Daily Archives: March 7, 2020

Pertemuan 7

Silakan Anda baca dan pelajari PUEBI  I N I

 

A.    Latihan 1 (Materi pertemuan 3)

  1. Sebutkan ragam-ragam bahasa yang Anda ketahui?
  2. Mengapa ragam bahasa itu perlu dikelompok-kelompokkan?
  3. Apa perbedaan yang menonjol antara ragam lisan dan ragam tulis suatu bahasa?
  4. Bagaimana pendapat Anda tentang bahasa baku dan bahasa tidak baku?

 B.     Latihan 2 (materi pertemuan 5)

1.      Tunjukkan induk kalimat dan anak kalimat pada kalimat majemuk bertingkat berikut!

a.  Karena komputer bekerja cepat dalam mengolah data, produksi dapat segera disesuaikan dengan laju permintaan.

  • Induk kalimat …
  • Anak kalimat …
  • Predikat induk kalimat adalah …
  • Subjek induk kalimat adalah …
  • Predikat anak kalimat adalah …

b.      Suatu perhitungan akan lebih mudah dipahami jika disajikan dalam bentuk grafik.

  • Induk kalimat …
  • Anak kalimat …
  • Predikat induk kalimat adalah …
  • Subjek induk kalimat adalah …
  • Predikat anak kalimat adalah …

2.      Perbaiki kalimat berikut sesuai dengan kaidah penyusunan kalimat yang benar.

  • Dalam Undang-Undang 1945, Bab XV, Pasal 36 menyatakan bahwa bahasa negara adalah bahasa Indonesia.
  • Dengan kejernihan air sungai memberikan kesejukan dan kesehatan bagi kita semua.
  • Bagi segenap sivitas akademika harap bergabung dengan para tamu.
  • Jika perusahaan menemukan kesalahan pada bahan baku yang dikirimkan, maka perusahaan harus segera melaporkan dan mengembalikan bahan baku tersebut kepada supplier.
  • Penulis telah berusaha menyimpulkan data, menganalisis data, dan data-data dikumpulkan.
  • Dalam perjalanan ke luar negeri itu Presiden mengunjungi beberapa negara-negara Timur Tengah.
  • Ia menyadari sepenuhnya kalau manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Sehingga amatlah perlu untuk hidup bermasyarakat.
  • Peringatan hari Sumpah Pemuda beberapa mahasiswa menampilkan berbagai kegiatan kesenian.
  • Segala usaha dilakukan dalam menangani masalah devaluasi dan perbaikan masalah keuangan.
  • Perkara yang diajukan ke meja hijau berjumlah 51 buah. Sedangkan perkara yang telah selesai disidangkan berjumlah 23 buah.

C.  Latihan 2 (pertemuan 6)

  1. Apa yang dimaksud dengan paragraf efektif? Jelaskan dengan diberikan contoh!
  2. Paragraf efektif harus memenuhi tuntutan kohesi dan koherensi. Apa yang dimaksud dengan kedua konsep itu? Jelaskan !
  3. Paragraf tidak dimungkinkan mengandung dua ide pokok. Dengan pula tidak mungkin ada dua kalimat pokok dalam sebuah paragraf. Setujukah Anda dengan itu? Jelaskan !
  4. Kalimat mana yang membuat paragraf ini sumbang, garis bawahi!
  • Pimpinan Wisma Sehati memperhitungkan berapa buah rumah yang dapat dibangunnya dengan 300 ton pasir yang tertumpuk di Jalan H. Boang. Dari pasir itu ia, dapat membangun sebuah kompleks rumah murah yang terdiri atas 125 buah rumah. Tidak demikian halnya dengan PT Bling Jaya. Pimpinan Bling Jaya akan memperhitungkan jumlah keuntungan yang diperolehnya dari pasir itu kalau pasir itu dibuat kaca. Lain lagi pandangan seorang pekerja kapal keruk. Pekerja kapal keruk memandang pasir itu sebagai penghalang yang perlu disingkirkan karena pasir merupakan musuh besarnya ketika mengeruk sebuah dasar sungai. Kapal keruk itu mondar-mandir di sekitar Sungai Batanghari. Jadi, jelaslah bahwa setiap orang akan memandang suatu objek dengan makna yang berbeda sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Pertemuan 6

PEMBENTUKAN PARAGRAF YANG PADU

A.   Pengertian Paragraf

Paragraf adalah satuan bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan kalimat (Finoza, 2005: 149). Penggabungan kalimat tersebut membicarakan suatu gagasan atau topik. Seluruh kalimat memperbincangkan satu masalah atau sekurang-kurangnya bertalian erat dengan masalah tersebut.

Sebuah paragraf ditandai dengan memulai kalimat pertama agak menjorok ke dalam, kira-kira dua sentimeter. Selain itu, dapat menambahkan tanda sebuah paragraf dengan memberikan jarak agak renggang dari paragraf sebelumnya. Dengan demikian, memudahkan para pembaca dalam melihat permulaan  tiap paragraf.

B.  Struktur Sebuah Paragraf

Struktur atau rangka sebuah paragraf terdiri atas sebuah kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Kalimat  topik adalah kalimat yang berisi topik atau inti pembicaraan yang dibicarakan pengarang. Karena topik paragraf adalah pikiran utama dalam sebuah paragraf, maka kalimat topik merupakan kalimat utama dalam paragraf itu.

1.  Ciri kalimat utama, yaitu

  • Sebagai contoh “David Beckham adalah pemain sepak bola yang sukses” adalah kalimat utama yang dijelaskan lebih lanjut apa saja yang membuktikan bahwa David Beckham seorang yang sukses.
  • Kalimat yang dibuat harus mengandung permasalahan yang berpotensi untuk diperinci atau diuraikan lebih lanjut.
  • Kalimat lengkap yangd apat berdiri sendiri
  • Tanpa memerlukan kata penghubung, baik kata penghubung intrakalimat maupun kata penghubung antarkalimat.

2.  Ciri kalimat penjelas:

  • Kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri (dari segi arti);
  • Kalimat ini kadang-kadang baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain dalam satu paragraf;
  • Sering memerlukan bantuan kata penghubung;
  • Isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data tambahan lain yang bersifat mendukung kalimat topik.

C.  Fungsi dan Syarat-syarat Pembentukan Paragraf

  1. Fungsi Paragraf : paragraf dibuuat oleh pengarang tentunya memiliki beberapa fungsi yang akan memudahkan pengaran membuat tulisan. Adapun fungsi pembentukan paragraf sebagai berikut:
  • Menandai pembukaan atau awal ide/gagasan baru;
  • Mengembangkan lebih lanjut tentang ide sebelumnya;
  • Menegaskan terhadap gagasan yang diungkapkan terlbih dahulu. (Niknik, 2010: 154)
  1. Syarat-syarat Pembentukan Paragraf : Paragraf yang baik harus memiliki lima ketentuan, yaitu kesatuan paragraf, kepaduan paragraf, keruntutan paragraf, ketuntasan paragraf, dan kesamaan sudut pandang paragraf.

a.  Kesatuan Paragraf

Dalam sebuah paragraf terdapat hanya satu pokok pikiran yang diwujudkan dalam kalimat utama. Oleh karena itu, kalimat-kalimat yang membentuk paragraf  harus ditata secara cermat agar tidak ada satu pun kalimat yang menympang dari ide pokok paragraf itu.  Kalau ada kalimat yang menyimpang dari pokok pikiran paragraf itu, paragraf menjadi tidak beertautan dan tidak utuh.

