Daily Archives: May 22, 2017

Essay: Tugas 12

 
Makalah Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Bidang Pendidikan
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, dan Hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca.

Karya ilmiah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaannya.

Dalam penulisan karya ilmiah ini saya mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam penyusunan ini yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal kepada mereka amin yaa rabbal alamin.

Weleri, 24 Maret 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ………………………………………………………

DAFTAR ISI …………………………………………………………………

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang ………………………………………………………
Rumusan Masalah …………………………………………………..
Tujuan Penulisan ……………………………………………………
BAB II PEMBAHASAN

Pengertian TIK ………………………………………………………
Perkembangan TIK Dalam bidang Pendidikan ………………………
Peranan TIK dalam Pendidikan ……………………………………..
Dampak Positif dan Negatif TIK dalam Pendidikan ………………..
Cara Mencegah dampak Negatif dalam Pendidikan ………………..
BAB III PENUTUPAN

Kesimpulan ………………………………………………………….
Saran …………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………..

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini sangat berkembang di masyarakat. Umumnya Teknologi Informasi adalah sebuah teknologi yang dipergunakan untuk mengelola data, meliputi didalamnya: memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dengan berbagai macam cara dan prosedur gunak menghasilkan informasi yang berkualitas dan bernilai guna tinggi. Perkembangan TIK pun terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia. Dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi dapat memudahkan kita untuk belajar dan mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja.

Teknologi Informasi dan Komunikasi seakan telah mendarah daging didalam diri setiap manusia di era ini, Teknologi Informasi dan Komunikasi yang telah menglobal mampu mencakupi segala aspek yang ada dalam kehidupan. Seiring dengan kemajuan teknologi yang mengglobal telah terpengaruh dalam segala aspek kehidupan baik di bidang ekonomi, politik, kebudayaan, seni dan bahkan di dunia pendidikan. Dalam bidang pendidikan, TIK banyak memiliki peranan. Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuanm ilmu pengetahuan.Teknologi Informasi seakan telah menjadi pengalihfungsian buku, guru dan sistem pengajaran yang sebelumnya masih bersifat konvensional. Teknologi informasi menyebabkan ilmu pengetahuan menjadi kian berkembang dan berkembang. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi informasi sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini. Namun, TIK juga memiliki banyak kekurangan. TIK tidak hanya memberikan dapak positif, namun juga memiliki dampak negative terhadap kehidupan, salah satunya yang menonjol adalah di bidang pendidikan.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan yang akan diidentifikasi dalam makalah ini yaitu :

Apa Teknologi Informasi dan Komunikasi itu?
Bagaimana perkembangan TIK dalam bidang pendidikan?
Bagaimana peranan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam bidang pendidikan?
Apa saja dampak positif dan negatif TIK dalam bidang pendidikan
Bagaimana cara mencegah dampak negatif dari TIK dalam bidang pendidikan?
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata Pelajaran TIK, yaitu:

Untuk meningkatkan pengetahuan dalam memahami peranan, dampak positif dan dampak negatif TIK dalam bidang pendidikan
Untuk mengatahui solusi yang tepat dalam mengangani dampak negatif TIK dalam bidang pendidikan

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian TIK
Terdapat banyak pengertian mengenai TIK atau Teknologi informasi dan komunikasi, namun jika dapat disimpulkan dari berbagai sumber Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi adalah suatu padanan yang tidak terpisahkan yang mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar media

Namun, ada pula yang mengartikan bahwa, TIK adalah sebuah media atau alat bantu yang digunakan untuk transfer data baik itu untuk memperoleh suatu data / informasi maupun memberikan informasi kepada orang lain serta, dapat digunakan untuk alat berkomunikasi baik satu arah ataupun dua arah.

Perkembangan TIK dalam bidang pendidikan
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan teknologi secara umum adalah semua teknologi yang berhubungan dengan pengambilan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penyebaran, dan penyajian informasi. Jika dilihat pada saat sekarang ini perkembangan teknologi informasi terutama di Indonesia semakin berkembang. Dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi dapat memudahkan kita untuk belajar dan mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Dalam dunia pendidikan perkembangan teknologi informasi mulai dirasa mempunyai dampak yang positif karena dengan berkembangnya teknologi informasi dunia pendidikan mulai memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan. Banyak hal yang dirasa berbeda dan berubah dibandingkan dengan cara yang berkembang sebelumnya. Saat sekarang ini jarak dan waktu bukanlah sebagai masalah yang berarti untuk mendapatkan ilmu, berbagai aplikasi tercipta untuk memfasilitasinya.

Di Indonesia yang notabenenya sebagai negara berkembang dimana ketersediaan infrastruktur komunikasi yang masih minim mengakibatkan kesempatan setiap orang untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan menjadi terbatas. Ketersediaan infrastruktur ini sangat terasa di daerah-daerah yang proses memperoleh informasinya masih terbatas. Hal ini dikarenakan di Indonesia penyebaran teknologi informasi dan komunikasi belum merata, sekarang ini hanya di kota-kota besar sajalah yang dengan mudah menikmati dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Dengan demikian perkembangan pendidikan pun menjadi terhambat dan juga tidak merata.

Salah satu wadah yang dirasa paling berperan dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia saat ini adalah internet. Di Indonesia terutama yang berada di kota-kota besar sudah banyak masyarakat yang mempunyai akses internet, sehingga pemanfaatan internet sebagai salah satu media pembelajaran dan pencarian informasi dan pengetahuan dapat lebih maksimal walaupun akses internet di Indonesia belum sepenuhnya dapat dirasakan semua orang.

Informasi melalui media internet, bisa menjadi salah satu kunci untuk membuat dunia pendidikan di Indonesia mempunyai standar yang sama dengan negara lain. Dengan menggunakan media internet, pemerintah dan institusi pendidikan sudah mulai menerapkan pola belajar yang cukup efektif untuk diterapkan bagi masyarakat yang memiliki kendala dengan jarak dan waktu untuk mendapatkan informasi terutama informasi dalam dunia pendidikan. Salah satu metode yang mulai diterapkan yaitu pembelajaran distance learning. Metode distance learning merupakan suatu metode alternatif dalam pemerataan kesempatan dalam bidang pendidikan. Sistem ini diharapkan dapat mengatasi beberapa masalah yang ditimbulkan akibat keterbatasan tenaga pengajar yang berkualitas. Metode distance learning sangat membantu siswa atau masyarakat dalam mempelajari hal-hal atau ilmu-ilmu baru dengan tampilan yang lebih menarik dan mudah untuk dipahami. Dalam pengaksesan dan pemanfaatan metode ini, peran internet sangatlah diperlukan, karena melalui internet seseorang dapat mengirim file atau meng-upload file yang ingin dipublikasikan dan melalui internet juga seseorang dapat mengakses file yang ingin dicari. Selain metode distance learning, masih banyak metode-metode lain yang sangat membantu dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, diantaranya dengan adanya modul-modul pembelajaran gratis yang tersedia, portal pembelajaran online,dan lain-lain.

Jika kita melihat ke negara lain, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia bisa dibilang cukup tertinggal. Peran pemerintah sangat diharapkan untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia. Pemerintah diharapkan dapat menyamaratakan perkembangan teknologi informasi disemua daerah di negara ini. Pemerintah diharapkan dapat membantu daerah-daerah yang penyampaian proses informasinya masih minim dan tidak hanya fokus pada daerah atau kota-kota besar saja seperti yang terjadi pada saat sekarang ini, karena pada kenyataannya peran daerah dalam mendukung perkembangan teknologi informasi dan perkembangan pendidikan di Indonesia sangatlah penting.

Dengan belum meratanya penyebaran teknologi informasi akan berpengaruh terhadap proses perkembangan pendidikan. Hal ini dikarenakan peran teknologi informasi di dunia pendidikan sangatlah penting. Dengan adanya teknologi informasi segala macam ilmu pengetahuan dan informasi dapat diterima dan didapatkan dengan mudah dan cepat. Dalam kehidupan kita dimasa mendatang, sektor teknologi informasi dan komunikasi merupakan sektor yang paling dominan.

