Pertemuan 4

PERKEMBANGAN EJAAN DI INDONESIA

  1. Pengertian Ejaan

Yang dimaksud ejaan menurut Zaenal Arifin dan Amran Tasai (2012: 27) adalah “Keseluruhan perangkat aturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antar lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa).” Secara teknis dapat dikatakan bahwa ejaan merupakan cara untuk mengatur penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan pemakaian tanda baca. Lamuddin Finoza mengatakan ejaan adalah “ Seperangkat aturan atau kaedah pelambangan bunyi bahasa-pemisahan, penggabungan, dan penulisan-dalam suatu bahasa”.
Ejaan merupakan kaedah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa terutama dalam bahasa tulis demi keteraturan dan keseragaman bentuk. Keseragaman bentuk ini akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Jadi, ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya.

  1. Fungsi EYD

Adapun fungsi ejaan sebagai berikut:
1. Sebagai landasan pembakuan tata bahasa.
2. Landasan pembakuan kosakata dan peristilahan.
3. Alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia.

  1. Perkembangan Ejaan dari Ejaan Van Ophuisjen hingga EYD

Perkembangan Ejaan di Indonesia mengalami beberapa perubahan mulai dari Ejaan van Ophuijsen hingga EYD. Berikut penjelasan perubahan ejaan yang pernah berlaku di Indonesia:

  1. Ejaan van Ophuijsen

Perkembangan ejaan di Indonesia di awali dengan Ejaan van Ophuijsen. Van Ophuijsen (nama seorang guru besar Belanda yang juga pemerhati bahasa) merancang ejaan itu dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim . Ejaan van Ophuijsen ditetapkan sebagai ejaan bahasa Melayu pada 1901 dengan huruf Latin oleh Pemerintah Belanda yang berkuasa di Indonesia pada masa itu. Ejaan van Ophuijsen dipakai selaama 46 tahun, lebih lama dari Ejaan Republik dan baru diganti setelah dua tahun Indonesia merdeka. Ciri khas yang meninjol dalam Ejaan van Ophuijsen sebagai berikut:

  • Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
  • Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
  • Tanda diakritik, seperti koma, ain, dan tanda trema untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, ta’, dinamai’.
  1. Ejaan Soewandi

Setelah mengalami perkembangan kedudukan Ejaan van Ophuijsen tergantikan oleh Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia) ditetapkan pada 19 maret 1947. Ejaan Soewandi dipakai selama dua puluh lima tahun. Adapun Ciri yang menonjol dari Ejaan Soewandi adalah.

  • Huruf oe diganti dengan u, seperti pada penulisan kata guru, itu, umur.
  • Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada penulisan kata tak, pak, maklum, rakjat.
  • Kata ulang boleh ditulis dengan angka-2, seperti pada penulisan kata anak2, berjalan2, ke-barat2-an.
  • Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti pada penulisan kata depan dirumah, dikebun, disamakan dengan penulisan imbuhan di- pada kata ditulis dan dikarang.
  1. Ejaan Pembaharuan

Ejaan Pembaharuan disusun oleh Priyono dan Katopo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan kebudayaan Nomor : 48/s, tanggal 19 Juli 1956. Hal yang menarik dalam Ejaan Pembaharuann sebagai berikut:
a. Gabungan konsonan dj diubah menjadi j
b. Gabungan konsonan tj diubah menjadits
c. Gabungan konsonan ng diubah menjadi n
d. Gabungan konsonan nj diubah menjadi ny
e. Gabungan konsonan sj diubah menjadi sy
f. Gabungan konsonan jai diubah menjadi ai
g. Gabungan konsonan au diubah menjadi aw
h. Gabungan konsonan oi diubah menjadi oy

  1. Ejaan Melindo

Pada akhir 1959sidang perutusan Indonesia dan melayu (Slamet Mulyana –Indonesia dan Syeh Nasir bin Ismail – Malaysia) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo(Melayu- Indonesia). Ejaan Melindo gagal diresmikan dan diberlakukan karena pada saat itu terjadi ketegangan politik antara Indonesia dengan Malaysa.

  1. Ejaan baru (Ejaan LBK)

Ejaan baru (Ejaan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan) bersama P3B (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan kebudayaan No. 062/67,19 September 1967. Perubahan yang terdapat dalam Ejaan baru (Ejaan LBK) sebagai berikut:
a. Huruf dj —- j seperti pada kata remadja —- remaja
b. Huruf tj —- c seperti pada kata batja —- baca
c. Huruf nj —- ny seperti pada kata bunji —- bunyi
d. Huruf sj —- sy seperti pada kata sjarat —- syarat
e. Huruf ch —- kh seperti pada kata machluk —- makhluk
f. Huruf e’ —- e seperti pada kata ekor —- ekor
g. Huruf j —- y seperti pada kata partjaja —- percaya

  1. EYD  Pada 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian ejaan bahasa indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan sebagai patokan pemakaian ejaan.
  2. PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA (PUEBI). Tahun 2015. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Pedoman ini disusun untuk menyempurnakan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD). Pedoman ini diharapkan dapat mengakomodasi perkembangan bahasa Indonesia yang makin pesat. Penyempurnaan terhadap ejaan bahasa Indonesia telah dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penyempurnaan tersebut menghasilkan naskah yang pada tahun 2015 telah ditetapkan menjadi Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Untuk lebih mengenal lagi  adanya penyempurnaan ejaan Bahasa Indonesia harap Anda buka dan pelajari/klik/tap

PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA (PUEBI) INI  

 

About Endang Suryana

Tak Ada Orang yang Terlalu Tua Untuk Belajar (Holbrook Jackson) ==================================== Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang bodoh akan mengerjakannya tiga hari kemudian. (Abdullah Ibnu Mubarak)

Leave a Reply