Perhatikan paragraf berikut:

Jateng sukses. Kata-kata ini meluncur gembira dari pelatih regu Jateng setelah selesai pertandingan final Kejurnas Tinju Amatir, Minggu malam, di Gedung Olahraga Jateng, Semarang. Kota Semarang terdapat di pantai utara Pulau Jawa, Ibu Kota Provinsi Jateng. Pernyataan itu dianggap wajar karena apa yang dimpi-impikan selama ini dapat terwujud, yaitu satu medali emas, satu medali perak, dan satu medali perunggu. Hal itu ditambah lagi oleh pilihan petinju terbaik yang jatuh ke tangan Jateng. Hasil yang diperoleh itu adalah prestasi paling tinggi yang pernah diraih oleh Jateng dalam arena seperti itu..

b.   Kepaduan Paragraf

Kepaduan paragraf dapat terlihat melalui penyususnan kalimat secara logis dan padu. Agar kalimat bertahan secara logis dan padu dengan menggunakan

  • kata penghubung, baik kata penghubung intrakalimat maupun kata penghubung intrakalimat.

Kata penghubung intrakalimat adalah kata yang menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat. Contohnya : karena, sehingga, tetapi, sedangkan, apabila, jika, maka, dan lain-lain.

Kata penghubung antarkalimat adalah kata yang menhubungkan kalimat yang satu dengan yang lainnya. Contohnya: oleh karena itu, jadi, kemudian, namun, selanjutnya, bahkan, dan lain-lain. Contoh paragraf yang padu.

Di Pulau Jawa, Bali, Madura, dan Lombok kelebihan tenaga kerja sedangkan di pulau lain kekurangan. Oleh sebab itu, sebagian tenaga kerja dari keempat pulau tersebut dipindahkan ke pulau-pulau lain yang kekurangan tenaga kerja. Dengan demikian, akan terjadi pemerataan tenaga kerja di Indonesia.

Contoh paragraf yang tidak padu:

Sudah tidak dipungkiri dalam kehidupan manusia, kebutuhan air minum merupakan faktor utama. Di berbagai belahan bumi peningkatan kesehatan sangatlah berhubungan  erat dengan masalah air minum. Secara ilmiah sumber air minum yang terdapat dalam belahan bumi yang beriklim empat musim dapat dikategorikan lebih baik, namun daerah yang beriklim dua musim sangat dilema, terutama di Indonesia yang sampai saat ini masih sulit mendapatkan standar kualitas air minum yang baik.

  • Kata ganti
  • Kata kunci

Contoh:

Syarat paragraf yang baik adalah adanya kesatuanKesatuan berarti setiap paragraf hanya mengandung satu pokok pikiranPokok pikiran diwujudkan dalam kalimat utamaKalimat utama diletakan di awal paragraf (deduktif) atau di akhir paragraf (induktif).

 D.  Jenis-jenis Paragraf

  1. Menurut Posisi Kalimat Topik

Berdasarkan posisi kalimat topik, paragraf dibedakan atas empat macam, yaitu (1) paragraf deduktif, yaitu paragraf yang meletakkan kalimat topik pada awal paragraf; (2) paragraf induktif, yaitu paragraf yang meletakkan kalimat topik di akhir paragraf; (3) paragraf campuran, yaitu paragraf yang meletakkan kalimat pokok di awal dan di akhir paragraf. Kalimat pada akhir paragraf umumnya menegaskan kembali gagasan utama yang terdapat pada awal paragraf; (4) paragraf penuh kalimat topik, yaitu seluruh kalimat yang membangun paragraf sama pentingnya sehingga tidak satu pun kalimat khusus menjadi kalimat topik karena kalimat yang satu dengan yang lainnya sama penting.

  1. Menurut Sifat Isinya

Berdasarkan sifat isinya, paragraf digolongkan atas lima macam, yaitu

  • Paragraf persuatif, yaitu paragraf yang berisi mempromosikan sesuatu dengan cara mempengaruhi atau mengajak pembaca agar melakukan sesuatu.
  • Paragraf argumentati, yaitu paragraf yang mengemukakan suatu pendapat beserta alasannya.
  • Paragraf naratif, yaitu paragraf yang menceritakan atau mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa. Bentuk ini mementingkan urutan kejadian dan tokoh (Sudarno, 1997: 117)
  • Paragraf deskriptif, yaitu paragraf yang menggambarkan suatu objek sehingga pembaca seakan bisa melihat, mendengar, atau merasakan objek yang digambarkan itu. Objek yang dideskripsikan dapat berupa orang, benda, atau tempat. Cirinya ada objek yang digambarkan.
  • Paragraf eksposisi, yaitu paragraf yang menginformasikan suatu teori, teknik, kiat, atau petunjuk sehingga orang yang membacanya akan bertambah wawasannya. Cirinya ada informasi.

3.   Menurut Fungsinya dalam Karangan

Berdasarkan fungsinya dalam karangan, paragrraf dibedakan atas tiga macam, yaitu

  • Paragraf Pengembang.  Paragraf pengembang bertujuan untuk mengembangkan pokok pembicaraan suatu karangan yang sebelumnya telah dirumuskan di paragraf pembuka. Isi dari paragraf pengembang diantaranya, contoh-contoh dan ilustrasi, inti permasalahan, dan uraian pembahasan. Paragraf pengembang di dalam karangan berfungsi untuk:  1) Mengemukakan inti persoalan; 2) Memberi ilustrasi dan contoh; 3) Menjelaskan hal yang akan diuraikn pada paragraf berikutnya; 4) Meringkas paragraf sebelumnya; 5) Mempersiapkan dasar atau landasan bagi simpulan.
  • Paragraf Pembuka : Isi paragraf pembuka bertujuan mengutarakan suatu aspek pokok pembicaraan dalam karanagan. Paragraf pembuka berfungsi untuk 1) menghantar pokok pembicaraan; 2) menarik miat dan perhatian pembaca; 3) menyiapkan atau menata pikiran pembaca untuk mengetahui isi seluruh karangan.
  • Paragraf Penutup :  Paragraf penutup berisi simpulan bagian karangan (subbab, bab) atau simpulan seluruh karangan. Paragraf ini merupakan ernyataan kembali maksud penulis agar lebih jelas.

E.   Pengembangan Paragraf

Paragraf dapat dikembangkan dengan cara pertentangan, perbandingan, analogi, contoh, sebab akibat, definisi, dan klasifikasi. Dalam praktik mengarang, ketuju cara tersebut dapat digunakan silih berganti sesuai keperluan penulisnya. Jika hendak membuat definisi pakailah cara definisi; jika akan menerangkan proses, pakailah cara proses; jika akan menganalisis, pakailah cara sebab akibat; dan seterusnya.