Peranan TIK dalam Pendidikan
Terdapat 6 Peranan TIK dalam bidang pendidikan, antara lain :

TIK sebagai skill dan kompetensi
Penggunaan TIK harus proporsional maksudnya TIK bisa masuk ke semua lapisan masyarakat tapi sesuainya dengan porsinya masing-masing.
TIK sebagai infratruktur pembelajaran
Tersedianya bahan ajar dalam format digital
The network is the school
Belajar dimana saja dan kapan saja
TIK sebagai sumber bahan belajar
Ilmu berkembang dengan cepat
Guru-guru hebat tersebar di seluruh penjuru dunia
Buku dan bahan ajar diperbaharui secara kontinyu
Inovasi memerlukan kerjasama pemikiran
Tanpa teknologi, pembelajaran yang up-to-date membutuhkan waktu yang lama
TIK sebagai alat bantu dan fasilitas pembelajaran
Penyampaian pengetahuan mempertimbangkan konteks dunia nyata
Memberikan ilustrasi berbagai fenomena ilmu pengetahuan untuk mempercepat penyerapan bahan ajar
Pelajar melakukan eksplorasi terhadap pengetahuannya secara lebih luas dan mandiri
Akuisisi pengetahuan berasal dari interaksi mahasiswa dan guru
Rasio antara pengajar dan peserta didik sehingga menentukan proses pemberian fasilitas
TIK sebagai pendukung manajemen pembelajaran
Tiap individu memerlukan dukungan pembelajaran tanpa henti tiap harinya
Transaksi dan interaksi interaktif antar stakeholder memerlukan pengelolaan back office yang kuat
Kualitas layanan pada pengeekan administrasi ditingkatkan secara bertahap
Orang merupakan sumber daya yang bernilai
TIK sebagai sistem pendukung keputusan
Tiap individu memiliki karakter dan bakat masing-masing dalam pembelajaran
Guru meningkatkan kompetensinya pada berbagai bidang ilmu
Profil institusi pendidikan diketahui oleh pemerintah.
Dampak Positif dan Negatif TIK dalam Pendidikan
Dampak Positif Teknologi Informasi dan Komunikasi di bidang pendidikan:

Informasi yang dibutuhkan akan semakin cepat dan mudah di akses untuk kepentingan pendidikan.
Inovasi dalam pembelajaran semakin berkembang dengan adanya inovasi e-learning yang semakin memudahkan proses pendidikan.
Kemajuan TIK juga akan memungkinkan berkembangnya kelas virtual atau kelas yang berbasis teleconference yang tidak mengharuskan sang pendidik dan peserta didik berada dalam satu ruangan.
Sistem administrasi pada sebuah lembaga pendidikan akan semakin mudah dan lancar karena penerapan sistem TIK.
Tidak diragukan lagi, transformasi informasi ini memiliki banyak manfaat positif, namun sayangnya juga membawa berbagai dampak negatif diantaranya:

Kemajuan TIK juga akan semakin mempermudah terjadinya pelanggaran terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) karena semakin mudahnya mengakses data menyebabkan orang yang bersifat plagiatis akan melakukan kecurangan.
Walaupun sistem administrasi suatu lembaga pendidikan bagaikan sebuah system tanpa celah, akan tetapi jika terjadi suatu kecerobohan dalam menjalankan sistem tersebut akan berakibat fatal.
Salah satu dampak negatif televisi adalah melatih anak untuk berpikir pendek dan bertahan berkonsentrasi dalam waktu yang singkat (short span of attention)
Cara Mencegah dampak Negatif dalam Pendidikan
Dampak negatif TIK diatas dapat dicegah dengan cara-cara berikut:

Menegakkan fungsi hukum yang berlaku, misalnya pembentukan chiber task yang bertugas untuk menentukan standar operasi pengendalian dalam penerapan teknologi informasi di instansi pemerintah. Hal ini meliputi keamanan teknologi, system rekap data, serta fungsi pusat penanganan bencana.
Menghindari penggunaan telepon seluler berfitur canggih oleh anak-anak dibawah umur dan lebih mengawasi pemakaian ponsel.
Televisi:
Mewaspadai muatan pornografi, kekerasan, dan tayangan mistis.
Memperhatikan batasan umur penonton pada film yang tengah ditayangkan.
Mengaktifkan penggunaan fasilitas Parental Lock pada TV kabel dan satelit.
Menghindari penempatan TV pribadi di dalam kamar.
Komputer dan internet:
Mewaspadai muatan pornografi digital (online maupun offline).
Mewaspadai kekerasan pada game.
Cek history browser pada computer anak untuk melihat apa saja yang sudah dilihatnya.
Menggunakan program filtering dan Parental Control.
Meletakkan computer pada tempat yang dapat diawasi, hindari penempatan computer di dalam kamar.
Jika terpaksa meletakkan computer dalam kamar anak, jangan melengkapinya dengan fasilitas internet.
Perbanyak buku yang bersifat edukatif di rumah.
Disamping Teknologi informasi memiliki manfaat yang sangat banyak. Tapi, selain itu masih banyak kendala dalam penerapan aplikasi teknologi informasi itu sendiri. Diantaranya :

Kurangnya ketersediaan sumber daya manusia
Belum memadainya infrastruktur telekomunikasi
Belum memadainya perangkat hukum yang mengaturnya
Memerlukan biaya yang cukup tinggi
Belum meratanya jaringan di seluruh Indonesia

BAB III

KESIMPULAN

Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang terus, bahkan dewasa ini berlangsung dengan pesat. Perkembangan itu bukan hanya dalam hitungan tahun, bulan, atau hari, melainkan jam, bahkan menit atau detik, terutama berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi yang ditunjang dengan teknologi elektronika. Dengan adanya teknologi informasi dan komunikasi dapat memudahkan kita untuk belajar dan mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Pengaruhnya meluas ke berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan.

Dalam dunia pendidikan perkembangan teknologi informasi mulai dirasa mempunyai dampak yang positif karena dengan berkembangnya teknologi informasi dunia pendidikan mulai memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan. Akan tetapi semua itu tidak terlepas dari sisi negatifnya. Menyikapi keadaan ini, maka peran pendidikan sangat penting untuk mengembangkan dampak positif dan memperbaiki dampak negatifnya. Pendidikan tidak antipati atau alergi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun sebaliknya menjadi subyek atau pelopor dalam pengembangannya.

Saran :

Menurut pendapat para pakar informasi, dampak negative dari berbagai fasilitas komunikasi, termasuk internet, sama sekali tidak dapat dipandang sebelah mata, karena dampak negatif tersebut sangat mempengaruhi aktivitas penggunanya. Maka dari itu dalam hal ini peranan orang tua pun sangat dibutuhkan dalam hal ini.

Dapat juga melakukan beberapa contoh solusi dibawah ini dalam menanggulangi beberapa dampak negative Teknologi Komunikasih yaitu;

Mempertimbangkan pemakaian TIK dalam pendidikan, khususnya untuk anak di bawah umur.
Tidak menjadikan TIK sebagai media atau sarana satu-satunya dalam pembelajaran.
Pihak-pihak pengajar baik orang tua maupun guru, memberikan pengajaran-pengajaran etika dalam ber-TIK agar TIK dapat dipergunakan secara optimal tanpa menghilangkan etika.
Perlu ada kesadaran peran dan kerjasama antara seluruh pengguna layanan TIK.
Menggunakan software yang dirancang khusus untuk melindungi ‘kesehatan’ anak.
letakkan komputer di ruang publik rumah, seperti perpustakaan, ruang keluarga, dan bukan di dalam kamar anak.
Untuk mencegah kecanduan, orang tua perlu membuat kesepakatan dengan anak soal waktu bermain komputer.
Pemerintah sebagai pengendali sistem-sistem informasi seharusnya lebih peka dan menyaring apa-apa saja yang dapat di akses oleh para pelajar dan seluruh rakyat Indonesia di dunia maya.

