesuai dengan EYD. Dibawah ini adalah contoh kalimat efektif yang logis.

Pak Andi mengajar mata kuliah Jurnalistik di kampus (salah)
Pak Andi mengajarkan mata kuliah Jurnalistik di kampus (benar)

Baca Juga:  √ Pengertian Surat Niaga, Fungsi, Jenis dan Contohnya (Lengkap)

Lebih simpel, ciri-ciri kalimat efektif yakni:

  • Memakai diksi yang tepat
  • Mempunyai unsur pokok atau penting, minimal subjek predikat
  • Taat pada tata aturan ejaan yang disempurnakan (EYD) yang berlaku
  • Melakukan penekanan ide pokok
  • Memiliki acuan terhadap penghematan pemakaian kata
  • Memakai kesejajaran bentuk bahasa yang digunakan
  • Memakai variasi struktur kalimat
  • Memakai kesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis dan sistematis
  • Mewujudkan koherensi yang baik dan kompak
  • Memperhatikan pararelisme
  • Merupakan komunikasi yang berharkat
  • Diwarnai kehematan
  • Berdasarkan pada pilihan kata yang baik

Syarat-Syarat Kalimat Efektif

Terdapat beberapa syarat atau prinsip kalimat efektif, antara lain:

Sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Kalimat efektif haruslah memakai ejaan maupun tanda baca yang tepat. Kata baku juga harus menjadi perhatian supaya kata yang ditulis mempunyai tepat ejaannya.

Sistematis
Kalimat paling sederhana merupakan kalimat yang mempunyai susunan subjek dan predikat, lalu ditambahkan dengan objek, pelengkap sampai keterangan. Sebisa mungkin untuk mengefektifkan kalimat, rancanglah kalimat yang urutannya tidak memusingkan. Apabila memang tidak ada penegasan, subjek dan predikat diusahakan selalu berada di awal kalimat.

Hemat Kata
Kalimat yang ditulis jangan terlalu banyak menghambur-hamburkan kata yang terlihat bertele-tele. Pastikan susunan kalimat yang dirumuskan pasti dan ringkas supaya orang yang membacanya mudah menangkap gagasan yang dituangkan.

Tidak Ambigu
Kalimat efektif sangat penting untuk menghindari pembaca dari multitafsir. Dengan susunan kata yang ringkas, sistematis dan sesuai kaidah kebahasaan, maka pembaca tidak akan kesulitan memaknai ide dari kalimat, menjadikan tidak ada kesan ambigu.

Pengertian Kalimat Efektif, Ciri-Ciri, Syarat, Contoh

Contoh Kalimat Efektif dan Tidak Efektif

Dibawah ini adalah beberapa contoh kalimat efektif dan tidak efektif:

  • Kepada bapak kepala desa waktu dan tempat kami persilahkan. (Kalimat tidak efektif)
    Kepada bapak kepala desa kami persilahkan. (Kalimat efektif)
  • Motor yang diparkir yang diujung itu milikku. (Kalimat tidak efektif)
    Motor yang diparkir di ujung itu milikku. (Kalimat efektif)
  • Hanya ini saja yang bisa kuberikan. (Kalimat tidak efektif)
    Hanya ini yang bisa kuberikan. (Kalimat efektif)
  • Buku itu telah dibaca oleh papa. (Kalimat tidak efektif)
    Buku itu telah papa baca. (Kalimat efektif)
  • Kesehatannya telah pulih kembali (Kalimat tidak efektif)
    Kesehatannya telah pulih. (Kalimat efektif)

 

Kalimat Majemuk

Pengertian Kalimat Majemuk

kalimat majemuk
pexels.com

Kalimat Majemuk adalah sebuah kalimat yang memiliki dua pola klausa atau lebih, yang terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat. Setiap kalimat yang ada pasti memiliki klausa di dalamnya yang terdiri dari gabungan antara subjek dan predikat, serta objek, atau pelengkap maupun keterangan.

Jadi bisa diartikan, kalimat majemuk adalah kalimat yang memiliki subjek, predikat, dan objek atau pelengkap lebih dari satu.

Biasanya ada kata sambung/konjungsi diantara dua kalimat tersebut. Kata penghubung ini berfungsi untuk mengaitkan satu kalimat pada kalimat lain.

Terkadang juga kita tak akan menemukan kata sambung dalam kalimat. Karena ada jenis kalimat yang sifatnya perluasan, jadi kata sambung tidak dibutuhkan dalam kasus ini. Tapi dari kebanyakan kalimat, kita lebih menjumpai kalimat yang memiliki kata sambung.

 

Ciri Ciri Kalimat Majemuk

  1. Terdiri dari dua klausa yang saling berhubungan menggunakan konjungsi.
  2. Dari penggabungan antar kalimat tersebut menghasilkan kalimat dan makna baru.
  3. Isi kalimat yang terdiri dari subjek, predikat serta kalimat penjelas lebih dari satu.