1.  Cara pertentangan

Pengembangan paragraf dengan cara pertentangan biasanya menggunakan ungkapan-ungkapan seperti berbeda dengan, bertentangan dengan, sedangkan, lain halnya dengan, akan tetapi.

2.  Cara perbandingan

Pengembangan paragraf dengan cara perbandingan biasanya menggunakan ungkapan-ungkapan seperti serupa dengan, seperti halnya, demikian juga, sama dengan, sejalan dengan, akan tetapi, sedangkan, dan sementara itu.

3.  Cara analogi

Analogi adalah bentuk pengungkapan suatu objek yang dijelaskan dengan objek lain yang memiliki kesamaan atau kemiripan. Biasanya dialakukan dengan bantuan kiasan. Kata-kata yang digunakan yaitu ibaratnya, seperti, dan bagaikan.

4.  Cara contoh

Kata seperti, misalnya, contohnya, dan lain-lain adalah ungkapan-ungkapan dalam pengembangan paragraf dengan contoh.

5.  Cara sebab akibat

Pengembangan paragraf dengan cara sebab akibat dilakukan jika menerangkan suatu kejadian, baik dari segi penyebab maupun dari segi akibat. Ungkapan yang digunakan yaitu padahal, akibatnya, oleh karena itu, dan karena.

6.  Cara definisi

Yang dimaksud dengan definisi adalah usaha penulis untuk menerangkan pengertian atau konsep istilah tertentu.Adalah, yaitu, ialah merupakan kata-kata yang digunakan dalam mengembangkan paragraf dengan cara definis. Kata adalah biasanya digunakan jika sesuatu yang akan didefinisikan diawali dengan kata benda, yaitu digunakan jika sesuatu yang akan didefinisikan diawali dengan kata kerja atau sifat. Jika akan menjelaskan sinonim suatu hal, kata ialah digunakan dan jika akan mendefinisikan pengertian rupa atau wujud, kata merupakan yang dipakai.

Contoh:

Apakah psikologi itu? R.S. Woodwort berpendapat, “ Psikologi ialah ilmu jiwa,” sedangkan menurut Crow dan Crow “Psikologi adalah kejiwaan manusia dalm berinteraki dengan dunia sekitar”. Sementara itu, Santian mengemukakan bahwa psikologi merupakanperwujudan tingkah laku manusia.

7.  Cara klasifikasi

Cara klasifikasi adalah pengembangan paragraf melalui pengelompokan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Kata-kata atau ungkapan yang lazim digunakan yaitu dibagi menjadi, digolongkan menjadi, terbagi menjadi.

Pertemuan 5

KALIMAT EFEKTIF

A.   Pengertian Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh ( Zainal Arifin dan Amran Tasai, 2012: 98) Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut disela jeda dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf latin kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanya atau seru. Sekurang-kurangnya kalimat memiliki subjek (S) dan predikat (P).

  1. Unsur-unsur Kalimat
  • Subjek

Subjek (S) adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda), sesuatu hal, atau suatu masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi oleh jenis kata/frasa benda (nominal), klausa, atau frasa verbal. Ciri-ciri subjek yaitu jawaban apa atau siapa, disertai kata petunjuk, memiliki keterangan pembahas yang, didahului kata bahwa, dan tidak didahului oleh kata depan.

Contoh :

Leonardo da Vinci adalah seorang pelukis yang terkenal.

                S

Lukisan yang terkenal itu bernama Monalisa.

              S

Bahwa Leonardo da Vinci merupakan pelukis yang terkenal diakui oleh dunia.

S

  • Predikat

Predikat merupakan bagian  kalimat yang  berfungsi memberitahu atau menerangkan tindakan atau melakukan perbuatan subjek (S) dalam sebuah kalimat. Berfungsi juga untuk menyatakan sifat atau keadaan subjek, termasyk pernyataan jumlah sesuatu yang dmiliki oleh subjek. Predikat dapat berupa sifat, situasi, status ciri, atau jatidiri subjek. Ciri-ciri predikat yaitu berupa kata kerja; bukan berupa kata kerja; disertai aspek bahasa; disertai kata adalah, yaitu, dan merupakan; dapat diingkarkan.

Contoh:

Leonardo da Vinci adalah seorang pelukis yang terkenal.

                                                             P

Lukisan yang terkenal itubernama Monalisa.

                                                                    P

Di samping bakat melukis Leonardo da Vincimemiliki pengetahuan di berbagai bidang.

P

Leonardo da Vinci menguasai pengetahuan tentang cara membuat senapan, kincir angin, dan   pesawat terbang.

  •  Objek dan Pelengkap

Objek (O) dan pelengkap (Pel) adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat. Ciri-cirinya berada di belakang predikat; objek bisa menjadi subjek pada kalimat pasif; pelengkap tak bisa menjadi subjek pada kalimat pasif.

Contoh:

Lukisan yang terkenal itubernama Monalisa.

                                                                                Pel

Leonardo da Vinci menguasai pengetahuan tentang cara membuat senapan, kincir angin, dan       pesawat terbang.

  • Keterangan

Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal mengenai bagian yang lainnya. ciri-ciri keterangan yaitu berupa kata, frasa, dan klausa, didahului kata depan, dan tidak terikat posisi.

Contoh:

Di samping bakat melukis Leonardo da Vincimemiliki pengetahuan di berbagai bidang.

K

Monalisa, lukisan yang terkenal, telah mengantarkan Leonardo da Vinci menjadi tokoh besar di zaman Renaisance.

 B.   Jenis kalimat Menurut Strukturnya

1.   Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal terdiri atas satu subjek dan satu predikat.

2.   Kalimat Majemuk Setara

Kalimat majemuk setara terdiri dari dua kalimat tunggal atau lebih. Kalimat ini dikelompokkan menjadi empat jenis:

  • Kalimat majemuk setara penjumlahan, yaitu kalimat majemuk setara yang terdiri atas dua kalimat atau lebih yang dihubungkan oleh kata dan atau serta.

Contoh:

Kami membaca

Kami menulis

Kami  membaca dan menulis.

  • Kalimat majemuk setara pertentangan, yaitu dua kalimat tunggal atau lebih yang dihubungkan oleh kata tetapi, sedangkan, atau melainkan. Contoh:

Amerika tergolong negara maju

Indonesia tergolong negara berkembang.

Amerika tergolong negara maju, tetapi Indonesia tergolong negara berkembang.

  • Kalimat majemuk setara perurutan, adalah dua kalimat tunggal atau lebih yang dihubungkan oleh kata lalu dan kemudian.

Contoh:

Upacara serah terima pengurus koperasi sudah selesai, lalu Pak ustaz membacakan doa selamat.

  • Kalimat majemuk setara pemilihan, yaitu dua kalimat tunggal atau lebih yang dihubungkan oleh kata atau.

Contoh:

Mereka di perpustakaan sedang belajar atau sedang berpacaran.

3.   Kalimat Majemuk Setara Rapatan

Kalimat majemuk setara rapatan adalah suatu bentuk yang merapatkan dua atau lebih kalimat tunggal. Yang dirapatkan adalah unsur subjek yang sama. Dalam hal seperti ini, unsur yang sama cukup disebutkan satu kali.