DAFTAR PUSTAKA

Cara Atau Solusi Untuk Menanggulangi Dampak Negatif Dalam Teknologi Informasi

pengertian TIK

Peranan TIK dalam Bidang Pendidikan

http://www.dedeyahya.com/2011/10/perkembangan-tik-di-bidang-pendidikan.html

MAKALAH DAMPAK TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) TERHADAP AKTIVITAS PENDIDIKAN

MAKALAH TIK DALAM BIDANG PENDIDIKAN

Pentingnya Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa merupakan media yang digunakan anggota suatu kelompok social untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan sebagai identitas diri. Bahasa dapat menggiring kita menembus ruang dan waktu. Melalui bahasa, kita dapat mempelajari ilmu pengetahuan, sejarah, maupun adat istiadat suatu bangsa dalam masa tertentu. Bahasa mampu merekam berbagai hal tersebut dalam bentuk lisan maupun tulisan. Semua itu merupakan fungsi bahasa yang telah lama diemban oleh bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional Negara Indonesia yang merupakan bahasa pemersatu. Bahasa Indonesia sudah diajarkan sejak tingkat SD, SMP, dan SMA. Oleh karena itu sebaiknya setelah jenjang SMA bahasa Indonesia sudah dikuasai atau setidaknya mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Bahasa Indonesia. Namun faktanya, masih sedikit mahasiswa yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia secara maksimal.

Alasan inilah yang membuat Dirjen depdiknas RI memutuskan memasukan Bahasa Indonesia sebagai salah satu mata kuliah yang wajib diajarkan di seluruh perguruan tinggi dan seluruh jurusan. Tujuannya untuk mengasah kemampuan berbahasa dan mengembangkan kepribadian para mahasiswa. Sudah menjadi suatu kewajiban bagi kita selaku Warga Negara Indonesia (WNI) untuk menguasai dan menerapkan bahasa Indonesia dalam kehidupan seharihari dengan baik dan benar, sehingga bahasa Indonesia dapat terjaga keasliannya.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia yang dikrarkan sejak 28 Oktober 1928 oleh para pejuang bangsa sampai dengan saat ini masih tetap eksis. Bahasa Indonesia sampai dengan saat ini masih dirasakan perannya dalam berbagai sendi kehidupan, antara lain sebagai alat komunikasi antarwarga dan antarmasyarakat Indonesia. Bahasa Indonesia masih tetap memegang peranan penting dan masih tetap merupakan kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya. Bukti menunjukkan bahwa bahasa Indonesia masih lebih dominan digunakan di dalam berbagai kegiatan, seperti rapat-rapat, siaran radio, TV, pidato kenegaraan, pidato politik, pelaksanaan administrasi kedinasan, dan bahasa pennngantar pada setiap level pendidikan. Bahkan saat ini, sebagian besar komunikasi tidak resmi antarwarga pun sudah sering menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan dengan bahasa daerah masing-masing. Bahasa Indonesia yang seharusnya menjadi bahasa kedua setelah bahasa daerah (bahasa ibu), kini justru bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa pertama, sedangkan bahasa daerah telah menjadi bahasa kedua bahkan telah menjadi bahasa ketiga (bahasa asing) bagi pemilikinya.

Bahasa Indonesia merupakan kebanggaan bagi bangsa Indonesia bukan hanya karena fungsinya sebagai alat komunikasi lisan dan tulis, tetapi juga secara objektif berfungsi sebagai: (1) alat pemersatu, (2) pemberi kekhasan, (3) pembawa kewibawaan, dan (4) kerangka acuan (Alwi 2000:15; HP Ahmad dan A. Alek; Muslich, 2010; Pateda dan Yennie P. Pulubuhu. 2007; Rahayu, 2007;Sugono, 2009; dan Widjono, 2010). Di samping itu Mendiknas (Bambang Sudibyo dalam Nurjamal dan Sumirat, 2010: 209), mengatakan bahwa Bahasa Indonesia tak hanya digunakan dan dipelajari di tanah air, tetapi juga telah tersebar dan telah dipelajari di berbagai perguruan tinggi mancanegara. Bukti menunjukkan bahwa bahasa Indonesia di samping dipelajari oleh penutur asing yang ada di Indonesia yang dikenal dengan BIPA, juga telah menjadi salah satu mata kuliah wajib di beberapa negara, antara lain Australia. Dalam hal ini bahasa Indonesia telah menjadi mata kuliah yang diminati. Masalahnya adalah bagaimana dengan kita bangsa Indonesia sebagai pemilik bahasa ini?

Sebagai pemersatu, bahasa Indonesia berfungsi menghubungkan antarsesama penutur berbagai dialek bahasa Indonesia. Sebagai pemberi kekhasan, bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Melayu Malaysia, bahasa Melayu Singapura, bahasa Melayu Brunai Darussalam, atau bahkan bahasa bahasa Indonesia sudah jauh berbeda dari bahasa Melayu Riau/Johor sebagai induk bahasa Indonesia. Sebagai fungsi kewibawaan perkembangan bahasa Indonesia dapat dijadikan teladan bagi bangsa-bangsa lain, seperti di Asia Tenggara atupun mungkin juga di negara-negara di Afrika, yang juga memiliki bahasa-bahasa yang moderen karna penutur bahasa Indonesia yang baik dan benar akan memperoleh kewibawaan di mata orang lain. Sebagai fungsi kerangka acuan, bahasa Indonesia akan selalu berkembang. Perkembangan itu selalu disepakati melalui hasil keputusan pertemuan-pertemuan khusus untuk membicarakan tentang bahasa Indonesia atau melalui kongres Bahasa Indonesia. Keputusan-keputusan yang telah disepakati di masarakatkan secara resmi, baik melalui media maupun melalui pembelajaran pada setiap jenjang sekolah.

Untuk memelihara, melindungi, dan mewujudkan bahasa Indonesia agar tetap dicintai dan digunakan oleh bangsa Indonesia, Pemerintah Republik Indonesia melalui Undang-Undang sistem pendidikan Nasional (SISDIKNAS) menetapkan bahasa Indonesia sebagai pengantar dalam setiap tingkatan pendidikan nasional. Hal itu tercantum dalam UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS, BAB VII, Psl 33 ayat 1 yang berbunyi ’’Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional’’. Sebagai implementasi dari UU SISDIKNAS tersebut, pemerintah menetapkan kurikulum Nasional dan Garis-Garis Besar Prorgram Pengajaran Bahasa Indonesia untuk setiap tingkatan sekolah yang ada di Indonesia.

Untuk melihat sejauh mana realisasi kecintaan, kesetiaan, dan kebanggan bangsa Indonesia sebagai pemilik terhadap bahasa Indonesia, maka pihak-pihak yang terkait (teutama yang bergerak dalam bidang pendidikan) telah menetapkan bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran wajib mulai dari tingkat SD, SMP, SMA/MA/SMK dan sebagai mata kuliah pengembangan kepribadian di PT yang wajib dicantumkan dalam kurikulum pada seluruh Jurusan/Prodi/Fakultas dan wajib diambil/diprogramkan oleh seluruh mahasiswa sampai lulus. Selanjutnya, bahasa Indonesia ditetapkan pula sebagai mata pelajaran/mata kuliah yang diujikan secara nasional (UAN/UN).

Masalahnya sekarang adalah apakah prospek penggunaan bahasa Indonesia oleh masyarakat Indonesia di era globalisasi ini masih sesuai dengan harapan sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya? Pertanyaan ini perlu dilontarkan, sebab dengan diberlakukanya perdagangan bebas antar negara, batas teritorial secara geografis menjadi tidak penting. Sekat-sekat teritorial tersebut selama ini mulai berangsur-angsur hilang dengan masuknya informasi secara bebas ke seluruh sudut ruangan yang ada di seluruh penjuru dunia. Menghadapi permasalahan ini mampukah bangsa Indonesia mempertahankan dan mengembagkan bahasa Indonesia di tengah pesatnya teknologi informasi dewsa ini? Agar bahasa Indonesia tetap eksis dipergunakan oleh masyarakat Indonesia perlu adanya upaya yang serius dan kerja keras dari seluruh bangsa Indonesia termasuk generasi muda (mahasiswa).