Jenis-Jenis Kalimat Majemuk

Ada beberapa jenis kalimat yang harus kemu ketehui dari kalimat majemuk, antara lain kalimat majemuk setara, ratapan, bertingkat, perluasan, campuran.

Kalimat Majemuk Setara

kalimat majemuk setara
pexels.com

Kalimat jenis ini mempunyai dua klausa yang sifatnya sama sederajat dan digabungkan melalui konjungsi. Kedua klausa ini bersifat koordinatif yang artinya dari kedua klausa ini mampu untuk menjadi kalimat sendiri apabila kata penghubungnya dihilangkan atau dihapus.

Konjungsi yang biasa digunakan dalam kalimat majemuk jenis ini adalah dan, sementara, lalu.

Contoh :

Klausa 1 : Kakak bermain voli.

Klausa 2 : Adik menonton pertandingan di pinggir lapangan.

Gabungan : Kakak bermain voli, sementara adik menonton pertandingan di pinggir lapangan.

Dari klausa pertama dan kedua, masing-masing memiliki bentuk klausa yang utuh yang terdiri dari subjek dan predikat. Kita bisa melihat apabila kata sambung ‘sementara’ dihilangkan, maka akan tetap bisa menjadi kalimat yang sempurna.

Kedua kalimat tersebut masih bisa berdiri sendiri dan menjadi kalimat yang baik, karena masih mengandung subjek dan predikat. Dari situlah kita bisa mengetahui kalau penggabungan dua klausa tersebut adalah jenis kalimat majemuk setara.

Baca juga : Pengertian Kalimat Efektif (lengkap) Ciri, Syarat dan Contoh Kalimat

Kalimat Majemuk Rapatan

kalimat majemuk rapatan
pexels.com

Kalimat jenis ini mirip dengan kalimat majemuk setara. Berbedaannya hanya pada subjeknya yang dari penggabungan kedua klausa tersebut dijadikan menjadi satu atau dirapatkan.

Konjungsi yang biasa digunakan dari kalimat majemuk jenis ini adalah dan, serta, juga, dan tanda koma (,)

Contoh :

Klausa 1 : Ihsan menulis cerpen

Klausa 2 : Galuh menulis cerpen

Gabungan : Ihsan dan Galuh menulis cerpen

Kita bisa lihat dari contoh di atas, kalimat pertama dan kalimat kedua memiliki predikat dan objek yang sama dan setingkat, hanya saja subjek dari contoh di atas yang membedakan.

Jadi kita bisa tau fungsi dari kalimat majemuk jenis ini adalah untuk menggabungkan dua subjek yang terdapat dari masing-masing klausa, sehingga menjadi satu kalimat yang digabungakan dengan menggunakan konjungsi ‘dan’.

Kalimat Majemuk Bertingkat

kalimat majemuk bertingkat
pexels.com

Kalimat jenis ini isi dari kalimatnya terdiri dari induk kalimat dan anak kalimat. Dari sini kedua klausa yang terdapat dalam kalimat majemuk jenis ini tidak bisa dipisah jika konjunginya dihilangkan.

Karena anak kalimat dari klausa tersebut tidak akan menjadi kalimat yang sempurna tanpa ada induk kalimat. Kedua klausa tersebut atau lebih tidak sama tingkat atau sejajar. Karena dari ketidak sejajaran tersebutlah anak kalimat tidak bisa berdiri sendiri.

Konjungsi yang biasa digunakan pada kalimat majemuk jenis ini adalah ketika, walaupun, sebab, karena dan meskipun. 

Contoh :

Klausa 1 : Lisa sering terlambat datang ke sekolahan

Klausa 2 : rumahnya sangat jauh

Gabungan :Lisa sering terlambat sekolah karena rumahnya sangat jauh.

Penjelasanya adalah, kalimat yang pertama merupakan induk kalimat.

Kenapa bisa dikatakan dengan induk kalimat?

Karena pada klausa pertama terdapat unsur klausa yang lengkap, seperti subjek (Lisa), predikat (terlambat). Dari sini jugalah klausa bisa menjadi kalimat sempurna sendiri tanpa harus ada konjungsi maupun anak kalimat.

Sedangkan klausa yang kedua, maka kita sebut dengan anak kalimat. Karena tidak memenuhi unsur klausa yang lengkap, hanya ada predikat di dalam satu kalimat tersebut.

Baca juga : Memahami Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Pada Sebuah Cerpen

Kalimat Majemuk Perluasan

kalimat majemuk perluasan
pexels.com

Sama halnya di atas, kalimat ini memiliki induk kalimat dan anak kalimat. Pada jenis kalimat ini anak kalimat yang terdapat di dalamnya berupa perluasan atau pengembangan dari kalimat sebelumnya, yaitu induk kalimat.