Contoh:

  • Kami berlatih.
  • Kami bertanding.
  • Kami berhasil.
  • Kami berlatih, kami bertanding, dan kami berhasil.
  • Kami berlatih, bertanding, dan berhasil.

4.  Kalimat Majemuk Tidak Setara/Bertingkat

Kalimat majemuk tidak setara terbagi dalam bentuk anak kalimat dan induk kalimat. Induk kalimat adalah inti gagasan, sedangkan anak kalimat adalah pertalian gagasan dengan hal-hal lain. Penanda anak kalimat adalah kata walaupun,meskipun, sungguhpun, karena, apabila, jika, kalau, sebab, agar, supaya, ketika, sehingga, setelah, sesudah, bahwa, dan sebagainya. Contoh:

  • Komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern.
  • Mereka masih dapat mengacaukan data komputer itu.
  • Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, mereka masih dapat mengacaukan data komputer itu.

Latihan 1

Tunjukkan induk kalimat dan anak kalimat pada kalimat majemuk bertingkat berikut!

  1. Karena komputer bekerja cepat dalam mengolah data, produksi dapat segera disesuaikan dengan laju permintaan.
    1. Induk kalimat …
    2. Anak kalimat …
    3. Predikat induk kalimat adalah …
    4. Subjek induk kalimat adalah …
    5. Predikat anak kalimat adalah …
  2. Suatu perhitungan akan lebih mudah dipahami jika disajikan dalam bentuk grafik.
    1. Induk kalimat …
    2. Anak kalimat …
    3. Predikat induk kalimat adalah …
    4. Subjek induk kalimat adalah …
    5. Predikat anak kalimat adalah …

C.   Kalimat Efektif

1.  Pengertian Kalimat Efektif

Keraf (1973: 34) mendefinisikan kalimat efektif sebagai kalimat yang mempersoalkan bagaimana ia dapat mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan penulisannya; bagaimana ia dapat mewakilinya secara segar dan sanggup menarik perhatian pembacanya terhadap apa yang dibicarakan.

Menurut Fuad (2009: 58) kalimat efektif adalah kalimat yang disusun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang diinginkan oleh penulis terhadap pembacanya. Lebih jauh Dalman (2012: 61) menyatakan bahwa kalimat efektif merupakan kalimat yang mampu membuat isi dan maksud yan disampaikannya itu tergambag lengkap dalam pikiran isi penerima (pembaca) persis seperti yang disampaikan. Senada dengan Dalman, Akhadiah (1997: 116) mengatakan bahwa kalimat juga memiliki kemampuan atau tenaga untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca identik dengan apa yang dipikirkan pembicara atau penulis.

Berdasarkan uraian di atas, sebuah kalimat dapat dikatakan efektif  apabila gagasan yang disampaikan oleh penulis dari kalimat tersebut dapat diterima secara utuh dan tepat oleh pembaca. Kalimat efektif merupakan kalimat yang tidak berlebih-lebihan dalam penulisannya. Artinya kalimat tersebut lugas, hemat, dan apa adanya.

2.  Syarat-syarat Kalimat Efektif

Kalimat sangat mengutamakan keefektifan informasi sehingga kejelasan kalimat itu dapat terjamin. Sebuah kalimat efektif mempunyai ciri khas, yaitu kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan penalaran, dan kelogisan bahasa

  1. Kesepadanan Struktur

Kesepadanan adalah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik. beberapa ciri kesepadanan sebagai berikut:

  • Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat yang jelas

Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan cara menghindari pemakaian kata depan ‘ di, bagi, dalam, untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut’ di depan subjek. Contoh:

Semua karyawan PT Merpati Buana harus mentaati peraturan perusahaan. (Benar)

Bagi semua karyawan PT Merpati Buana harus mentaati peraturan perusahaan. (Salah)

  • Dalam kalimat itu tidak terdapat subjek yang ganda

Subjek yang ganda akan memunculkan kalimat yang tidak terfokus. Contoh:

Penyusunan karya ilmiah itu saya dibantu oleh dosen pembimbing. (Salah)

Dalam penyusunan karya ilmiah itu, saya dibantu oleh dosen pembimbing. (Benar)

  • Kata penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal

Kata hubung dipakai untuk membangun sebuah kalimat majemuk. Oleh sebab itu, kata hubung atau kata sambung tidak diperkenankan ada di dalam kalimat tunggal.

Contoh:

  • Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti kuliah umum. (Salah)

Kalimat tersebut dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, mengubah kalimat itu menjadi kalimat majemuk. Cara kedua, mengganti ungkapan penghubung antarkalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, seperti berikut:

Kami datang agak terlambatsehinggatidak dapat mengikuti kuliah umum.

Atau

Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti kuliah umum

  • Predikat kalimat tidak didahului oleh kaya ‘yang’

Contoh:

Kampus STMIK Raharja yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Cikokol Tangerang.

  1. Keparalelan Bentuk

Keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya kalau bentuk pertama menggunakan nomina (kata benda), bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba (kata kerja), bentuk kedua juga menggunakan verba.

Contoh:

  1. Namanya ditulis dengan jelas di kertas segel atau pencantumannya di kertas khusus.
  2. Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
  1. Ketegasan Makna

Ketegasan atau penekanan adalah suatu perlakuan penonjolan pada ide pada ide pokok kalimat. Adapun cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat sebagai berikut:

  • Meletakkan kata yang ditonjolkan di depan kalimat

Contoh:

Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.

Menjadi

Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.

  • Membuat urutan kata yang bertahap

Contoh:

Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.

Seharusnya

Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.

  • Melakukan pengulangan kata (repetisi)

Repetisi adalah pengulangan sebuah kata yang dianggap penting dalam sebuah kalimat.

Contoh:

Kemajuannya menyangkut kemajuan di segala bidang, kemajuan kesadaran politk, kesadaran bermasyarakat, kesadaran berekonomi, kesadaran berkebudayaan, dan kesadaran beragama.

  • Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan

Contoh:

Anak itu bukan rajin dan jujur, tetapi curang dan licik.

  • Mempergunakan partikel penekanan (penegasan)

Di dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa partikel diantaranya lah, kah, pun (imbuhan) yang berfungsi untuk menonjolkan sebuah kata atau ide dalam sebuah kalimat.

Contoh:

Saudaralah yang harys bertanggung jawab dalam soal itu.

  1. Kehematan Kata

Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa. Penghematan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Menghilangkan pengulangan subjek

Karena dia tidak diundang, dia tidak datang ke acara perpisahan. (Salah)

Karena tidak diundang, dia tidak datang ke acara perpisahan. (Benar)

  1. Menghindarkan pemakaian suborordinat pada hiponimi kata

Contoh:

Pada hari Kamis tanggal 5 Juni 2014 Direktur PT Angsana yang berbendera warna merah, hijau, dan putih meresmikan berdirinya perusahaan yang memproduksi lampu neon.

  • Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat

Contoh :

Menurut hasil penelitian seputar manajemen waktu mengemukakan bahwa menerima panggilan telepon saat mengendarai mobil adalah merupakan gangguan yang dapat membuyarkan konsentrasi sehingga dengandemikian akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja.