1.2 Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam penelitian ini adalah “Apa Manfaat Mempelajari Mata Kuliah Bahasa Indonesia Perguruan Tinggi?”

1.3 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar pembaca dan penulis dapat mengetahui apa sebenarnya manfaat mempelajari mata kuliah bahasa Indonesia bagi kita khususnya mahasiswa perguruan tinggi.

1.4 Manfaat

Setelah pembaca makalah ini, maka setidaknya pembaca akan memahami arti penting dari mata kuliah bahasa Indonesia, sehingga mata kuliah tersebut masih terus diajarkan bahkan sampai perguruan tinggi.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 .Pengertian Bahasa

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.

Sifat bahasa: (a) sistemis yaitu terdiri atas pola-pola yang beraturan dan saling berkaitan; (b) arbitrer yaitubentuk dan makna bersifat manasuka sesuai dengan masyarakat pemakainya; (c) konvensional yaitu bentuk dan makna ditentukan berdasarkan kesepakatan masyarakat pemakai; (d) dinamis yaitu bentuk dan makna berkembang/berubah sesuai perkembangan.

Bahasa dibentuk oleh kaidah aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan pada komunikasi yang terjadi. Kaidah, aturan dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat. Agar komunikasi yang dilakukan berjalan lancar dengan baik, penerima dan pengirim bahasa harus harus menguasai bahasanya.

2.2 Mata Kuliah Bahasa Indonesia Bagi Mahasiswa

Bahasa Indonesia merupakan produk bahasa yang lahir di bangsa Indonesia sendiri. Bahasa Indonesia tidak lahir begitu saja, namun juga melalui proses yang panjang. Bahkan hingga sekarang, bahasa Indonesia masih terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, setiap saat bahasa Indonesia dapat bertambah kosa katanya. Perkembangan zaman yang cepat terutama di era globalisasi ini menuntut bahasa Indonesia untuk selalu berbenah sehingga dapat menampung berbagai macam istilah-istilah baru yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia.

Bahasa ini digunakan untuk menyatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dikarenakan bangsa Indonesia sendiri terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang setiap suku tersebut memiliki bahasa daerah masing-masing. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk menyatukan bahasa-bahasa tersebut ialah melalui bahasa Indonesia

Berbagai macam fungsi bahasa Indonesia, salah satunya yang telah disebutkan di atas yaitu sebagai pemersatu bangsa. Selain itu ada beberapa fungsi bahasa Indonesia, salah satunya yaitu sebagai bahasa baku dalam penulisan karya ilmiah. Penulisan karya ilmiah dianjurkan untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun juga perlu diketahui, penulisan karya ilmiah tingkat internsional harus menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Meskipun demikian, karya ilmiah tersebut hendaknya juga ditulis dalam bahasa Indonesia agar anak negeri juga dapat mempelajari karya tersebut. Masih banyak lagi fungsi dari bahasa Indonesia, seperti menumbuhkan sikap nasionalisme, cinta produk sendiri (produk-produk Indonesia dan lain-lain), bahasa dalam forum formal, bahasa dalam kegiatan belajar mengajar, dan lain sebagainya.

Melihat dari berbagai fungsi di atas, maka Bahasa Indonesia perlu untuk dipelajari. Bahkan dari SD hingga perguruan tinggi, pelajaran dan kuliah bahasa Indonesia masih diberikan. Hal ini penting untuk mengenalkan dan melatih para siswa agar dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan benar.

Dalam maraknya era globalisasi masa kemajuan informatika dan komuniakasi setiap individu dituntut untuk menyumbangkan karya kreativitasnya dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Terutama bagi kalangan mahasiswa yang dituntut untuk selalu berkarya baik berbentuk tulis maupun non tulisan. Akan tetapi dalam dunia tulis menulis di kalangan mahsasiswa, masih banyak kerancuan-kerancuan yang menyimpang dari kaidahnya dalam tulisan-tuliasan. Apa lagi budaya menulis yang sesuai kaidah EYD sudah mulai terlupakan akibat dari kemajuan tekhnologi dan informatika yang bersifat instan. Selain itu gairah tulis menulis telah mengalami penurunan, sehingga tidak heran dalam kalangan mahasiswa lebih menyukai copy paste dari karya orang ataupun membeli karya orang yang diaku sebagai karyanya.

Padahal dengan kemajuan tekhnologi dan informatika, membuka lahan yang seluas-luasnya bagi manusia untuk terus berkarya dan menuangkannya segala bentuk kreativitasnya, terutama dalam bentuk tulisan. Misalnya dalam dunia internet tersedia berbagai informasi yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta wadah yang siap menampung segala kreativitas dan uneg–unegmanusia yang berupa tulisan seperti situs blog maupun jejaring social. Akan tetapi kebanyakan mahasiswa Indonesia masih mengenyampingkannya dan belum dapat menggunakannya secara maksimal sebagai media mempublik karya.

Gairah tulis menulis bagi mahasiswa Indonesia masih tergolong rendah. Dan adapun tulisan-tulisan yang dikaryakannya pun masih mengalami kerancuan bahasa yang menyimpang dari kaidah EYD. Untuk itulah perlu adanya mata kuliah bahasa Indonesia bagi mahasiswa.

Akan tetapi sudah tentunya mahasiswa yang telah melewati jenjang SD hingga SMA telah menerima pelajaran bahasa Indonesia dari A sampai Z. Dan apakah di perguruan tinggi ini hanya mengulangi materi yang teah disampaikan layaknya di sekolah-sekolah? Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, pada umumnya dosen mengajarkan kembali materi mata kuliah sebagai mana yang telah disampaikan para guru bahasa Indonesia di SD hingga SMA. Para dosen kembali mengajarkan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan, dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Tidak jarang mahasiswa diperlakukan seperti mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia di Fakultas Sastra dan Bahasa. Seolah-olah mereka dididik menjadi calon ahli bahasa atau calon sarjana Bahasa Indonesia. Oleh karena materi yang sama telah mereka peroleh sebelumnya, maka banyak mahasiswa baru yang mengikuti kuliah Bahasa Indonesia dengan setengah hati atau merasa sangat terpaksa, demi nilai atau indeks prestasi belaka. Sehingga tidak diherankan jika mahasiswa mengalami kejenuhan dalam belajar bahasa Indonesia. Akan tetapi apakah para mahasiswa telah mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik yang berupa tuliasan maupun lisan? Banyak riset yang memaparkan sebagaimana yang disampaikan oleh S. Sahala Tua Saragih dalam tulisannya “mahasiswa dan bahasai Indonesia” bahwa sebagian besar mahasiswa belum mampu menggunakan bahasa Indonesia secara lisan maupun tulisan dengan baik dan benar.

Untuk itu, mahasiswa non bahasa perlu dilatih secara intensif berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dan hal tersebut sudah menjadi konskwensi para dosen, baik dosen pengampu bahasa Indonesia maupun yang lain. Artinya, setiap dosen baik pengampu mata kuliah bahasa Indonesia maupun yang lain harus mampu mendidik para mahasiswa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam konteks ilmu atau program studi masing-masing. Dengan kata lain, setiap dosen harus mampu menjadi dosen Bahasa Indonesia. Selain itu para mahasiswa pun perlu mendapatkan pelatihan jurnalistik maupun berkarya ilmiah serta mendapatkan wadah untuk berkreasi mengeluarkan segala kreativitasnya. Sehingga nantinya dalam penulisan karya ilmiah, mahasiswa mampu membuat karya ilmiah dengan penuturan bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa adanya copy paste maupun plagiasi.

2.3 Pentingnya Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional negara Indonesia yang merupakan bahasa pemersatu. Bahasa Indonesia sudah diajarkan sejak tingkat SD, SMP, dan SMA. Oleh karena itu sebaiknya setelah jenjang SMA bahasa Indonesia sudah dikuasai atau setidaknya mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Bahasa Indonesia. Namun faktanya, masih sedikit mahasiswa yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia secara maksimal.