Anak kalimat di sini sebetulnya sifatnya mampu untuk berdiri sendiri atau termasuk kalimat sempurna, tapi pada kalimat ini klausa kedua digunakan sebagai penjelasan dari klausa pertama.

Kenapa anak kalimat di sini bisa dikatan berdiri sendiri atau termasuk kalimat yang sempurna? Karena pada anak kalimat di sini terdapat unsur yang lengkap, seperti predikat dan objek.

Konjungsi yang digunakan biasanya menggunakan kata ‘yang’. Konjungsi ini berfungsi menghubungkan kepada anak kalimat menjelaskan sifat dari kalimat induk.

Contoh :

Klausa 1 : Kacamatanya mulai rusak

Klausa 2 : Kacamatanya dibeli pada tiga tahun lalu

Gabungan : Kacamatanya yang dibeli pada tiga tahun yang lalu mulai rusak

Begitulah salah satu contoh kalimatnya.  Jadi klausa yang kedua sebetulnya masih bisa menjadi kalimat yang sempurna sendiri apabila dihilangkan kata penghubungnya.

Namun karena sifat penjelas yang dimiliki klausa kedua, membuat dia menjadi anak kalimat yang menjelaskan dari kalimat induk sebelumnya.

Baca juga : 1001 Kumpulan Ucapan Romantis Selamat Pagi, Malam, dan Ulang Tahun yang Keren 2018

Kalimat Majemuk Campuran

kalimat majemuk campuran
pexels.com

Kalimat jenis ini adalah kalimat yang terdiri dari berbagai campuran klausa dan kalimat majemuk. Kalian akan mendapati campuran berbagai macam kalimat dari kalimat-kalimat majemuk perluasan, rapatan, maupun setara.

Dalam kalimat ini, kita akan menemukan kalimat konjungsi lebih dari satu, Entah itu bersifat koordinatif atau juga tidak. Jumlah klausanya pun lebih dari dua. Bisa tiga, empat ataupun lebih, tergantung pada panjang kalimat tersebut dan maknanya sendiri.

Contoh :

Klausa 1 : Saya bermain sepak bola di lapangan

Klausa 2 : Miqdad bermain sepak bola di lapangan

Klausa 3 : Buhori bermain sepak bola di lapangan

Klausa 4 : hujan deras

Gabungan : Saya, Miqda dan Buhori bermain sepak bola di lapangan, meskipun hujan deras

Dari contoh di atas kita bisa lihat bahwa klausa satu sampai tiga adalah induk kalimat yang bisa digabungkan menjadi kalimat majemuk rapatan. Karena dari ketiga klausa itu memiliki predikat, objek dan keterangan yang sama. Hanya dibedakan dari subjeknya saja.

Selain dari itu, klausa kata ‘hujan deras’ merupakan kalimat yang tidak sempurna dan menjadi anak kalimat. Jadi bila kata konjungsi dari contoh kalimat di atas dibuang, maka kata ‘hujan deras’ tidak bisa dikatakan menjadi kalimat yang sempurna.

Jenis Penelitian

Penelitian Dasar dan Terapan

Penelitian-penelitian yang dilakukan baik di bidang sosial, pendidikan dan bidang lainnya. Secara garis besar berdasarkan tujuannya dibedakan menjadi dua yaitu penelitian dasar (basic research) dan penelitian Terapan (applied research). Mari kita mempelajari lebih lanjut mengenai penelitian tersebut

A. Penelitian Dasar

Penelitian dasar (basic research) disebut juga penelitian murni (pure research) atau penelitian pokok (fundamental research) adalah penelitian yang diperuntukan bagi pengembangan suatu ilmu pengetahuan serta diarahkan pada pengembangan teori-teori yang ada atau menemukan teori baru. Peneliti yang melakukan penelitian dasar memiliki tujuan mengembangkan ilmu pengetahuan tanpa memikirkan pemanfaatan secara langsung dari hasil penelitian tersebut. Penelitian dasar justru memberikan sumbangan besar terhadap pengembangan serta pengujian teori-teori yang akan mendasari penelitian terapan. Penelitian dasar lebih diarahkan untuk mengetahui, menjelaskan, dan memprediksikan fenomena-fenomena alam dan sosial. Hasil penelitian dasar mungkin belum mapu mengatasi secara langsung masalah namun dapat menajadikannya lebih baik (Dharma, 2008). Tujuan penelitian dasar adalah untuk menambah pengetahun ilmiah dan hukum-hukum dalam kehidupan .