  • Tidak menjamakkan kata-kata yang sudah berbentuk jamak

Contohnya :

Lembaga pendidikan yang sedang berkembang itu memerlukan berbagai para ahli seperti misalnya ahli hukum, komputer, ekonomi, dan lain-lain.

Seharusnya :

Lembaga pendidikan yang sedang berkembang itu memerlukan berbagai seperti ahli hukum, komputer, ekonomi.

Atau

Lembaga pendidikan yang sedang berkembang itu memerlukan ahli  hukum, komputer, ekonomi, dan lain-lain.

  1. Kecermatan Penalaran

Kecermatan adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda dan tepat dalam pilihan kata. Contohnya:

Istri Wakil Direktur Rumah Sakit Pertamina Pusat yang baru itu akan meluncurkan buku yang berjudul Melawan Stigma Negatif Seorang Sekretaris.

Kalimat tersebut memiliki makna ganda, yaitu siapa yang baru? Istri wakil direktur atau pak wakil direkturnya yang baru.

  1. Kelogisan Bahasa.

Kelogisan adalah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.

Perhatikan kalimat di bawah ini.

  • Kalimat yang salah nalar
    • Waktu dan tempat kami persilakan.
    • Untuk mempersingkat waktu, kita teruskan acara ini.
  • Kalimat yang bernalar
    • Bapak Bupati kami persilakan
    • Untuk menghemat waktu, kita teruskan acara ini

Pertemuan 4

PERKEMBANGAN EJAAN DI INDONESIA

  1. Pengertian Ejaan

Yang dimaksud ejaan menurut Zaenal Arifin dan Amran Tasai (2012: 27) adalah “Keseluruhan perangkat aturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana antarhubungan antar lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa).” Secara teknis dapat dikatakan bahwa ejaan merupakan cara untuk mengatur penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan pemakaian tanda baca. Lamuddin Finoza mengatakan ejaan adalah “ Seperangkat aturan atau kaedah pelambangan bunyi bahasa-pemisahan, penggabungan, dan penulisan-dalam suatu bahasa”.
Ejaan merupakan kaedah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa terutama dalam bahasa tulis demi keteraturan dan keseragaman bentuk. Keseragaman bentuk ini akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Jadi, ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya.

  1. Fungsi EYD

Adapun fungsi ejaan sebagai berikut:
1. Sebagai landasan pembakuan tata bahasa.
2. Landasan pembakuan kosakata dan peristilahan.
3. Alat penyaring masuknya unsur-unsur bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia.

  1. Perkembangan Ejaan dari Ejaan Van Ophuisjen hingga EYD

Perkembangan Ejaan di Indonesia mengalami beberapa perubahan mulai dari Ejaan van Ophuijsen hingga EYD. Berikut penjelasan perubahan ejaan yang pernah berlaku di Indonesia:

  1. Ejaan van Ophuijsen

Perkembangan ejaan di Indonesia di awali dengan Ejaan van Ophuijsen. Van Ophuijsen (nama seorang guru besar Belanda yang juga pemerhati bahasa) merancang ejaan itu dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim . Ejaan van Ophuijsen ditetapkan sebagai ejaan bahasa Melayu pada 1901 dengan huruf Latin oleh Pemerintah Belanda yang berkuasa di Indonesia pada masa itu. Ejaan van Ophuijsen dipakai selaama 46 tahun, lebih lama dari Ejaan Republik dan baru diganti setelah dua tahun Indonesia merdeka. Ciri khas yang meninjol dalam Ejaan van Ophuijsen sebagai berikut:

  • Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang.
  • Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer.
  • Tanda diakritik, seperti koma, ain, dan tanda trema untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ‘akal, ta’, ta’, dinamai’.
  1. Ejaan Soewandi

Setelah mengalami perkembangan kedudukan Ejaan van Ophuijsen tergantikan oleh Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia) ditetapkan pada 19 maret 1947. Ejaan Soewandi dipakai selama dua puluh lima tahun. Adapun Ciri yang menonjol dari Ejaan Soewandi adalah.

  • Huruf oe diganti dengan u, seperti pada penulisan kata guru, itu, umur.
  • Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti pada penulisan kata tak, pak, maklum, rakjat.
  • Kata ulang boleh ditulis dengan angka-2, seperti pada penulisan kata anak2, berjalan2, ke-barat2-an.
  • Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti pada penulisan kata depan dirumah, dikebun, disamakan dengan penulisan imbuhan di- pada kata ditulis dan dikarang.
  1. Ejaan Pembaharuan

Ejaan Pembaharuan disusun oleh Priyono dan Katopo berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan kebudayaan Nomor : 48/s, tanggal 19 Juli 1956. Hal yang menarik dalam Ejaan Pembaharuann sebagai berikut:
a. Gabungan konsonan dj diubah menjadi j
b. Gabungan konsonan tj diubah menjadits
c. Gabungan konsonan ng diubah menjadi n
d. Gabungan konsonan nj diubah menjadi ny
e. Gabungan konsonan sj diubah menjadi sy
f. Gabungan konsonan jai diubah menjadi ai
g. Gabungan konsonan au diubah menjadi aw
h. Gabungan konsonan oi diubah menjadi oy

  1. Ejaan Melindo

Pada akhir 1959sidang perutusan Indonesia dan melayu (Slamet Mulyana –Indonesia dan Syeh Nasir bin Ismail – Malaysia) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo(Melayu- Indonesia). Ejaan Melindo gagal diresmikan dan diberlakukan karena pada saat itu terjadi ketegangan politik antara Indonesia dengan Malaysa.

  1. Ejaan baru (Ejaan LBK)

Ejaan baru (Ejaan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan) bersama P3B (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan kebudayaan No. 062/67,19 September 1967. Perubahan yang terdapat dalam Ejaan baru (Ejaan LBK) sebagai berikut:
a. Huruf dj —- j seperti pada kata remadja —- remaja
b. Huruf tj —- c seperti pada kata batja —- baca
c. Huruf nj —- ny seperti pada kata bunji —- bunyi
d. Huruf sj —- sy seperti pada kata sjarat —- syarat
e. Huruf ch —- kh seperti pada kata machluk —- makhluk
f. Huruf e’ —- e seperti pada kata ekor —- ekor
g. Huruf j —- y seperti pada kata partjaja —- percaya

  1. EYD  Pada 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian ejaan bahasa indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan presiden No. 57, Tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan sebagai patokan pemakaian ejaan.
  2. PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA (PUEBI). Tahun 2015. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Pedoman ini disusun untuk menyempurnakan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (PUEYD). Pedoman ini diharapkan dapat mengakomodasi perkembangan bahasa Indonesia yang makin pesat. Penyempurnaan terhadap ejaan bahasa Indonesia telah dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penyempurnaan tersebut menghasilkan naskah yang pada tahun 2015 telah ditetapkan menjadi Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Untuk lebih mengenal lagi  adanya penyempurnaan ejaan Bahasa Indonesia harap Anda buka dan pelajari/klik/tap

PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA (PUEBI) INI  

 

Pertemuan 3

RAGAM BAHASA INDONESIA

A. Pengertian Ragam Bahasa

Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakain yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, dan orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicaraan (Depdikbud, 1991: 809). Berdasarkan pengertian ini, maka terlihat bahwa variasi muncul karena kebutuhan penutur akan adanya alat komunikasi yang sesuai dengan situasi dalam konteks sosialnya. Adanya berbagai variasi menunjukkan bahwa pemakaian bahasa itu bersifat aneka ragam. Banyaknya ragam bahasa yang dipakai oleh seseorang dalam berkomunikasi itu tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut.