Di perguruan tinggi, kita akan mempelajari Bahasa Indonesia dimana kita dituntut untuk mempertahankan Bahasa Indonesia. Ini dituntut supaya tidak luntur oleh kalangan banyak pemuda dan pengaruh budaya asing yang cenderung mempengaruhi pikiran generasi muda.

Selain itu bahasa Indonesia itu penting untuk dipelajari diperguruan tinggi, dikarenakan di universitas setiap mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian, bahasa Indonesia sebagai panduan untuk penyusunan dan penggunaan tata bahasa yang baik dan benar dalam komunikasi ilmiah (skripsi, tesis, disertasi, dll), selain itu mempelajari bahasa Indonesia bagi mahasiswa di universitas sama halnya seperti mempelajari mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA, namun pembahasan di universitas lebih spesifik dan mendalam, dan sebagian besar mahasiswa masih tetap ingin mempelajari bahasa Indonesia dikarenakan agar mereka mampu bertata bahasa dengan baik dan benar.

Alasan inilah yang membuat Dirjen depdiknas RI memutuskan memasukan Bahasa Indonesia sebagai salah satu mata kuliah yang wajib diajarkan di seluruh perguruan tinggi dan seluruh jurusan. Tujuannya untuk mengasah kemampuan berbahasa dan mengembangkan kepribadian para mahasiswa. Sudah menjadi suatu kewajiban bagi kita selaku Warga Negara Indonesia (WNI) untuk menguasai dan menerapkan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari–hari dengan baik dan benar, sehingga bahasa Indonesia dapat terjaga keasliannya.

Dalam perguruan tinggi, kita akan sering membuat karya ilmiah. Bukan hanya karya ilmiah yang akan kita buat melainkan laporan praktikum, skripsi, thesis dan karya tulis lainnya. Di perguruan tinggi, kita akan mempelajari Bahasa Indonesia dimana kita dituntut untuk mempertahankan Bahasa Indonesia. Ini dilakukan supaya tidak luntur oleh kalangan banyak pemuda dan pengaruh budaya asing yang cenderung mempengaruhi pikiran generasi muda.

Di dalam mata kuliah Bahasa Indonesia, kita pasti mempelajari dan memahami arti pentingnya tata bahasa dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dalam pembuatan karya ilmiah dan sejenisnya. Setelah kita bisa memahami EYD dengan baik dan benar, kita akan bisa mengetahui konsep penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari dimanapun kita berada. Sebagai seorang mahasiswa, selayaknya kita menambah kosakata yang sesuai dengan keilmuan yang kita tekuni di perguruan tinggi. Kita harus bisa menggunakan diksi-diksi yang baik dan kalimat-kalimat yang efektif sesuai jenjang pendidikan, bukan seperti anak SMA dan SMP lagi.

Dalam suatu karya ilmiah, penggunaan bahasa memiliki arti yang sangat penting. Bahasa adalah alat komunikasi lingual manusia, baik secara lisan maupun tertulis. Untuk penggunaan bahasa dalam suatu karya ilmiah berarti menitikberatkan suatu bahasa sebagai alat komunikasi berupa tulisan. Karena itu, penggunaan bahasa dalam karya ilmiah sangatlah penting. Pengertian dari karya ilmiah sendiri adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan. Terdapat berbagai jenis karangan ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium , artikel jurnal, yang pada dasarnya kesemuanya itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan.

Nah, untuk di tingkatan perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah, seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir). Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari. Penyusunan laporan praktikum ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitian. Selain itu karena alasan di atas, terdapat beberapa hal lain yang membuat bahasa indonesia harus dijadikan mata kuliah di perguruan tinggi.

Dengan demikian, sangat penting untuk mengadakan mata kuliah Bahasa Indonesia di setiap perguruan tinggi selain karena bahasa indonesia merupakan bahasa negara kita sendiri dan sebagai bahasa pemersatu dengan cara ini juga kita secara tidak langsung telah melestarikan bahasa kita. siapa lagi yang akan melestarikan bahasa Indonesia ini kalau bukan kita sebagai warga negara itu sendiri.

2.4.Tujuan dan Manfaat Mata Kuliah Bahasa Indonesia

Diajarkannya mata kuliah Bahasa Indonesia di berbagai universitas dan perguruan tinggi memiliki tujuan umum yang meliputi:

Menumbuhkan kesetiaan terhadap bahasa Indonesia, yang nantinya diharapkan dapat mendorong mahasiswa memelihara bahasa Indonesia.
Menumbuhkan kebanggan terhadap bahasa Indonesia, yang nantinya diharapkan mampu mendorong mahasiswa mengutamakan bahasanya dan menggunakannya sebagai lambing identitas bangsa.
Menumbuhkan dan memelihara kesadaran akan adanya norma bahasa Indonesia, yang nantinya diharapkan agar mahasiswa terdorong untuk menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah dan aturan yang berlaku.
Selain tujuan umum, Mata kuliah Bahasa Indonesia ini juga memiliki tujuan khusus. Secara khusus mata kuliah ini bertujuan agar mahasiswa, calon sarjana, terampil dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik apakah itu secara lisan, ataupun tertulis, sebagai pengungkapan gagasan ilmiah.

Jika dilihat dari tujuan diberikannya mata kuliah ini sebenarnya cukup jelas apalagi di zaman seperti ini khususnya anak muda generasi penerus Bangsa saat ini kurang sadar akan pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kurang merasa bangga dengan bahasa nasional, contohnya adanya bahasa gaul yang malah lebih sering digunakan sehari-hari sampai diterbitkan pula kamus bahasa gaul, apakah ini berarti bahasa Indonesia sudah dilupakan? Maka dari itu dengan adanya mata kuliah bahasa Indonesia ini setidaknya mempunyai harapan untuk para penerus bangsa agar tidak pernah melupakan bahasa Ibu mereka, yaitu bahasa Indonesia.

Manfaat Mempelajari Bahasa Indonesia secara umum ini dilakukan untuk:

Menumbuhkan sikap bahasa yang positif terhadap bahasa Indonesia;
Menjadi bahasa pemersatu dari berbagai bahasa dari tiap daerah di Indonesia;
Kebanggaan terhadap bangsa Indonesia;
Kesetiaan akan bahasa Indonesia;
Meningkatkan kesadaran akan adanya norma dalam berbahasa dan secara khusus bertujuan untuk terampil berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
BAB III

PENUTUP

3.1 SIMPULAN

bahasa Indonesia itu penting untuk dipelajari diperguruan tinggi, dikarenakan Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu, karena di universitas setiap mahasiswa berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian, bahasa Indonesia sebagai panduan untuk penyusunan dan penggunaan tata bahasa yang baik dan benar dalam komunikasi ilmiah (skripsi, tesis, disertasi, dll), selain itu mempelajari bahasa Indonesia bagi mahasiswa di universitas sama halnya seperti mempelajari mata pelajaran bahasa Indonesia di SMA, namun pembahasan di universitas lebih spesifik dan mendalam, dan sebagian besar mahasiswa masih tetap ingin mempelajari bahasa Indonesia dikarenakan agar mereka mampu bertata bahasa dengan baik dan benar, bahasa Indonesia-pun penting untuk dilestarikan oleh penutur aslinya.