Penelitian dasar dapat digeneralisisakan karena bersifat abstak dan umum. Penelitian dasar tidak secara langsung menyelesaikan masalah praktis melainkan dijadikan sebagai dasar dalam menyelesaikan masalah-masalah praktis. Dengan kata lain, hasil penelitian dasar dapat mempengaruhi kehidupan praktis. Contoh penelitian dasar yang terkait erat dengan bidang pendidikan misalnya penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan manusia terhadap hasil belajar. Hasil penelitian tersebut dapat dijadikan referensi dalam mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses pembelajaran

B. Penelitian Terapan

Penelitian terapan dilakukan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan. Penelitian terapan hasilnya tidaklah untuk dipertahankan didepan pakar ataupun disimpan dalam perpustakaan melainkan harus diuji di dalam kenyataan yaitu impelementasinya harusnya dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tingkst kecermatan tidak boleh mempengaruhi pelaksanaan penelitan menjadi lamban karena banyak masalah yang membutuhkan penanganan secepatnya.

Penelitian terapan dilakukan karena manusia membutuhkan solusi dari sebuah masalah yang dihadapi dimana adanya ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang terdapat dalam kondisi yang dihadapinya. Tanpa kebutuhan tersebut maka penelitian terapan tidak banyak manfaatnya karena kondisi sekarang banyak hal yang perlu disempurnakan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Ciri-ciri penelitian terapan pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan ciri-ciri didlam metodologi penelitian. Ciri-ciri yang dimaksud sebagai berikut :

Penelitian terapan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menmukan kebenaran objektif. Data sebagai bukti ilmiah sebagai pendukung kebenaran hasil penelitian terapan adalah data yang berasal dari sumber pertama (primer) agar terjamin keasliannya dan ketepatannya agar dapat dipercaya
Penelitian terapan harus menggunakan metode yang tepat. Metode yang digunakan haruslah sesuai dengan prosedur kerja yang diikuti dengan ketelitian agar menghasilkan kebenaran yang dipertanggungjawabkan.
Penelitian terapan perlu menggunakan teori-teori atapun pengalaman bersifat terpakai karena teori dan pengalaman tersebut tidak hanya digunakan dalam penyusunan kerangka teori tetapi juga dalam menyusun kesimpulan dan hasil yang dikaitkan dengan data yang telah dikumpul.
Penelitian Terapan menggunakan data yang dikumpulkan secara lengkap dan objektif. Data yang dikumpulkan harus mengcover semua hal yang berhubungan dengan masalah. Peneliti tidak boleh berat sebelah dalam pengumpulan data dimana hanya menghimpun data yang mendukung ataupun sebaliknya karena berdampak pada hasil kebenaran yang tidak objektif
Penelitian terapan tidak hanya menyajikan data tetapi juga dengan pengolahan data baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Pengolahan data menjadi jaminan dari kesimpulan yang akan digunakan dalam menyelesaikan masalah.
Penelitian terapan dilaporkan secara jelas, sistematis dan objektif agar mudah dipahami pembaca sehingga dapat bermanfaat.
Penelitian terapan biasanya memfokuskan masalah pada gejala alam atau gejala social dengan berbagai kekurangan ataupun kelemahan yang merugikan manusia bilamana dibiarkan saja. Untuk mencegah kondisi tersebut perlu penanganan yang tepat sehingga penelitian terapan lebih menitikberatkan pada asas kebermanfaatnnya di kehidupan nyata.
C. Jenis Penelitian Terapan

Dari uraian-uraian diatas bahwa penelitan terapan merupakan bagian dari metodologi penelitian sehingga erat kaitannya dengan jenis penelitian lain yang saling berintegrasi antara satu dengan yang lainnya. Hal tersebut berarti penelitian terapan dapat berfungsi sesusai dengan jenis penelitian yang diintegrasikan dengannya. Jenis penelitian tersebut adalah:

Penelitian Terapan sebagai penelitan eksploratif
Penelitian Terapan sebagai Penelitian Verifikatif
Penelitan Terapan sebagai Penelitian Pengembangan
Penelitan Terapan sebagai Penelitian Laboratorium
Penelitan Terapan sebagai Penelitian Kepustakaan
Penelitan Terapan sebagai Penelitian Lapangan
Penelitan Terapan sebagai Penelitiadeksriptif
Penelitan Terapan sebagai Penelitian Inferensial
D. Tugas penelitian terapan adalah sebagai berikut

Setiap Penelitian terapan seharusnya dapat mendeksripsikan dan menjelaskan kondisi masalah yang terjadi tanpa mengetahui masalah yang terjadi secara mendalam maka akan sulit dalam merumuskan kesimpulan dan menyusun implementasi nya sebagai saran dalam menyelesaikan masalah. Tidak hanya memaparkann gejalanya tetapi juga dilengkapi dengan data yang relevan dan objektif
Tugas Prediktif, Peneliti terapan harus mampu melakukan prediksi mengenai masalah yang akan diungkapnya. Menganalisa masalah untuk menghasilkan sebuah prediksi yang baik perlu adanya data yang objektif bukan hanya data sekarang namun perlu data masa lalu untuk memperkuat prediksi.
Tugas Kontrol,Tugas penelitian terapan harus dilanjutkan dengan merumuskan kesimpulan, implementasi dan cara untuk mengendalikan gejala-gejala agar sesuai dengan kejadian yang diahrapkan. Penelitian terapan perlu diadakan pengontrolan agar hasil dari kesimpulan penelitian dapat mengatasi masalah yang dihadapai dapat teratasi
E. Masalah dalam penelitian terapan