  1. Cara berkomunikasi : lisan atau tertulis
    Dua macam cara berkomunikasi ini melahirkan dua ragam bahasa utama dalam berbahasa yaitu ragam lisan dan tulis.
  2. Cara pandang penutur terhadap mitra komunikasinya
    Sebelum menentukan pilihan ragam yang akan dipakai, seseorang penutur akan melihat dahulu bagaimana lawan bicaranya.apakah orang itu perlu dihormati atau tidak? Bagaimana pendidikannya tinggi atau rendah? Cara pandang ini akan mengakibatkan timbulnya ragam dialek, ragam terpelajar, ragam resmi, dan ragam tidak resmi.
  3. Topik yang dibicarakan
    Pembicaraan tentang topik tertentu mengakibatkan terbentuknya ragam bahasa yang mempunyai ciri khas sesuai dengan bidangnya masing-masing, misalnya ragam hukum, ragam bisnis, ragam sastra, dan ragam kedokteran.
B. Ragam Bahasa Baku dan Tidak Baku

1. Pengertian bahasa baku dan tidak baku

Kata baku adalah “Kata yang telah dikodifikasi, diterima, dan difungsikan sebagai model atau acuan oleh masyarakat secara luas” (Achmad Mufid, 2013: 6). Adapun secara khusus dapat dikatakan sebagai kata yang secara sosial lebih disenangi pemakaiannya, terlebih bagi mereka bagi mereka yang berpendidikan (pelajar dan manusia), sedangkan pengertian kata tidak baku menurut Achmad Mufid (2013: 7) adalah “kata yang digunakan dalam berbicara dan menulis yang berbeda pelafalan, tata bahasa, dan kosakatanya dari kata baku”. Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya. Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku. (Zaenal Arifin dan Amran Tasai, 2012: 21). Jadi, ragam bahasa baku adalah ragam yang dijadikan tolak ukur sebagai ragam yang baik dan benar.

2. Fungsi Bahasa Baku

Bahasa Indonesia baku ‘kata baku’ mempunyai empat fungsi: (1) pemersatu; (2) penanda kepribadian (pemberi kekhasan); (3) wibawa; (4) kerangka acuan.

  • Pemersatu
    pemakaian bahasa Indonesia baku berfungsi mempersatukan para penutur berbagai dialek, yaitu mempersatukan (bukan menyeragamkan pengguna kata baku) mereka menjadi satu masyarakat bahasa Indonesia baku.
  • Penanda Kepribadian
    Memakai bahasa Indonesia baku berfungsi membuat ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan pemakaian bahasa-bahasa lainnya, yaitu untuk memperkuat perasaan kepribadian sebagai masyarakat bahasa Indonesia baku.
  • Penambah Wibawa
    Pemakaian bahasa Indonesia baku dengan baik dan benar berfungsi menempatkan wibawa di hadapan orang, yaitu guna mencapai kesederajatan dengan peradaban lain.
  • Kerangka Acuan
    Pemakaian bahasa Indonesia bakuberfungsi sebagai kerangka acuan atau standar bagi pemakainya atau orang lain karena adanya norma atau kaidah yang dikodifikasi secara jelas yaitu untuk mengurangi kerancuan dalam memahami ungkapan atau pernyataan.

3. Ciri Bahasa Baku

Di antara ciri-ciri bahasa baku :

  • Tidak dipengaruhi bahasa daerah
    Baku                                                  Tidak Baku
    Saya                                                   gua
    Mengapa                                         kenapa
    Dilihat                                              dilihatin
    Bertemu                                          ketemu
  • Tidak dipengaruhi bahasa asing
    Baku                                                 Tidak Baku
    Kantor tempat                             kantor di mana
    Sudah banyak sarjana           sudah banyak sarjana-sarjana
    Itu benar                                        itu adalah benar
    Kesempatan lain                       lain kesempatan
  • Bukan bahasa percakapan
    Baku                                                 Tidak Baku
    Dengan                                           sama
    Mengapa                                        kenapa
    Memberi                                        kasih
    Tidak                                             enggak
    Tetapi                                            tapi
  • Pemakaian imbuhan secara eksplisit
    Baku                                                Tidak Baku
    Ia bekerja keras                         ia kerja keras
    Mengantar makanan              antar makanan
  • Pemakaian sesuai dengan konteks kalimat
    Baku                                                 Tidak Baku
    Suka akan                                     suka dengan
    Disebabkan oleh                       disebabkan karena
    Lebih besar daripada             lebih besar dari
  • Tidak terkontaminasi, tidak rancu
    Baku                                                 Tidak Baku
    Berkali-kali                                   berulang kali
    Mengesampingkan                  mengenyampingkan
    Mengajar siswa                          mengajari siswa-siswa
  • Tidak mengandug arti pleonasme
    Baku                                                 Tidak Baku
    Para tamu                                      para tamu-tamu
    Hadirin                                            para hadirin
    Pada zaman dahulu                 pada zaman dahulu kala
    Maju                                                maju ke depan
  • Tidak mengandung hiperkorek
    Baku                                                Tidak Baku
    Insaf                                                 insyaf
    Sah                                                   syah
    Syukur                                            syukur

4. Pemakaian Bahasa Baku
Pemakaian bahasa baku biasanya digunakan dalam beberapa konteks:

  • Dalam komunikasi resmi, yaitu surat-menyurat resmi atau dinas, pengumuman-pengumuman yang dikeluarkan oleh instansi resmi, perundang-undangan, penamaan, dan peristilahan resmi.
  • Dalam wacana teknis, yaitu laporan resm dan tulisan ilmiah berupa makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan hasil penelitian.
  • Dalam pembicaraan di depan umum, yaitu ceramah, kuliah, dan khutbah.
  • Dalam pembicaraan dengan orang yang ihormati, yaitu antara bawahan dan atasan di dalam kantor, siswa dan guru di kelas atau di sekolah, guru dan kepala sekolah di pertemuan-pertemuan resmi, mahasiswa dan dosen di ruang perkuliahan.

C. Ragam Bahasa Resmi dan Tidak Resmi

Bahasa resmi atau formal adalah bahasa yang digunakan dalam situasi resmi, seperti urusan surat-menyurat, bertutur dengan orang yang tidak kita kenal dekat atau lebih tinggi status dan pangkatnya. Adapun ciri-ciri bahasa formal adalah.

  1. Menggunakan unsur gramatikal secara eksplisit dan konsisten;
  2. Menggunakan imbukan secara lengkap;
  3. Menggunakan kata ganti resmi;
  4. Menggunakan kata baku;
  5. Menggunakan EYD;
  6. Menggunakan unsur kedaerahan.