Melihat dari berbagai fungsi, maka Bahasa Indonesia perlu untuk dipelajari. Bahkan dari SD hingga perguruan tinggi, pelajaran dan kuliah bahasa Indonesia masih diberikan. Hal ini penting untuk mengenalkan dan melatih para siswa agar dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Dalam maraknya era globalisasi masa kemajuan informatika dan komuniakasi setiap individu dituntut untuk menyumbangkan karya kreativitasnya dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Terutama bagi kalangan mahasiswa yang dituntut untuk selalu berkarya baik berbentuk tulis maupun non tulisan. Akan tetapi dalam dunia tulis menulis di kalangan mahsasiswa, masih banyak kerancuan-kerancuan yang menyimpang dari kaidahnya dalam tulisan-tuliasan. Apa lagi budaya menulis yang sesuai kaidah EYD sudah mulai terlupakan akibat dari kemajuan tekhnologi dan informatika yang bersifat instan. Selain itu gairah tulis menulis telah mengalami penurunan, sehingga tidak heran dalam kalangan mahasiswa lebih menyukai copy paste dari karya orang ataupun membeli karya orang yang diakuI sebagai karyanya. Padahal dengan kemajuan tekhnologi dan informatika, membuka lahan yang seluas-luasnya bagi manusia untuk terus berkarya dan menuangkannya segala bentuk kreativitasnya, terutama dalam bentuk tulisan. Misalnya dalam dunia internet tersedia berbagai informasi yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta wadah yang siap menampung segala kreativitas dan uneg–uneg manusia yang berupa tulisan seperti situs blog maupun jejaring social. Akan tetapi kebanyakan mahasiswa Indonesia masih mengenyampingkannya dan belum dapat menggunakannya secara maksimal sebagai media mempublik karya.

3.2 Saran

Diharapkan makalah ini dapat mengingatkan pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya bahwa bahasa Indonesia perlu dipelajari, karena dengan cara ini juga kita secara tidak langsung telah melestarikan bahasa kita. Siapa lagi yang akan melestarikan bahasa Indonesia ini kalau bukan kita sebagai warga Indonesia itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Subro, seno.1998. Seri Bahasa Indonesia. Semarang: CV Aneka ilmu

Muslich, Masnur. 2010. Bahasa Indonesia pada Era Globalisasi: Kedududkan, Fungsi, Pembinaan, dan Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara

Rahayu, Mnto. 2007. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian. Jakarta: PT Grasindo

RENDAHNYA MINAT MENULIS DI KALANGAN MAHASISWA

(FAKTOR PENYEBAB, DAMPAK, DAN SOLUSI)

DISUSUN OLEH:

Muhaimin Anashir Nasuha (D0112060)

ILMU ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2012

DAFTAR ISI

Halaman Sampul ……………………………………………………………………………… i

Daftar Isi …………………………………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah ……………………………………………………………………. 1
Rumusan Masalah …………………………………………………………………. ……….. 3
Tujuan Penulisan ……………………………………………………………………………… 4
BAB II PEMBAHASAN

Faktor penyebab ………………………………………………………………………………. 5
Dampak yang ditimbulkan ……………………………………………………………….. 8
Solusi mengatasinya ………………………………………………………………………… 9
BAB II PENUTUP

Kesimpulan ……………………………………………………………………………………. 12
Saran …………………………………………………………………………………………….. 13
Daftar Pustaka ………………………………………………………………………………… 14

Lampiran ……………………………………………………………………………………….. 16

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Menulis merupakan kegiatan yang tidak asing lagi bagi manusia. Bahkan kegiatan menuilis sudah diajarkan oleh orang tua kita semenjak kita kecil. Menulis juga dapat diartikan sebagai menuangkan ide atau gagasan yang ada di pikiran kita. Kegiatan menulis juga diterangkan dalam kitab suci Al-Qur’an yaitu pada QS. Al Qamar: 53

Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.
Ayat diatas menerangkan bahwa kegiatan menulis sangat penting kegunaanya. Namun sekarang, menulis seakan-akan menjadi kegiatan yang membosankan bagi berbagai kalangan, termasuk bagi kalangan mahasiswa. Kegiatan menulis bagi sebagian mahasiswa merupakan kegiatan yang membosankan, bahkan menulis juga dianggap kegiatan yang membuang waktu. Menulis bagi kalangan mahasiswa hanya dilakukan pada waktu tertentu saja, misalnya pada saat ujian serta hanya untuk menggugurkan kewajiban yakni pada saat mahasiswa diberi tugas oleh dosennya seperti mengerjakan tugas akhir semester dan sebagainya.

Menurut Kepala Balai Bahasa Bandung, Abdul Khak (2011) rendahnya minat menulis membaca juga dipengaruhi oleh rendahnya minat membaca seseorang. Ia juga mengatakan bahwa membaca merupakan kegiatan untuk mencari referensi bagi kegiatan menulis. Jika kegiatan tersebut tidak dilakukan oleh seseorang atau mahasiswa maka untuk menulis pun tidak akan berhasil. Ia juga menegengeluhkan tentang rendahnya minat dan kualitas mahasiswa dalam menulis, “Kualitas dan kemampuan menulis mahasiswa saat ini cenderung rendah. Ini juga membuktikan bahwa, minat membaca mahasiswa sekalipun rendah,” ujar Abdul.

Rendahnya minat menulis berdampak pada jumlah publikasi karya imliah yang masih kalah dengan negara-negara lain. Jumlah karya ilmiah Indonesia bahkan hanya sepertujuh dari negara tetangga yaitu Malaysia (Dirjen Dikti. 2012). Demikian pula jika dilihat dari jumlah penduduknya pertumbuhan karya tulis Indonesia sejak tahun 1996 hingga 2010 masih dibawah negara-negara lain.

Menulis penting bagi mahasiswa, yaitu sebagai sarana untuk menghilangkan stress dan untuk menyegakan pikiran (Kompasiana.com). Selain itu menulis juga berfungsi untuk melatih kekritisan mahasiswa yang tidak ada waktu untuk turun ke jalan terhadap suatu hal yang menjadi suatu permasalahan di masyarakat. Kita semua tahu mahasiswa disebut-sebut sebagai “agent of change” atau agen perubahan yang memilki kekritisan terhadap ketidakadilan di masyarakat atau di lingkungan di mana dia berada. Terkadang menulis dapat dijadikan sebagai senjata atau sarana yang paling efektif untuk menciptakan perubahan di masyarakat.

Rumusan Masalah
Apa saja faktor yang menyebabkan rendahnya minat menulis di kalangan mahasiswa?
Apa saja dampak yang timbulkan akibat rendahnya minat menulis di kalangan mahasiswa?
Bagaimana upaya atau solusi untuk mengatasi rendanya minat menulis di kalangan mahasiswa?
Tujuan Penulisan
Mengidentifikasi faktor apa saja yang menyebabkan rendahnya minat menulis di kalangan mahasiswa.
Mendeskripsikan dampak apa saja yang ditimbulkan oleh rendahnya minat menulis di kalangan mahasiswa.
Mendeskripsikan upaya atau solusi untuk mengatasi rendahnya minat menulis di kalangan mahasiswa.
BAB II

PEMBAHASAN

Faktor Penyebab Rendahnya Minat Menulis di Kalangan Mahasiswa
Menulis merupakan kegiatan menuangkan pikiran atau gagasan, atau fakta dalam bentuk tulisan (Sumarwati & Suryanto 2008:15). Menulis dan Mahasiswa merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Selain sebagai kegiatan dalam mengerjakan tugas-tugas mereka, menulis juga dapat digunakan dalam mengkritisi suatu ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat sebagaimana mahasiswa juga berfungsi sebagai “agent of change”. Rendahnya minat menulis di kalangan mahasiswa perlu mendapat perhatian khusus baik oleh para dosen, orang tua serta bagi mahasiswa itu sendiri. Adapun beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat menulis di kalangan mahasiswa adalah sebagai berikut:

Menulis merupakan kegiatan “aktif” sehingga kurang diminati
Tidak dapat dipungkiri penyebab rendanya minat mahasiswa dalam menulis adalah kegiatan menulis merupakan kegiatan yang aktif sehingga memerlukan energi, ruang, dan waktu serta akhirnya menimbulkan kesan di pikiran mahasiswa bahwa menulis merupakan kegiatan yang membosankan. Berbeda dengan membaca, membaca merupakan kegiatanya yang pasif sehingga dapat dilakukan di mana saja. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Balai Bahasa Bandung, Abdul Khak (2011), “Kalau menulis itu orang butuh energi yang lebih ketimbang membaca karena kegiatan aktif. Kalau membaca bisa dilakukan di mana saja, bisa di rumah sambil santai atau dalam angkutan umum ketika dalam perjalanan,”.