Penelitian terapan hanya layak digunakan pada masalah yang realistis yang berate benar-benar ada dalam kehidupan masyarakat dan perlu selesalikan. Peneliti harus selektif dalam memilih masalah yang penting untuk diselesaikan. Ada masalahyang dapat diatasi menggunakan satu disiplin ilmu tetapi banyak juga masalah yang harus diselesaikan secara multidisipliner. Beberapa kriteria pemlihan masalah sebagai berikut :

Masalah penelitian terapan harus sesuatu yag berguna untuk diselesaikan. Kegunaan itu berarti hasilnya harus bermanfaat dalam menunjang aktivitas kehidupan manusia sehari-hari artinya manfaatnya memiliki nilai nilai praktis baik bagi penelit maupun orang lain.
Masalah penelitian terapan bersifat konkret sesuai dengan realita kehidupan, artinya penelitian terapan dapat diimpelemntasikan dalam kehidupan nyata bukan pada ranah imajinasi yang sulit dilaksanakan.
Keselarasan antara pengetahuan peneliti dengan masalah yang akan dihadapi menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan masalah yang akan diteliti agar dapat diselesaikan secara tuntas dan tepat serta tidak mengada ada/menimbulkan masalah akibat ketidakpahaman mengenai masalahnya.
Masalah harus menarik dan penting untuk diteliti agar peneliti dapat termotivasi dalam menyelesaikan masalah tersebut. Masalah yang dipilih biasanya yang penting dan mendesak untuk diselesaikan.
Masalah untuk penelitian terapan harusnya menghasilkan sesuatu yang baru minimal di lingkungan yang di selidiki karena terkadang terdapat beberapa masalah yang sama di tempat yang berbeda oleh karena itu biasanya membutuhkan penanganan yang berbeda pula agar masalah yang dihadapi dapat ditangani dengan baik dan tepat
Masalah dalam penelitian terapa tidak boleh terlalu luas dan terlalu sempit karena hasil kesimpulannya hanya berlaku diwilayah yang diselidiki dan jangka waktu tertentu
Masalah dalam penelitian terapan dapat dikumpulkan datanya secara objektif, lengkap dan tepat

Daftar Pustaka

Dharma, Surya. 2008. Pendekatan, Jenis, dan Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Dirjen PMPTK.

 

sumber : https://penalaran-unm.org/penelitian-dasar-dan-terapan/

Pertemuan 7

Silakan Anda baca dan pelajari PUEBI  I N I

 

A.    Latihan 1 (Materi pertemuan 3)

  1. Sebutkan ragam-ragam bahasa yang Anda ketahui?
  2. Mengapa ragam bahasa itu perlu dikelompok-kelompokkan?
  3. Apa perbedaan yang menonjol antara ragam lisan dan ragam tulis suatu bahasa?
  4. Bagaimana pendapat Anda tentang bahasa baku dan bahasa tidak baku?

 B.     Latihan 2 (materi pertemuan 5)

1.      Tunjukkan induk kalimat dan anak kalimat pada kalimat majemuk bertingkat berikut!

a.  Karena komputer bekerja cepat dalam mengolah data, produksi dapat segera disesuaikan dengan laju permintaan.

  • Induk kalimat …
  • Anak kalimat …
  • Predikat induk kalimat adalah …
  • Subjek induk kalimat adalah …
  • Predikat anak kalimat adalah …

b.      Suatu perhitungan akan lebih mudah dipahami jika disajikan dalam bentuk grafik.

  • Induk kalimat …
  • Anak kalimat …
  • Predikat induk kalimat adalah …
  • Subjek induk kalimat adalah …
  • Predikat anak kalimat adalah …

2.      Perbaiki kalimat berikut sesuai dengan kaidah penyusunan kalimat yang benar.

  • Dalam Undang-Undang 1945, Bab XV, Pasal 36 menyatakan bahwa bahasa negara adalah bahasa Indonesia.
  • Dengan kejernihan air sungai memberikan kesejukan dan kesehatan bagi kita semua.
  • Bagi segenap sivitas akademika harap bergabung dengan para tamu.
  • Jika perusahaan menemukan kesalahan pada bahan baku yang dikirimkan, maka perusahaan harus segera melaporkan dan mengembalikan bahan baku tersebut kepada supplier.
  • Penulis telah berusaha menyimpulkan data, menganalisis data, dan data-data dikumpulkan.
  • Dalam perjalanan ke luar negeri itu Presiden mengunjungi beberapa negara-negara Timur Tengah.
  • Ia menyadari sepenuhnya kalau manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Sehingga amatlah perlu untuk hidup bermasyarakat.
  • Peringatan hari Sumpah Pemuda beberapa mahasiswa menampilkan berbagai kegiatan kesenian.
  • Segala usaha dilakukan dalam menangani masalah devaluasi dan perbaikan masalah keuangan.
  • Perkara yang diajukan ke meja hijau berjumlah 51 buah. Sedangkan perkara yang telah selesai disidangkan berjumlah 23 buah.