Ragam bahasa tidak formal atau nonformal adalah bahasa yang digunakan pada situasi santai dan kepada orang yang sudah dikenal akrab. Situasi tidak resmi akan memunculkan suasana penggunaan bahasa tidak resmi juga. Kuantitas pemakaian bahasa tidak resmi banyak tergantung pada tingkat keakraban pelaku yang terlibat dalam komunikasi. Dalam situasi tidak resmi, penutur bahasa mengesampingkan pemakaian bahasa baku. Kaidah dan aturan dalam bahasa baku tidak lagi menjadi perhatian. Prinsif yang dipakai adalah asal orang yang diajak bicara bisa mengerti. Situasi semacam ini dapat terjadi pada situasi komunkasi remaja di mal, interaksi antara penjual dan pembeli, dan lain-lain.

Bahasa tidak resmi mempunyai sifat yang khas, yaitu.

  • kalimatnya sederhana, singkat, kurang lengkap, tidak banyak menggunakan kata penghubung.
  • Menggunakan kata-kata yang biasa dan lazim dipakai sehari-hari. Contoh: bilang, bikin, pergi, biarin.

Pada perkembangannya bahasa tidak resmi menciptakan ragam bahasa yang bervariatif berdasarkan pemakaiannya, seperti bahasa gaul pada remaja yang saat ini sedang digemari. Bahasa gaul remaja merupakan bentuk bahasa tidak resmi. Bahasa gaul remaja berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Bahasa gaul dari masa ke masa berbeda. Tidak mengherankan apabila bahasa gaul remaja digunakan dalam lingkungan dan kelompok sosial terbatas, yaitu kelompok remaja. Hal ini berarti bahwa bahasa gaul hanya digunakan pada kelompok sosial yang menciptakannya. Anggota di luar kelompok sosial tersebut sulit untuk memahami makna bahasa gaul tersebut.

D. Ragam Bahasa Lisan dan Tulis
“Ragam bahasa lisan adalah ragam bahasa yang dituturkan dengan indra mulut, sedangkan ragam bahasa tulis adalah ragam bahasa yang dituangkan melalui simbol-simbol atau huruf-huruf”. (Ade Hikmat dan Nani Solihati, 2013: 9). Antara ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tertulis memiliki struktur yang tidak sama. Ketidaksamaan struktur ini dikarenakan ada beberapa perbedaan. Perbedaannya sebagai berikut:

  1. Ragam lisan menghendaki adanya orang kedua, yaitu teman berbicara yang berada di depan pembicara, sedangkan ragam tulis tidak mengharuskan adanya teman bicara berada di depan.
  2. Di dalam ragam lisan unsur-unsur gramatikal (subjek, predikat, objek) tidak selalu dinyatakan karena dapat dibantu oleh unsur-unsur nonlinguistik yang berupa intonasi, gerak-gerik tangan, gelengan kepala, dan lainnya. Ragam tulis perlu diterangkan dan lebih lengkap daripada lisan. Fungsi-fungsi gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada di depan pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang ‘diajak bicara’ mengerti isi tulisan itu.
  3. Ragam lisan sangat terikat pada kondisi, ruang, dan waktu. Apa yang dibicarakan secara lisan di dalam sebuah ruang kuliah, hanya dapat berarti dan berlaku untuk waktu itu saja. Sebaliknya, ragam tulis tidak terikat oleh situasi, kondisi, ruang, dan waktu. Suatu tulisan dalam sebuah buku yang ditulis oleh seorang penulis di Indonesia dapat dipahami oleh orang yang berada di Amerika atau Inggris.
  4. Ragam lisan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara, sedangkan ragam bahasa tulis dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar, dan huruf miring.

E. Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Sering kali kita mendengar slogan “Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar?”. Apakah maksud dari slogan itu? Apakah kita harus menggunakan bahasa resmi di mana pun kita berada? Kriteria bahasa Indonesia yang baik dan benar itu :

  1. Bahasa yang baik adalah bahasa yang mempunyai nilai rasa yang tepat dan sesuai dengan situasi pemakaiannya;
  2. Bahasa yang benar adalah bahasa yang menerapkan kaidah dengan konsisten.

Pertemuan 2

Pertemuan 1

bukuMAKALAH

A. Pengertian Makalah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2000), makalah adalah (1) tulisan resmi tentang suatu pokok yang dimaksudkan untuk dibacakan di muka umum dalam suatu persidangan dan sering disusun untuk diterbitkan; atau (2) karya tulis pelajar atau mahasiswa sebagai laporan hasil pelaksanaan tugas sekolah atau perguruan tinggi. Menurut Parera (1982) seperti dikutip dalam Syihabudin (2006), makalah adalah karya tulis yang memerlukan studi baik secara langsung seperti melalui observasi lapangan, maupun tidak langsung (studi kepustakaan).
Makalah memuat dang mengkaji suatu masalah dengan menggunakan kaidah keilmiahan, metode ilmiah, bahasa baku dan tata tulis ilmiah, dan bersifat objektif-sistematis-lugas-jelas-konsisten-logis-empiris (berdasarkan fakta). Menurut Finoza dalam Alamsyah (2008), seperti tulisan ilmiah lainnya (skripsi, tesis, disertasi), penulisan makalah harus mengikuti aturan baku (formal) dan memiliki sejumlah persyaratan khusus yang menyangkut metode dan penggunaan bahasa. Akan tetapi, berbeda dengan tulisan ilmiah lainnya, makalah tidak harus selalu ditujukan kepada kalangan akademisi tertentu.

B. Karakteristik

Makalah memiliki karakteristik tersendiri, penyusunan dan penyajian makalah didasarkan pada kajian ilmiah dan cara kerja ilmiah yang didahului oleh studi pustaka dan lapangan (Azwardi, 2008: 4). Masalah dan topik dibahasa dan disajikan berdasarkan data di lapangan. Data yang digunakan tersebut bersifat empiris dan objektif. Pembahasan dipaparkan secara ilmiah, logis, dan sistematis kepada para pembaca dengan menggunakan metode penulisan yang baik dan benar guna mencari jawaban mengenai sesuatu dan guna membuktikan kebenaran sesuatu yang terdapat dalam objek tulisan. Oleh karena itu, melalui makalah kemampuan mahasiswa dalam memahami isi dari berbagai sumber yang digunakan serta kemampuan dalam merangkai berbagai sumber informasi sebagai satu kesatuan sintesis yang utuh dapat diperlihatkan.
Ruang lingkup makalah umumnya berkisar pada cakupan permasalahan dalam suatu bidang ilmu. Tema yang diangkat seputar hal-hal baru (aktual) dan belum pernah ditulis orang lain. Jika sudah pernah ditulis dengan tema yang sama oleh orang lain, tujuannya sebagai upaya pengembangan dari tema terdahulu. Upaya ini disebut penelitian lanjutan.