Takut jika tulisannya dinilai jelek
Hal ini timbul karena ketidakpercayaan seseorang atau mahasiswa terhadap kemampuannya dalam menulis. Mereka selalu menganggap bahwa kemampuannya di bawah orang lain. Ketakutan yang diakibatkan ketidakpercayaan seseorang terhadap tulisannya akan menghambat daya kreatfitas dan kekritisan. Serta ketidakpercayaan seseorang terhadap hasil karyanya akan menimbulkan tindakan yang tercela yaitu plagiarisme yang merugikan dirinya dan orang lain.

Kesulitan dalam mencari ide karya tulis
Ada kalanya seseorang memiliki hasrat atau keinginan untuk menulis, namun belum atau tidak memiliki ide. Hal ini dapat terjadi jika seseorang tidak/kurang memilki informasi tentang hal yang ingin dia kaji.

Kesulitan dalam memulai suatu penulisan
Hal ini dapat terjadi dikarenakan seseorang atau mahasiswa dalam hal ini tidak mengetahui langkah-langkah atau kerangka dalam penulisan. Seseorang yang tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana kerangka penulisan yang baik akan menyebabkan alur dalam suatu karya saling tumpang tindih sehingga menyebabkan suatu karya menyebabkan bingung bagi seseorang yang hendak membacanya.

Malas Membaca
Malas membaca merupakan suatu “penyakit” bagi seluruh manusia termasuk mahasiswa itu sendiri. Menurut Abdul (2011), mustahil seseorang bisa menulis kalau yang bersangkutan tidak suka membaca karena kedua kegiatan saling beriringan. Sejauh ini, kata dia, pihaknya memang belum mengantongi data pasti terkait rendahnya minat membaca serta menulis. Namun, kecenderungan tersebut sudah dapat diidentifikasi dari jumlah pengunjung perpustakaan per hari dan frekuensi kunjungan.
“Perpustakaan menjadi indikator kecenderungan tersebut, selain toko buku tentunya. Karena tidak ada alasan bagi yang haus membaca, sekalipun tidak ada uang. Dia bisa datang ke perpustakaan misalnya,” katanya. Selain itu rendahnya minat (malas) dalam membaca juga dapat membuat seseorang tidak memiliki wawasan sehingga karya tulis yang dimiliki kurang disenangi oleh pembaca.

Pembelajaran yang dilakukan oleh dosen
Rendahnya minat menulis di kalangan mahasiswa juga dipengaruhi oleh faktor pembelajaran yang dilakukan oleh dosen. Kita akui tingkat proses pembelajaran yang dilakukan oleh dosen akan berpengaruh langsung pada kualitas dan minat menulis mahasiswa. Ada beberapa kebiasaan yang harus diubah oleh dosen (Tatang:2012), antara lain:

a) Proses pengajaran yang dilakukan oleh kebanyakan guru/dosen hanya terbatas pada memberikan
b) Kompetensi/tujuan pengajaran kebanyakan masih terbatas pada ranah kognitif dan psikomotor tingkat rendah, kurang menekankan pada aspek kognitif tingkat tinggi, seperti ketajaman analisis dan evaluasi,
c) Kurang menumbuhkembangkan kreativitas, kemandirian belajar, dan berkembangnya aspek-aspek afektif pelajar.
d) Materi pengajaran kurang berorientasi pada bidang ilmu, hasil penelitian lapangan, dan kebutuhan jangka panjang.
e) Guru/dosen menggunakan pola pembelajaran yang cenderung sama dari tahun ke tahun. Perubahan kurikulum tidak memberikan dampak pada perubahan materi ajar, metode, dan strategi pembelajaran.
Dampak Yang Ditimbulkan Akibat Rendahnya Minat Menulis di Kalangan Mahasiswa
Ada beberapa dampak yang ditimbulkan akibat rendahnya minat menulis di kalangan mahasiswa. Beberapa dampak yang dihasilkan dampat berpengaruh bagi pihak-pihak luar. Adapun dampak yang ditimbulkan antara lain:

Menurunnya tingkat kreatifitas dan kekritisan mahasiswa
Rendahnya minat mahasiswa akan membuat kreatifitas dan kekritisan pada mahasiswa menurun. Hal ini akan membuat mahasiswa tidak dapat mengkaji dan menganalisis suatu ketidakadilan yang terjadi di masyarakat, sehingga mahasiswa tidak lagi dianggap sebagai “agen of change”.

Berpengaruh terhadap peringkat universitas
Kita tahu bahwa jumlah publikasi karya ilmiah atau karya tulis yang dimiliki oleh suatu universitas akan berpengaruh terhadap peringkat suatu universitas itu sendiri. Seperti pada tabel diatas ( ) terlihat jelas bahwa Indonesia masih rendah dalam publikasi karya ilmiah dibanding negara-negara lain, bahkan kita masih kalah dengan Malaysia. Hal ini pun juga akan berdampak pada pandangan negara lain terhadap tingkat kecerdasan negara kita.

Fungsi mahasiswa sebagai pengawal kebijakan pemerintah akan semakin hilang/kabur
Berbicara tentang Pemerintah tentu akan ada kaitannya dengan mahasiswa. Ya, mahasiswa selain sebagai civitas akademika juga sebagai pengawal suatu kebijakan yang akan diimplementsikan oleh Pemerintah. Selain turun ke jalan, menulis merupakan salah satu cara yang efektif untuk menyampaikan pendapat. Jika tingkat menulis mahasiswa dalam menulis rendah, maka yang terjadi adalah tidak adanya “social control” kepada kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Kita tahu sendiri bahwa “Mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat”.

Solusi Mengatasi Rendahnya Minat Menulis di Kalangan Mahasiswa
Mengubah paradigma mahasiswa bahwa menulis itu menyenangkan
Paradigma yang melekat di benak mahasiwa tentang menulis kebanyakan adalah membosankan. Oleh karena itu diperlukan suatu kebijakan yang dapat merubah paradigma atau “image” mahasiswa terhadap menulis. Oleh karena itu sebenarnya Balai Bahasa Pusat beserta cabang-cabangnya di seluruh Indonesia telah giat dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan minat menulis. Kegiatan tersebut mengarah pada kolaborasi kegiatan membaca dan menulis, seperti menceritakan kembali isi buku melalui tulisan, dan menanggapi pemberitaan di surat kabar dengan menuliskannya ke dalam bentuk surat.

Memotivasi mahasiswa agar percaya diri kepada hasil karyanya
Hal ini perlu dilakukan agar para mahasiswa terus terpacu untuk menulis. Karena jika tidak didorong dengan suatu motivasi maka kegiatan menulis hanya berjalan di tempat dan tidak mengalami perkembangan dan perbaikan. Dengan adanya semangat dari mahasiswa dalam menulis kita dapat mengetahui bagaimana dan sejauh mana mereka dapat menyerap pembelajaran yang diberikan oleh para dosen.

Mencari informasi serta pengalaman
Mencari informasi terhadap suatu peristiwa atau permasalahan yang ada akan merangsang mahasiswa berpikir tentang ide yang akan dituangkan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Serta terjun ke masyarakat akan lebih memudahkan mahasiswa dalam mencari ide yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah. Karena secara langsung dan tidak langsung kita pun akan merasakan bagaimana menjadi bagian dari masyarakat dan permasalahannya. Dengan berawal dari pengamatan atau bacaan itulah biasaanya ide penulisan muncul dengan mudah.