C.  Latihan 2 (pertemuan 6)

  1. Apa yang dimaksud dengan paragraf efektif? Jelaskan dengan diberikan contoh!
  2. Paragraf efektif harus memenuhi tuntutan kohesi dan koherensi. Apa yang dimaksud dengan kedua konsep itu? Jelaskan !
  3. Paragraf tidak dimungkinkan mengandung dua ide pokok. Dengan pula tidak mungkin ada dua kalimat pokok dalam sebuah paragraf. Setujukah Anda dengan itu? Jelaskan !
  4. Kalimat mana yang membuat paragraf ini sumbang, garis bawahi!
  • Pimpinan Wisma Sehati memperhitungkan berapa buah rumah yang dapat dibangunnya dengan 300 ton pasir yang tertumpuk di Jalan H. Boang. Dari pasir itu ia, dapat membangun sebuah kompleks rumah murah yang terdiri atas 125 buah rumah. Tidak demikian halnya dengan PT Bling Jaya. Pimpinan Bling Jaya akan memperhitungkan jumlah keuntungan yang diperolehnya dari pasir itu kalau pasir itu dibuat kaca. Lain lagi pandangan seorang pekerja kapal keruk. Pekerja kapal keruk memandang pasir itu sebagai penghalang yang perlu disingkirkan karena pasir merupakan musuh besarnya ketika mengeruk sebuah dasar sungai. Kapal keruk itu mondar-mandir di sekitar Sungai Batanghari. Jadi, jelaslah bahwa setiap orang akan memandang suatu objek dengan makna yang berbeda sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Pertemuan 6

PEMBENTUKAN PARAGRAF YANG PADU

A.   Pengertian Paragraf

Paragraf adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan kalimat (Finoza, 2005: 149). Penggabungan kalimat tersebut membicarakan suatu gagasan atau topik. Seluruh kalimat memperbincangkan satu masalah atau sekurang-kurangnya bertalian erat dengan masalah tersebut.

Sebuah paragraf ditandai dengan memulai kalimat pertama agak menjorok ke dalam, kira-kira dua sentimeter. Selain itu, dapat menambahkan tanda sebuah paragraf dengan memberikan jarak agak renggang dari paragraf sebelumnya. Dengan demikian, memudahkan para pembaca dalam melihat permulaan  tiap paragraf.

B.  Struktur Sebuah Paragraf

Struktur atau rangka sebuah paragraf terdiri atas sebuah kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Kalimat  topik adalah kalimat yang berisi topik atau inti pembicaraan yang dibicarakan pengarang. Karena topik paragraf adalah pikiran utama dalam sebuah paragraf, maka kalimat topik merupakan kalimat utama dalam paragraf itu.

1.  Ciri kalimat utama, yaitu

  • Sebagai contoh “David Beckham adalah pemain sepak bola yang sukses” adalah kalimat utama yang dijelaskan lebih lanjut apa saja yang membuktikan bahwa David Beckham seorang yang sukses.
  • Kalimat yang dibuat harus mengandung permasalahan yang berpotensi untuk diperinci atau diuraikan lebih lanjut.
  • Kalimat lengkap yangd apat berdiri sendiri
  • Tanpa memerlukan kata penghubung, baik kata penghubung intrakalimat maupun kata penghubung antarkalimat.

2.  Ciri kalimat penjelas:

  • Kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri (dari segi arti);
  • Kalimat ini kadang-kadang baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain dalam satu paragraf;
  • Sering memerlukan bantuan kata penghubung;
  • Isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data tambahan lain yang bersifat mendukung kalimat topik.

C.  Fungsi dan Syarat-syarat Pembentukan Paragraf

  1. Fungsi Paragraf : paragraf dibuuat oleh pengarang tentunya memiliki beberapa fungsi yang akan memudahkan pengaran membuat tulisan. Adapun fungsi pembentukan paragraf sebagai berikut:
  • Menandai pembukaan atau awal ide/gagasan baru;
  • Mengembangkan lebih lanjut tentang ide sebelumnya;
  • Menegaskan terhadap gagasan yang diungkapkan terlbih dahulu. (Niknik, 2010: 154)
  1. Syarat-syarat Pembentukan Paragraf : Paragraf yang baik harus memiliki lima ketentuan, yaitu kesatuan paragraf, kepaduan paragraf, keruntutan paragraf, ketuntasan paragraf, dan kesamaan sudut pandang paragraf.

a.  Kesatuan Paragraf

Dalam sebuah paragraf terdapat hanya satu pokok pikiran yang diwujudkan dalam kalimat utama. Oleh karena itu, kalimat-kalimat yang membentuk paragraf  harus ditata secara cermat agar tidak ada satu pun kalimat yang menympang dari ide pokok paragraf itu.  Kalau ada kalimat yang menyimpang dari pokok pikiran paragraf itu, paragraf menjadi tidak beertautan dan tidak utuh.