C. Jenis-jenis Makalah

Berdasarkan jenisnya, makalah terdiri atas tiga jenis :

1. Makalah Studi
Makalah studi adalah makalah yang bersumber dari hasil penelitian yang ditujukan bagi siswa atau mahasiswa sebagai tugas pada mata kuliah yang dipelajari. Panjang makalah ini minimal 15 halaman. Makalah ilmiah ditulis sebagai suatu sarana pemecahan masalah secara ilmiah. Peneliti mengumpulkan bahan-bahan, lalu diolah kembali dengan analisis, sintesis, dan interpretasi yang baru. Selain itu, ada pula makalah studi yang dibangun berdasarkan pengetahuan baru dan menjadi informasi bagi setiap orang. Sebelumnya penulis mencari informasi-informasi yang diolahnya kembali dengan analisis, sintesis, dan interpretasi yang baru, diikuti dengan pengumpulan data empiris di lapangan.
Ada dua macam makalah studi menurut pendekatannya, yaitu makalah yang menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Makalah studi yang menggunakan pendekatan kuantitatif ditulis menurut pendekatan deduktif-induktif. Dalam pendekatan ini, secara deduktif penulis merumuskan dugaan-dugaan sementara (hipotesis) setelah didukung oleh penelitian praktis, yaitu pada saat melaksanakan kajian pustaka. Hipotesis melibatkan variabel-variabel yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka-angka. Hipotesis itu lalu diuji secara empiris dengan bantuan prosedur statisti.
Makalah studi dengan pendekatan kualitatif digunakan terutama untuk memahami persoalan sosial dengam membangun gambaran keadaan kompleks dan holistik dalam bentuk narasi. Di dalam narasi, pandangan responden dilaporkan dengan rinci. Demikian pula latar alamiah tempat data diperoleh. Makalah studi kualitatif dikembangkan secara induktif.

2. Makalah Kerja
Makalah kerja adalah makalah yang disusun untuk dibentangkan dalam suatu seminar atau lokakarya.makalah kerja menurut pendekatannya terdiri atas makalah kuantitatif dan kualitatif. Perbedaannya dengan makalah studi terletak pada tujuann penulis. Jika dibuat untuk kepentingan studi atau akademik, karya ilmiah termasuk ke kategori makalah studi, tetapi jika ditujukan sebagai bahan untuk diskusi dalam suatu forum, karya ilmiah dikategorikan makalah kerja.
Makalah kerja yang telah didiskusikan dapat menjadi artikel ilmiah jika dipublikasikan di dalam media cetak. Demikian juga makalah studi dapat dikatakan sebagai artikel ilmiah setelah dilakukan perubahan sesuai dengan format artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal ilmiah.

3. Makalah Kajian
Makalah kajian atau makalah kritis adalah makalah yang disusun untuk memecahkan masalah yang kontroversial, bukan untuk dibicarakan dalam seminar. Makalah ini disebut kontroversial karena makalah ini mengkritisi atau mengevaluasi sebuah karya. Tidak selamanya pencipta karya dan pendukungnya dapat menerima evaluasi yang kurang menyenangkan. Oleh karena itu, untuk menghindari kontroversi yang tidak sehat ini penulis harus jujur secara intelektual, menghindari ungkapan-ungkapan yang emosional, tidak menyampaikan informasi yang kurang diyakininya. Umumnya makalah ini dimuat di media massa sehingga istilah makalah ini juga dikenal dengan istilah artikel ilmiah populer.

D. Sistematika

Secara garis besar, sistematika penulisan makalah terdiri atas tiga bagian, yaitu pendahuluan, isi (batang tubuh), dan penutup. Pendahuluan memuat persoalan yang akan dibahas meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penulisan.Bagian isi memuat kemampuan penulis untuk menjawab masalah penelitian. Bagian isi boleh terdiri atas lebih dari satu bagian sesuai dengan permasalahan yang dikaji. Bagian penutup memuat kesimpulan sebagai pemaknaan penulis terhadap diskusi atau pembahasan masalah berdasarkan kriteria dan sumber-sumber literatur atau data lapangan. Simpulan mengacu pada hasil pembahasan permasalahan bukan hasil ringkasan isi makalah. Bagian-bagian makalah yang disemiarkan dapat berupa makalah hasil penelitian dan makalah bukan hasil penelitian (konseptual).

Berikut adalah sistematika hasil penelitian :

  1. Judul :  mencerminkan isi, menunjukkan fokus serta permasalahan pokok masalah. Judul yang terlalu panjang dapat dipecah menjadi judul utama dan subjudul.
  2. Kata Pengantar : berisi tentang sekilas latar belakang penulisan, tujuan penulisan, ucapan terima kasih, ungkapan harapan penulis, dan sebagainya.
  3. Daftar Isi : memuat daftar judul dan subjudul beserta halamannya. Fungsinya memudahkan pembaca mencari bagian yang akan dibacanya.
  4. Abstrak : intisari makalah yang ditulis 150-200 kata dalam satu paragraf dan berjarak spasi satu. Tujuan penulisan abstrak untuk menarik minat pembaca terhadap isi makalah dan menjadi putusan bagi pembaca apakah akan membaca lebih lanjut seluruh makalah atau tidak. Umumnya abstrak terdiri atas latar belakang, tujuan, metode, hasil dan simpulan (Kaludjernih, 2010).
  5. Pendahuluan : berisi tentang latar belakang penulisan makalah, rumusan, dan tujuan. Dalam bagian ini, penulis perlu menunjukkan pentingnya masalah atau topik makalah dibahas sehingga menimbulkan masalah. Selain itu, pada akhir pendahuluan dikemukan tujun penulisan yang mengarah pada kegiatan yang harus dilakukan selanjutnya dalam menulis makalah atau memberi informasi mengenai hal-hal yang disampaikan dalam makalah (Nasucha dkk, 2009).
  6. Kajian Literatur : berisi kutipan (langsung atau tidak langsung) mengenai teori-teori yang relevan dengan topik makalah dan kajian atas penelitian yang terdahulu yang serupa.
  7. Metode: apabila makalah merupakan hasil penelitian di lapangan diperlukan bagian metode untuk menjelaskan prosedur pelaksanaan penelitian. Prosedur tersebut diuraikan secara rinci, seperti siapa subjek atau responden penelitian, kapan waktu dan di mana penelitian dilakukan, serta bagaimana mengumpulkan dan menganalisis datanya.
  8. Hasil dan Analisis : bagian ini merupakan inti makalah. Hasil atau temuan dapat dikemukakan dalam bagian tersendiri, terpisah dari analisis. Hasil berisi jawaban atas masalah-masalah penelitian. Untuk memperkuat analisis digunakan teori, data, pandangan ahli, dan hasil penelitian terdahulu.
  9. Simpulan dan Saran
  10. Daftar Rujukan/Acuan : sumber-sumber tulisan yang diacu dalam makalah ditulis di dalam daftar pustaka sesuai dengan gaya yang te;ah ditetapkan.
  11. Lampiran (jika ada)
E. Tahap Penyusunan Makalah

Penulisan makalah melalui tahap-tahap berikut:

  1. Memilih topik : topik ditentukan yang tidak luas dan tidak pula sempit, akan menuntun penulis untuk fokus. Sebagai contoh topik tentang mahasiswa (masih luas/ sangat umum). Jika tujuan penulisan memberi gambaran umum, topik tersebut sudah tepat. Namun, jika tujuannya menganalisis, topik itu perlu dipersempit menjadi mahasiswa berprestasi.
  2. Menentukan tujuan
  3. Membuat kerangka (outline)
    Tujuannya meletakan ide-ide tentang topik dalam format yang terorganisasi.