Membuat kerangka tulisan
Membuat kerangka tulisan akan lebih mempermudah kita dalam menulis. Karena di dalamnya terdapat langkah-langkah yang akan memudahkan kita dalam menulis serta membuat tulisan kita lebih tersusun dengan baik. Berikut ini adalah contoh langkah-langkah menulis (PUSTEKKOM:2005):

Menentukan topik
Mengumpulkan bahan sesuai topik
Menuangkan ide yang berhubungan dengan topik dalam bentuk kerangka besarnya
Mengembangkan kerangka menjadi uraian kalimat yang lengkap
Membaca kembali tulisan sekaligus membetulkan dan merapikan urutan sajian secara logis dan berurutan.
Mendorong mahasiswa untuk giat membaca
Saya rasa tidak ada jalan lain untuk memperoleh ilmu tanpa membaca. Untuk itulah membaca merupakan elemen penting dalam peningkatan minat menulis bagi mahasiswa. Tidak mudah memang untuk mendorong seseorang untuk membaca selain karena faktor lingkungan yang kurang mendukung kegiatan tersebut, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang memungkinkan seseorang untuk mengakses hal-hal yang tidak penting namun hal ini (mendorong mahasiswa untuk membaca) harus dilakukan demi terciptanya generasi yang lebih baik lagi.

Memperbaiki model pembelajaran (Tatang:2012)
Memperbaiki proses pembelajaran menulis untuk meningkatkan kualitas

karya tulis pelajar, pada era sekarang ini, merupakan langkah yang tepat dan strategis. Alasannya, upaya ini sejalan dengan kebijakan Menteri Pendidikan Nasional RI No.17 tahun 2010 tentang pencegahan dan penanggulangan plagiat di Perguruan Tinggi, dan Peraturan Dirjen Dikti No.152/E/T tahun 2012 tentang kebijakan publikasi ilmiah pada jurnal ilmiah bagi pelajar calon sarjana (persyaratan kelulusan). Guru/dosen harus mau memperbaiki mindset-nya. Guru/dosen harus mau berkolaborasi dan mau sharing dengan guru/dosen lain serta terbuka menerima berbagai perbaikan untuk meningkatkan kulaitas pembelajarannya. Diantara upaya yang disarankan untuk memperbaiki masalah di atas adalah dengan mengimplementasikan Lesson Study dalam pembelajaran. Lesson Study sudah diakui banyak pihak dapat merubah budaya pembelajaran yang dilakukan guru/dosen, dan meningkatkan keprofesionalannya, yang pada akhirnya akan meningkatnya kemampuan belajar siswa/pelajar.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Beberapa faktor penyebab rendahnya minat menulis di kalangan mahasiswa antara lain:
Menulis merupakan kegiatan “aktif” sehingga kurang diminati
Takut jika tulisannya dinilai jelek
Kesulitan dalam mencari ide karya tulis
Kesulitan dalam memulai suatu penulisan
Malas Membaca
Pembelajaran yang dilakukan oleh dosen
Beberapa dampak yang ditimbulkan akibat rendahnya minat mahasiswa dalam menulis antara lain:
Menurunnya tingkat kreatifitas dan kekritisan mahasiswa
Berpengaruh terhadap peringkat universitas
Fungsi mahasiswa sebagai pengawal kebijakan pemerintah akan semakin hilang/kabur
Beberapa solusi untuk mengatasi rendahnya minat mahasiswa dalam menulis antara lain:
Mengubah paradigma bahwa menulis itu menyenangkan
Memotivasi Mahasiswa agar percaya diri kepada hasil karyanya
Mencari informasi serta pengalaman
Membuat kerangka tulisan
Mendorong mahasiswa untuk giat membaca
Memperbaiki model pembelajaran (Tatang:2012)
Saran
Bagi kalangan mahasiswa
Mahasiswa harus menyadari posisinya sangat kompleks selain sebagai insan akademik juga sebagai “penyambung lidah” bagi rakyat ke pemerintah. Dalam mengontrol suatu kekuasaan atau kebijakan tidak harus dengan cara yang anarkis. Kita dapat melakukannya dengan menulis. Untuk itu diperlukan keseriusan dan niat yang tulus untuk mengubah negara ini meskipun “hanya” lewat goresan tinta pada suatu event-evemt seperti LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah), Essay, PKM (Progam Kreatifitas Mahasiswa) dan lain-lain. Namun itu semua kembali kepada keseriusan masing-masing pribadi mahasiswa dalam menyikapi hal yang ada.

Bagi para dosen
Hendaknya jadilah dosen yang dapat memotivasi mahasiswanya dalam memperoleh prestasi. Serta didukung proses pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sehingga mahasiswa dalam belajar dan minat menulis semakin bersemangat pula.

DAFTAR PUSTAKA

Wedhaswary, I.D. (2011). Tradisi Menulis Lebih Rendah Daripada Minat Baca. Diperoleh pada 21 Desember 2012, dari http://www.kompas.com

Pustekkom (Pusat Teknologi dan Komunikasi). 2005. Menulis Itu Mudah. Diperoleh pada21 Desember 2012, dari http://soerya.surabaya.go.id

Pratama, K.S. (2012). Kurangnya Minat Mahasiswa Dalam Menulis. Diperoleh pada 21 Desember 2012, darihttp://akuhanya-inginmenulis.blogspot.com

Sayyari, R. (2012). Rendahnya Minat Baca Dan Tulis di Kalangan Mahasiswa. Diperoleh pada 3 Desember 2012 dari http://kompasiana.com

Tatang.2011. Perkembangan Keterampilan Menulis pada Anak Usia Dini. Jurnal Bahasa dan Sastra. ISSN 1412-0712 Vol. 11 No.2 Oktober 2011.

Kementrian Pendidikan Nasional. (2012). Panduan Program Perluasan Lesson Study Untuk Penguatan LPTK Bach V tahun 2012.Diperoleh pada 25 November 2012 dari http://www.dikti.go.id

Kementrian Pendidikan Nasional. (2012). Presentasi Sosialisasi Kebijakan Publikasi Ilmiah Pada Mahasiswa. Diunduh tanggal 15 Mei 2012, dari http://www.dikti.go.id

Sifilia, A.A. (2011). Meningkatkan Keterampilan Menulis di Kalangan Pelajar. Diperoleh pada 3 Desember 2012, dari http://ambar-sifilia.blogspot.com

Suryanto, E & Sumarwati. 2008. Modul Praktik Bahasa Indonesia. Surakarta

Sukarmin, Y dkk. (2011). Peningkatan Kemampuan Menulis Ilmiah Populer bagi Guru Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar (PPM Universitas Negeri Yogyakarta). Diperoleh pada 25 Desember 2012, pada http://staff.uny.ac.id

Al-Qur’an. QS. Al Qamar: 53

Assignment 14

Pertanyaan

Ini Assignment 13 yang harus dikerjakan…….dengan sepenuh hati……….

Silakan submit Quisioner dosen berikut ini

QUIZ DOSEN

https://docs.google.com/a/raharja.info/forms/d/184XQPxigRA2TZRmjBslnFYf8PfpplpUjwJe_KB7X7wU/viewform

Status – 100% tercapai

Keterangan – sudah mengerjakan assigment 14 dan submit form kuesioner

Pembuktian

Link IMe – http://bl103.ilearning.me/2017/05/22/assignment-14-bp/

Link SKUP – bl103.ilearning.me/2017/02/06/bimoprakoso-1611493748-skup/

Jawaban

Tugas 12

Instruction :

Carilah karya tulis ilmiah (judul bebas) berupa jurnal atau makalah yang berhubungan dengan

1.Teknologi Informatika dan komputer
2.Pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi
3.Meningkatkan kemampuan dan kemauan menulis di kalangan pelajar dan mahasiswa
Postingkan ke tiga karya tulis tersebut di iMe.

Keterangan :

saya sudah mengerjakan tugas 12

status :

tercapai

Bukti :

1.Teknologi Informatika dan komputer

Sumber : http://i-makalah.blogspot.co.id/2013/02/makalah-pendidikan-berbasis-teknologi.html

 

2.Pembelajaran Bahasa Indonesia di perguruan tinggi

Sumber : http://www.academia.edu/7497748/Pentingkah_Pembelajaran_Bahasa_Indonesia_di_Perguruan_Tinggi_http_rofhiah.blogspot.com_

 

3.Meningkatkan kemampuan dan kemauan menulis di kalangan pelajar dan mahasiswa

Sumber : https://lilisajili72.wordpress.com/2014/01/24/meningkatkan-kemampuan-menulis-siswa-melalui-blog/