Perhatikan paragraf berikut:

Jateng sukses. Kata-kata ini meluncur gembira dari pelatih regu Jateng setelah selesai pertandingan final Kejurnas Tinju Amatir, Minggu malam, di Gedung Olahraga Jateng, Semarang. Kota Semarang terdapat di pantai utara Pulau Jawa, Ibu Kota Provinsi Jateng. Pernyataan itu dianggap wajar karena apa yang dimpi-impikan selama ini dapat terwujud, yaitu satu medali emas, satu medali perak, dan satu medali perunggu. Hal itu ditambah lagi oleh pilihan petinju terbaik yang jatuh ke tangan Jateng. Hasil yang diperoleh itu adalah prestasi paling tinggi yang pernah diraih oleh Jateng dalam arena seperti itu..

b.   Kepaduan Paragraf

Kepaduan paragraf dapat terlihat melalui penyususnan kalimat secara logis dan padu. Agar kalimat bertahan secara logis dan padu dengan menggunakan

  • kata penghubung, baik kata penghubung intrakalimat maupun kata penghubung intrakalimat.

Kata penghubung intrakalimat adalah kata yang menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat. Contohnya : karena, sehingga, tetapi, sedangkan, apabila, jika, maka, dan lain-lain.

Kata penghubung antarkalimat adalah kata yang menhubungkan kalimat yang satu dengan yang lainnya. Contohnya: oleh karena itu, jadi, kemudian, namun, selanjutnya, bahkan, dan lain-lain. Contoh paragraf yang padu.

Di Pulau Jawa, Bali, Madura, dan Lombok kelebihan tenaga kerja sedangkan di pulau lain kekurangan. Oleh sebab itu, sebagian tenaga kerja dari keempat pulau tersebut dipindahkan ke pulau-pulau lain yang kekurangan tenaga kerja. Dengan demikian, akan terjadi pemerataan tenaga kerja di Indonesia.

Contoh paragraf yang tidak padu:

Sudah tidak dipungkiri dalam kehidupan manusia, kebutuhan air minum merupakan faktor utama. Di berbagai belahan bumi peningkatan kesehatan sangatlah berhubungan  erat dengan masalah air minum. Secara ilmiah sumber air minum yang terdapat dalam belahan bumi yang beriklim empat musim dapat dikategorikan lebih baik, namun daerah yang beriklim dua musim sangat dilema, terutama di Indonesia yang sampai saat ini masih sulit mendapatkan standar kualitas air minum yang baik.

  • Kata ganti
  • Kata kunci

Contoh:

Syarat paragraf yang baik adalah adanya kesatuanKesatuan berarti setiap paragraf hanya mengandung satu pokok pikiranPokok pikiran diwujudkan dalam kalimat utamaKalimat utama diletakan di awal paragraf (deduktif) atau di akhir paragraf (induktif).

 D.  Jenis-jenis Paragraf

  1. Menurut Posisi Kalimat Topik

Berdasarkan posisi kalimat topik, paragraf dibedakan atas empat macam, yaitu (1) paragraf deduktif, yaitu paragraf yang meletakkan kalimat topik pada awal paragraf; (2) paragraf induktif, yaitu paragraf yang meletakkan kalimat topik di akhir paragraf; (3) paragraf campuran, yaitu paragraf yang meletakkan kalimat pokok di awal dan di akhir paragraf. Kalimat pada akhir paragraf umumnya menegaskan kembali gagasan utama yang terdapat pada awal paragraf; (4) paragraf penuh kalimat topik, yaitu seluruh kalimat yang membangun paragraf sama pentingnya sehingga tidak satu pun kalimat khusus menjadi kalimat topik karena kalimat yang satu dengan yang lainnya sama penting.

  1. Menurut Sifat Isinya

Berdasarkan sifat isinya, paragraf digolongkan atas lima macam, yaitu

  • Paragraf persuatif, yaitu paragraf yang berisi mempromosikan sesuatu dengan cara mempengaruhi atau mengajak pembaca agar melakukan sesuatu.
  • Paragraf argumentati, yaitu paragraf yang mengemukakan suatu pendapat beserta alasannya.
  • Paragraf naratif, yaitu paragraf yang menceritakan atau mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa. Bentuk ini mementingkan urutan kejadian dan tokoh (Sudarno, 1997: 117)
  • Paragraf deskriptif, yaitu paragraf yang menggambarkan suatu objek sehingga pembaca seakan bisa melihat, mendengar, atau merasakan objek yang digambarkan itu. Objek yang dideskripsikan dapat berupa orang, benda, atau tempat. Cirinya ada objek yang digambarkan.
  • Paragraf eksposisi, yaitu paragraf yang menginformasikan suatu teori, teknik, kiat, atau petunjuk sehingga orang yang membacanya akan bertambah wawasannya. Cirinya ada informasi.

3.   Menurut Fungsinya dalam Karangan

Berdasarkan fungsinya dalam karangan, paragrraf dibedakan atas tiga macam, yaitu

  • Paragraf Pengembang.  Paragraf pengembang bertujuan untuk mengembangkan pokok pembicaraan suatu karangan yang sebelumnya telah dirumuskan di paragraf pembuka. Isi dari paragraf pengembang diantaranya, contoh-contoh dan ilustrasi, inti permasalahan, dan uraian pembahasan. Paragraf pengembang di dalam karangan berfungsi untuk:  1) Mengemukakan inti persoalan; 2) Memberi ilustrasi dan contoh; 3) Menjelaskan hal yang akan diuraikn pada paragraf berikutnya; 4) Meringkas paragraf sebelumnya; 5) Mempersiapkan dasar atau landasan bagi simpulan.
  • Paragraf Pembuka : Isi paragraf pembuka bertujuan mengutarakan suatu aspek pokok pembicaraan dalam karanagan. Paragraf pembuka berfungsi untuk 1) menghantar pokok pembicaraan; 2) menarik miat dan perhatian pembaca; 3) menyiapkan atau menata pikiran pembaca untuk mengetahui isi seluruh karangan.
  • Paragraf Penutup :  Paragraf penutup berisi simpulan bagian karangan (subbab, bab) atau simpulan seluruh karangan. Paragraf ini merupakan ernyataan kembali maksud penulis agar lebih jelas.

E.   Pengembangan Paragraf

Paragraf dapat dikembangkan dengan cara pertentangan, perbandingan, analogi, contoh, sebab akibat, definisi, dan klasifikasi. Dalam praktik mengarang, ketuju cara tersebut dapat digunakan silih berganti sesuai keperluan penulisnya. Jika hendak membuat definisi pakailah cara definisi; jika akan menerangkan proses, pakailah cara proses; jika akan menganalisis, pakailah cara sebab akibat; dan seterusnya.

1.  Cara pertentangan

Pengembangan paragraf dengan cara pertentangan biasanya menggunakan ungkapan-ungkapan seperti berbeda dengan, bertentangan dengan, sedangkan, lain halnya dengan, akan tetapi.

2.  Cara perbandingan

Pengembangan paragraf dengan cara perbandingan biasanya menggunakan ungkapan-ungkapan seperti serupa dengan, seperti halnya, demikian juga, sama dengan, sejalan dengan, akan tetapi, sedangkan, dan sementara itu.

3.  Cara analogi

Analogi adalah bentuk pengungkapan suatu objek yang dijelaskan dengan objek lain yang memiliki kesamaan atau kemiripan. Biasanya dialakukan dengan bantuan kiasan. Kata-kata yang digunakan yaitu ibaratnya, seperti, dan bagaikan.

4.  Cara contoh

Kata seperti, misalnya, contohnya, dan lain-lain adalah ungkapan-ungkapan dalam pengembangan paragraf dengan contoh.

5.  Cara sebab akibat

Pengembangan paragraf dengan cara sebab akibat dilakukan jika menerangkan suatu kejadian, baik dari segi penyebab maupun dari segi akibat. Ungkapan yang digunakan yaitu padahal, akibatnya, oleh karena itu, dan karena.

6.  Cara definisi

Yang dimaksud dengan definisi adalah usaha penulis untuk menerangkan pengertian atau konsep istilah tertentu.Adalah, yaitu, ialah merupakan kata-kata yang digunakan dalam mengembangkan paragraf dengan cara definis. Kata adalah biasanya digunakan jika sesuatu yang akan didefinisikan diawali dengan kata benda, yaitu digunakan jika sesuatu yang akan didefinisikan diawali dengan kata kerja atau sifat. Jika akan menjelaskan sinonim suatu hal, kata ialah digunakan dan jika akan mendefinisikan pengertian rupa atau wujud, kata merupakan yang dipakai.

Contoh:

Apakah psikologi itu? R.S. Woodwort berpendapat, “ Psikologi ialah ilmu jiwa,” sedangkan menurut Crow dan Crow “Psikologi adalah kejiwaan manusia dalm berinteraki dengan dunia sekitar”. Sementara itu, Santian mengemukakan bahwa psikologi merupakanperwujudan tingkah laku manusia.

7.  Cara klasifikasi

Cara klasifikasi adalah pengembangan paragraf melalui pengelompokan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Kata-kata atau ungkapan yang lazim digunakan yaitu dibagi menjadi, digolongkan menjadi, terbagi menjadi.